"Ayah." Aku mencengkeram lengan ayahku dengan keras. Dia sedang berdiri di balik tirai putih depan jendela kamar. Tatapannya begitu kosong, hingga membuat diriku merasa sangat ketakutan.
Brakkkkk.
Tidak ada badai, tidak ada hujan. Tiba-tiba rak buku yang masih kokoh itu roboh dan membuat buku-buku jatuh berserakan. "Aaaa." Aku menjerit, dan menutup telingaku rapat-rapat. Aku memeluk punggung ayahku dan menenggelamkan kapala di sana.
"Ayah, apa yang sudah terjadi padamu?" Aku terisak dan mencoba membangunkan ayah yang sudah kaku seperti sebuah patung. Aku mengintip dari sela-sela bajunya dan kemudian melihat matanya yang masih terbuka lebar, tidak dapat berkedip.
Aku memundurkan langkah dengan tubuh yang terus menerus gemetaran tanpa henti. Selangkah demi selangkah ahirnya tubuhku menabrak tembok di belakang.
Sungguh aku tidak bisa percaya, tembok tempatku bersandar ternyata bergerak dan terbuka. "Hah." Aku menoleh ke belakang dan melihat sebuah Dunia lain. Pikiranku terus memaksa untuk masuk ke dalam dunia itu demi menguak sebuah rasa penasaran.
"Kemarilah, nak." ucap wanita paruh baya yang duduk di atas kursi bak seorang ratu. Disana terdapat banyak pelayan yang sedang memuja wanita tersebut.
Lain dengan kerajaan ataupun istana Presiden. Di dunia itu tidak ada karpet merah yang tergelar di sepanjang jalan, bahkan tembok pun tidak ada.
"Sebenernya, aku sedang ada di mana?" batinku bingung.
"Kau tidak perlu bingung wahai putriku, kau sedang berada di Rumahmu sendiri." kata wanita itu.
Tidak mungkin, ternyata dia bisa membaca batinku. Aku terus mengamati wanita itu, dia sepertinya tidak memiliki tongkat atau pun sihir seperti ratu-ratu di dalam film legenda.
Pakaiannya juga tidak terbuat dari kain, daun, atau besi. Entah apa yang menutupi tubuhnya, seperti sebuah pasir pantai dengan campuran sorot cahaya biru.
"Kemarilah, ibu akan memberi tahu semua yang sedang kau pikirkan sekarang." perintahnya, terpaksa aku harus menuruti agar bisa tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Nginggggggggggg.
Suara ini sangat menusuk gendang telingaku, aku memejamkan mata dengan kuat. Dan seketika itu aku melihat sebuah bayangan di mataku.
"Apa ini?"
"Terus pejamkan matamu, maka semua pertanyaan akan terjawab satu persatu."
Bayangan hitam itu, terlihat seperti sebuah film dalam televisi. Namun bedanya kalau di televisi masih ada warna dan suara, lain dengan bayangan hitam ini.
"Cukup."
Aku membuka kelopak mata, entah bagaimana caranya aku sudah bisa memahami bayangan hitam tadi. Ternyata di sana menceritakan bahwa aku adalah gadis penghukum ayahku di dalam dunia manusia.
Tetapi karena masa hukuman sudah usai, jadi aku bisa kembali ke dalam duniaku. Ayah manusiaku dulunya adalah seorang lelaki bejad yang pernah menghamili seorang wanita tak berdosa. Bayi yang dilahirkan oleh wanita itu adalah diriku.
Aku diserahkan kepada Ayah, hingga membuatnya hidup tersiksa, sebatang kara dan membanting tulang demi membiayai kehidupanku.
"Hiks." tak terasa air mata sudah mengalir deras di pipiku. Aku mengusapnya perlahan dan menatap Dewi hukum.
"Dewi, aku sudah mencintai ayahku. Dia mau menjagaku hingga saat ini, jadi aku mohon kembalikan aku ke dunia manusia." Aku merengek, berharap Dewi hukum akan mengabulkan permintaanku.
"Tidak mungkin, nak. Aku akan bersikap tidak adil padanya. Hukuman dia telah usai, jika kamu hadir kembali maka dia akan terus mengurusmu tanpa henti. Biarkan dia membangun masa depan yang lebih indah lagi."
"Tapi biarkan aku hidup disampingnya, aku ingin melindungi dan menemaninya meski tidak terlihat."
Dewi hukum tersenyum, dia berdiri dan mendekatiku. telapak tangannya di letakkan tepat di atas kepalaku.
"Pergilah, lindungi ayahmu dari mata jahat, kau sudah tidak terlihat oleh mata manusia."
Aku terbang kembali ke dalam dunia manusia. "Apa ayah tidak akan mencariku? sebaiknya aku hilangkan saja semua ingatan manusia tentang kejelekan ayah dan adanya diriku di sini."
Cling...
Tamat..