Kerajaan Kertajaya kini tengah bersiaga, sebab kerajaan Kertapura tengah bersiap merebut daerah kekuasaanya. Kertapura dengan sengaja mengklaim, tanah yang milik kerajaan Kertajaya yang terletak dipinggir perbatasan antar dua kerajaan itu adalah milik Kertapura.
Tentu Raja Kertajaya tidak terima dan melakukan rencana akan menyerang balik kerajaan Kertapura. Raja tentu yakin bahwa Kertapura dengan sengaja mencari gara-gara agar terjadi perang. Mereka mengira bahwa Kertajaya akan tumbang dan kalah mengingat mereka di dominan oleh perempuan, bahkan raja tidak memiliki anak laki-laki yang akan dijadikan pangeran. Mereka hanya memiliki anak perempuan dan kini menjadi putri kerjaan.
Tentu Putri tidak tinggal diam dengan berita peperangan yang ayahandanya sampaikan. Dengan yakin Putrj mengajukan diri untuk memimpin peperangan tersebut. Dari kecil Putri sudah berlatih perang, menembakan anak panah dan memainka pedang adalah keahlian sang Putri.
Dengan setrategi yang matang dan kelompok perang yang sudah telatih. Sang Putri dengan bangga memimpin peperangan. Pertumpahan darah tidak lagi bisa dielakan.
Dengan lihai Putri memaikan pedang dan anak panah yang ia bawa di punggungnya. Sesuai yang Putri perdiksi bahwa ia akan memenangkan peperangan tersebut. Sang Putri dengan segala kepiawaianya memaksa mundur kerajaan Kertapura.
Setelah banyak prajurit yang tumbang dan kekuatan semakin tepojokan akhirnya Kertapura melambaikan bendera putih sebagai simbol bahwa mereka menyerah.
Karena kesombongan dan keangkuhan kerajaan Kertapura mereka harus mengakui bahwa kerjaan Kertajaya memang tangguh. Biarpun Sang Putri yang memimpin peperangan, tetapi buka berati mereka lemah dan kalah.
Putri dengan bangga tersenyum menyambut kemenangan, setelah Kerajaan Kertapura kalah. Kini kerajaan Kertajaya hidup damai dengan rakyat yang makmur. Begitupun kerajaan Kertapura, hidup dengan damai dan tidak lagi mencari gara-gara serta merendahkan kerajaan lain.