Ran pov.
Aku duduk termenung di bangku taman belakang sekolah, menunggu kedatangan Kazu-senpai yang entah menepati janjinya atau tidak. Konyol memang aku menunggunya disini tanpa kepastian. Mengingat Kazu-senpai sangat sibuk dengan para gadisnya.
Ku hela nafasku panjang. Menunggu adalah hal yang paling di benci olehku. Tapi aku juga benci membuat orang lain menunggu kedatanganku. Aku lebih suka tepat waktu.
Disini bukan hanya aku sendiri. Sedari tadi ada seorang lelaki yang duduk di seberang bangku ku.
Tatapan mataku tertuju pada parasnya.
Wajah tampan, hidung mancung, matanya yang coklat bagaikan musim gugur.
Menenangkan.
Tanpa aku sadari, aku menatap pria itu lama. Entah karena ada magnet atau seperti dialah objek yang pas untuk aku abadikan. Aku sama sekali tidak menyianyiakan pemandangan indah didepanku ini.
Namun, aku tersentak saat matanya membalas tatapan mataku.
deg
deg
Hati ku berdesir karenanya. Pipi ku pun merona. Padahal dia hanya membalas tatapan mataku saja. Tapi kenapa rasanya sangat hangat?
Mungkinkah?
Aku menyukainya?
"H-hei Ran! Gomen.. hah.. aku telat." Ucap Kazu-senpai sambil tersengal-sengal.
Ku lirik Kazu-senpai yang baru datang. Ku sunggingkan senyum tipis.
"Iie.. senpai, daijoubu desu."
"Gomenne hehe.." ucapnya lagi di selingi tawa canggung.
"Ha'i ha'i.." balas ku singkat.
Ku lirik lagi ke tempat dimana lelaki itu duduk.
Namun..
Aku tak menemukannya disana.
Bangku itu kosong.
Kira-kira... kemana ia pergi?
Aku pun meninggalkan taman bersama Kazu-senpai.
Dalam hati aku berdoa.
Semoga aku bertemu dengannya lagi.
Aku tersenyum tipis saat mengingat doa ku tadi. Geli, mengapa aku berharap bertemu dengannya lagi?
End.