Ardiningrum adalah seorang putri raja Gading yang memerintah di kerajaan Anggabaya. Ardiningrum sangat terkenal sebagai wanita pemberani di jaman perang melawan Belanda. Setelah ayahandanya wafat, secara otomatis Ardiningrum mengambil alih peran raja Gading melindungi kerajaan dan rakyat Anggabaya.
Pada suatu hari, Ardiningrum mendapat pesan dari pihak penjajah yang ingin menguasai tanah Anggabaya.
"Selagi ayahanda masih hidup mereka memasang muka yang baik dan menawarkan kerja sama kini setelah aku yang menggantikan ayahanda, mereka malah menantangku. Hah, jika kita kalah maka seluruh kerajaan ini akan dikuasai kaum durjana itu dan itu tidak boleh terjadi. Baiklah aku terima tantangan mereka, jangan dikira karena aku seorang perempuan, tidak berani melawan bangsa penindas itu. Paman Patih, siapkan 50 prajurit di perbatasan dan 250 prajurit berkuda di belakangku!" titah Ardiningrum.
"Sendiko dawuh, tuan putri," sahut paman Patih.
Ardiningrum sengaja membiarkan 50 prajurit saja yang berangkat duluan, ia dan pasukan berkuda lainnya menyusul setelah memperkirakan para pasukan terdahulu telah sampai di arena perang.
Dari jauh Ardiningrum melihat pertarungan yang tidak imbang dengan hati miris. Bagaimana tidak? Tentaranya hanya dibekali pedang panjang, tombak dan bambu runcing. Berbeda dengan pihak lawan yang menggunakan senjata api serta meriam.
Saat perlawanan pihak musuh mulai mengendor, "Mundur!" Perintah Ardiningrum melihat prajuritnya telah banyak yang tumbang dan terluka.
"Sekarang seraaaang!"
Jleb, jleb ... jleb, jleb, jleb. Bunyi anak panah dari 250 prajurit berkuda serentak melesat mengenai pihak lawan. Tidak butuh waktu lama, semua pasukan musuh yang sudah kehabisan amunisi meregang nyawa tanpa banyak perlawanan.
"Huh, sudah kubilang ... jangan menganggu kerajaanku, jangan coba-coba merebut tanah Anggabaya, karena aku putri Ardiningrum akan berjuang sekuat akal dan tenaga hingga titik darah penghabisan demi kesejahteraan rakyatku."
Putri Ardiningrum memerintahkan sebagian prajuritnya untuk membawa pulang pasukan pertama yang terluka dan yang meninggal di makamkan dengan layak dan sebagian prajurit yang lain lagi dititahkan menjarah semua senjata milik Belanda serta membakar seluruh mayat jenazah penjajah yang angkuh itu.
Rakyat Anggabaya pun bersorak gembira atas kemenangan mereka dibawah pimpinan putri Ardiningrum.