Aku berjalan dalam dunia ku yang hitam. Sendirian tanpa siapa siapa. Kehidupan ku yang sudah di hancurkan oleh Semua orang, Kini aku hanya bisa Menatap langit sambil membayangkan hal yang aku benci.
Teriakan anak anak itu padaku sangat menyakitkan, Hatiku di pukul sampai menjadi Debu. Apalagi saat melihat orang yang aku nantikan selama hidupku, meninggalkan ku begitu saja. Dunia ku sudah lengkap, lengkap akan kegelapan.
Aku masih menatap matahari yang mulai tenggelam di dekat Jurang ini. Melihat Sisi lain dari tempat itu sudah mengelap. Air mataku mulai menetes dan membuat hatiku hancur juga tenang.
Air mata mulai menetes dan ingatan buruk menghantui ku. Mungkin kalian tidak tau bahwa hatiku benar benar hancur, entah saat dunia mengejekku ataupun membuat diriku malu.
Beberapa orang mungkin tidak tau. Bahwa ucapan mereka terkadang menyakiti hati orang lain. Apalagi saat mengatakan tentang Keluarga. Bercerita tentang kebahagiaan mereka. Tanpa sadar bahwa aku sendiri di sini. Keluarga ku yang aku cintai ku tidak pernah menganggap ku ada.
Aku hanya anak terbuang yang tidak berguna. yang tidak diharapkan oleh siapa siapa.
Aku ingin bercerita pada temanku. Namun, aku tidak bisa karena mereka semua itu sama. Manis diluar busuk di dalam. Tidak ada yang namanya teman setiap. Jika pun kalian menemukan nya. Aku bertaruh sampai kapan mereka akan setia padamu?
Aku sering berharap mama dan papa ku memeluk ku dan mengatakan bahwa mereka bangga punya putri seperti ku. Pacar teman nyata bukan fiksi. Gadis pendiam yang diejek semua orang tidak pernah ada.
Namun, aku sadar tidak semuanya itu bisa sesuai dengan yang aku mau. Impian belum tentu terwujud dan mungkin juga tidak bisa terwujud. Aku mengusap air mataku dan melihat dunia ini sudah mengelap.
Raungan Serigala liat terdengar dari tebing Tinggi di depan ku. Menatap bulan besar yang tidak dapat di raih. Seandainya ini bukan, aku. Mungkin bisa menjadi lebih baik.
Aku menyesal selalu menjaga ucapan dan tindakan ku. Menjaga hati dan perasaan orang yang tidak bisa menjaga hatiku.
Impian yang aku punya sejak kecil, Terbang terbawa angin malam. Mengingat ucapan ayah ku padaku Semalam.
"Seandainya kamu tidak pernah ada di dunia ini. Kehidupan keluarga kami akan jauh lebih baik. Aku menyesal telah membesarkan anak tidak berguna seperti mu."
"Aku menyesal telah melahirkan anak yang tidak bisa apa apa. Bahkan kakak dan adik mu memiliki keberhasilan lebih dari mu."
"Lihat kakak mu. Dia menjadi Sarjana terbaik. Dan lihat adik mu, Dia aktif mengikuti lomba dan mendapatkan nilai yang terbaik. Apa kamu tidak malu. Semua nilai mu 8!"
"Lihat Gadis bodoh itu. Tidak tau dia mirip siapa. Keluarga nya sangat pandai. Apakah dia anak Angkat??"
"Cewek pendiam gk guna."
"Mati aja lah kamu. Beban!!"
"Dasar Cewek Gila. Beban dunia."
"Mati sana. Loo Hidup atau pun mati juga gk akan ada yang dirugikan."
Apakah benar aku harus mati. Jika memang tidak ada yang merasa butuh aku. kenapa aku masih ada di sini. Aku tidak pantas untuk hidup di dunia ini kan? Dunia ini terlalu kejam untuk ku.
Aku menatap Jurang di depanku. Beberapa orang pun menemukan ku. Mereka menatap ku dalam kondisi air mata yang mengalir.
"BOM AKHIRNYA KALIAN MENEMUKAN KU!" ucapku sambil tertawa.
Aku melihat wajah ayah dan ibuku Yang mulai menetes kan air mata khawatir. Polisi dan juga saudara ku. Teman teman ku menatap dan memalingkan wajahnya saat melihat Tubuhku penuh luka. Darah yang mengalir dari Lengan kanan dan kiri ku. Bekas memar merah di dahi ku karena ayah mendorong ku ke tembok pagi tadi.
"Ayo pulang sayang. Maafkan kami kumohon. Kami salah telah mengatakan itu." Suara mama yang lembut dengan air mata yang mengalir di matanya.
"kakak ayo pulang."
Suara lembut pelan mereka membuat ku seperti mendapatkan cinta. Namun mereka sudah mengusirku mana mungkin aku kembali.
Tanpa bicara aku menatap mereka dengan senyuman. Berjalan mundur langkah selangkah. Aku melihat Kepanikan di wajah semua orang yang tidak pernah kulihat selama ini.
"MATI SAJA KAMU!!!!!" ucapan yang terdengar jelas dalam benak ku.
"Sayang tidak jangan. Tidak!!!!!"
Aku terjatuh dengan senyum Dan air mata. Kulihat Ayahku yang berusaha meraih ku namun Gagal. Mereka menangis dan mamaku kehilangan kendali. Bahkan kulihat Mama memukul ayah yang sudah terkapar lemah. Kakak ku yang begitu ku sayang memeluk adikku dengan cinta dan air mata. Teman teman dan pacarku, Termenung tak bergerak.
Aku melihat semua itu dari langit. Merek ternyata pembohong yang hebat. Mereka bilang tidak butuh aku, nyatanya mereka merindukan ku bahakan sampai 1000 hari kematian ku.