"Persiapkan segalanya secepat mungkin. Aku akan mengikuti kontes kecantikan itu." Titah Pangeran Willy pada Penasehat Kerajaan.
"Baik, Pangeran. Saya mohon izin kembali ke aula istana..." Ujar sang penasehat dengan penuh takzim.
Pangeran Willy mengangguk dengan elegant. Sang Penasehat Kerajaan kemudian meninggalkan Pangeran Willy sendirian di ruang kerjanya.
Kerajaan sedang mengadakan kontes kecantikan untuk memilih putri terbaik dan tercantik sebagai pendamping hidup Pangeran Willy.
Pangeran Willy tiba-tiba saja secara rahasia meminta Penasehat Kerajaan melibatkan dirinya dalam ajang bergengsi itu.
Namun Sang Pangeran memiliki ide yang unik. Ia ingin dirinya terlibat langsung sebagai kontestan agar bisa secara langsung mengenali para putri cantik yang nantinya akan mengikuti kontes itu.
Itu artinya, Pangeran Willy akan menyamar sebagai seorang putri dari sebuah kerajaan lainnya.
Dengan begitu Pangeran Willy akan dapat berinteraksi langsung dengan kontestan lainnya dan secara diam-diam ia akan mengetahui sifat-sifat asli mereka yang sesungguhnya.
Bagi Pangeran Willy, kecantikan fisik bukanlah segalanya. Kecantikan hati adalah yang paling utama.
Pangeran Willy telah memiliki data-data kontestan di tangannya. Semua putri itu terlihat cantik sempurna. Namun Pangeran Willy tidak ingin terkecoh dengan penampilan luar para Putri Kerajaan tersebut.
Sang Pangeran sudah tidak sabar untuk bisa segera berinteraksi langsung dengan mereka, bukan sebagai seorang laki-laki. Namun sebagai seorang perempuan.
***
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Ini adalah hari pertama para Putri Kerajaan datang berkunjung ke Kerajaan Pangeran Willy.
Semua Putri Kerajaan tersebut terlihat cantik, anggun, dan berwibawa. Mereka berkumpul di aula kerajaan dengan wajah gembira.
Pangeran Willy berhasil menyamar dengan sempurna. Penata rias kerajaan berhasil menyulap penampilan Pangeran Willy menjadi seorang gadis yang cantik jelita.
Pangeran Willy merasa puas sekali dengan penampilannya saat ini. Dia yakin sekali para Putri Kerajaan yang ada di situ tidak akan ada yang menyangka bahwa dirinya adalah seorang laki-laki.
Semuanya terlihat mudah, akan tetapi bergerak selayaknya wanita yang anggun dan feminim ternyata bukan hal yang mudah.
Pangeran Willy sudah cukup berlatih tetapi tetap saja tubuhnya tidak bisa bergerak luwes seperti wanita pada umumnya. High heels yang dikenakannya sungguh menyiksa betisnya.
"Sial... Ternyata jadi banci sulit juga..." Pangeran Willy merutuk dalam hati.
"Hahaha... Tuan Putri, anda terlihat lucu sekali." Tiba-tiba seorang putri dengan gaun merah muda nyelutuk dari sisi kiri ruangan aula.
Spontan semua mata tertuju pada Pangeran Willy yang sedang menyamar. Pangeran Willy mencoba tersenyum ramah.
"Bagaimana kamu bisa menari jika berjalan saja sekaku itu? Hahaha..." Seorang putri lainnya ikut menimpali.
Beberapa putri kerajaan yang ada di aula tertawa terbahak-bahak. Pangeran Willy berusaha tetap tenang walaupun dia sesungguhnya sudah mulai merasa kesal dengan mereka.
Pangeran Willy lalu duduk di sebuah kursi kosong di samping seorang putri yang mengenakan gaun berwarna biru lembut. Putri itu tersenyum manis pada Pangeran Willy.
"Hai... Perkenalkan aku Putri Viona." Sang Putri mengulurkan tangannya.
"Ehemmm..." Pangeran Willy berdehem pelan dan menyalami Putri Viona.
Pangeran Willy mengatur nada suaranya agar tak terdengar seperti suara laki-laki.
"Salam kenal, Putri Viona. Aku Putri Wilda." Ucap Pangeran Willy.
"Anda cantik sekali, Pangeran tentu akan tertarik dengan anda. Tetap semangat ya..." Bisik Putri Viona.
Pangeran Willy tersenyum tipis. Dia merasa Putri Viona sepertinya berbeda dengan gadis-gadis lain yang ada di aula.
"Hemmm... Apakah anda tidak ingin memenangkan kontes ini, Putri Viona? Anda juga cantik sekali." Tanya Pangeran Willy.
"Entahlah... Sejujurnya aku tidak terlalu berambisi. Tapi tidak mungkin kami mengabaikan undangan dari kerajaan, bukan?" Putri Viona berkata sambil tersenyum.
"Oh... Apakah anda sudah punya calon sendiri?" Pangeran Willy mengedipkan sebelah matanya.
"Hahaha... Tidak juga." Sahut Putri Viona.
Pangeran Willy semakin penasaran. Sungguh Putri Viona terlihat semakin menarik di matanya.
"Boleh aku tahu alasannya?" Desak Pangeran Willy.
Putri Viona mengangguk pelan dan berkata dengan lemah lembut, "Tentu saja...".
"Aku belum pernah bertemu dengan Pangeran Willy. Aku tidak tahu apakah Pangeran Willy adalah sosok laki-laki yang baik atau seperti pangeran-pangeran lain pada umumnya..." Jelas Putri Viona dengan nada sedih.
"Oh begitu..." Ujar Pangeran William.
"Iya... Buat kita para wanita, yang paling penting adalah laki-laki yang baik. Tidak peduli siapa dia." Kata Putri Viona.
"Pria baik hati dari kalangan biasa tetap lebih baik dari seorang pangeran yang semena-mena." Sambung Putri Viona.
Pangeran Willy terkesima mendengar penjelasan Putri Viona. Putri Viona telah memberi warna khusus di hatinya.
Penasehat Kerajaan telah memasuki aula dan membacakan maklumat khusus dari Raja terkait kontes kecantikan yang akan segera dimulai.
Semua putri yang ada di aula menyimak dengan seksama. Pangeran Willy melirik ke arah Putri Viona.
Putri Viona membalas lirikan mata Pangeran Willy dengan kedipan matanya. Gadis itu kemudian menggenggam hangat tangan Pangeran Willy.
"Tenang saja... Kamu pasti bisa menunjukkan penampilan yang terbaik." Putri Viona menyemangati Pangeran Willy dengan tulus.
Pangeran Willy tersenyum tipis.
"Kamu sepertinya adalah kandidat terbaik..." Pangeran Willy berkata dalam hati.
***TAMAT***