Ada satu titik paling terakhir menghilangkan rasa sesak dalam diri, meluapkan semua emosi yang bersemayam dalam raga, menghapus setiap sisa goresan luka yang mendalam, menyelam jauh didasar jiwa yang malang, atau mungkin saja mematikan satu rasa yang mengusik.
AIR MATA.
Jatuh saat tergores benda tajam, sangat deras ketika bathin terluka, susah dihentikan karena rasa yang terpendam, diperlukan diwaktu yang tepat, dijadikan sahabat kala tak ada lagi pendengar yang baik.
Wahai TANGIS yang tak pernah padam di setiap malam sebelum aku tertidur.
Santika adalah nama lengkap ku, dan Sinta adalah nama yang biasa di panggil orang-orang setiap hari.
Usiaku menginjak 25 tahun tepat di bulan Agustus ini, setiap cerita selalu ada dalam perjalanan hidupku yang terasa kosong tak berisi. Tak ada yang istimewa, dan tak ada yang bisa aku banggakan.
Aku tipe orang yang mudah tersentuh, apa saja yang bersifat sensitif pasti tanpa sadar air mataku jatuh mengalir. Akan sangat deras jika itu menyangkut hati, dan akan biasa saja jika itu hanya seputar kehidupan setiap hari.
Semua orang beranggapan Aku adalah wanita yang Kuat, terlihat sangat Mandiri, sisi Dewasa yang sangat menonjol. Sikap tegas dan mudah di ajak bicara. Itulah yang suka orang-orang jabarkan tentang diriku.
Banyak yang bilang jika tertawa berarti kita bahagia, dan ada juga yang mengatakan kalau menangis sudah pasti karena masalah.
Setiap apa yang aku lakukan kadang mudah di salah pahami oleh sebagian orang, tak heran mulut mereka sering mencibir ke arahku. Berkata seolah aku bukan wanita yang bisa memiliki segalanya, takan bisa melakukan apapun, setiap apa yang menurutku jelas sudah benar tapi bagi mereka semua masih salah.
Terkadang aku merasa ketika ada yang ingin dekat dengan ku, entah itu hanya sekedar teman biasa atau karena ada sesuatu yang tersimpan jauh di dalam hati mereka, kadang membuat ku sulit membedakan mana yang benar-benar tulus dan mana yang hanya di saat tertentu saja mau mendekat.
TANGISAN MALAM.
Siapa yang akan menyadari jika sosok yang selalu tersenyum seakan tanpa masalah justru menyimpan rasa sakit dengan luka teramat dalam dan menganga. Sulit untuk sembuh, dalam setiap waktu tertentu air mata tanpa di minta jatuh menetes.
Akal sehat yang nyaris kehilangan sisi kewarasan berusaha menelan pil pahit kehidupan, tidak ada yang mengerti dan memahami bagaimana keadaan hati ku yang selalu memikirkan bagaimana caranya untuk MATI.
Semua yang aku lakukan sekedar menyembunyikan luka, menjadi alat pelampiasan sebuah hasrat yang tidak ada ujungnya.
Aku terluka, hati ku telah di hancurkan dan rasa ku telah mati begitu lama.
Setiap tetesan air mata yang keluar tidak mampu menyembuhkan luka yang terlanjur melebar, luka tapi tak berdarah.