Sabtu malam, cerah langit beriaskan purnama serta bintang-bintang bertaburan dalam gelap Udin masih sama seperti biasanya duduk sendiri di pos ronda bertemankan gitar lusuh yang tiap kali digunakan bergantian setiap orang yang ikut serta nongkrong Senda gurau di pos. Ia memetiknya pelan-pelan menghayati setiap nada yang dihasilkan gitar seolah ia menjadi satu dalam nada itu.
Tap...tap...suara derap langkah pak tua mendekati pos.
"Dikit-dikit kau selalu merenung Din" ucap pak tua pada Udin yang tengah asyik dengan gitar
Pak tua : kau lihat, langit bernuansa hiasan bulan dan bintang berbinar, sepertinya seceria itu langit menertawakan mu
Udin : huft..,iya yaa..pak
Pak tua : hmm... kau selalu berpikir pendek Din, bisa juga langit itu merias diri dengan bulan dan gemintang cerah guna menghibur mu bahwa kau sudah cukup hebat sejauh ini.
Udin : matanya berbinar, bibirnya tersenyum lebar, mengangguk mantap dan memasang badan tegar.
Pak tua : lagi-lagi kau seperti itu Din, mungkin juga langit tak memperdulikan mu dan ia merias diri seolah cuekin dirimu entah susah atau senang, ia sama sekali tak peduli tentang mu.
Udin : matanya merah bara, menghembuskan nafas kasar dan gemeretak giginya.
Pak tua : semakin keras terkekeh, alam saja kau salahkan, lantas bagaimana sikap seseorang yang bertolakbelakang denganmu, Din.
"Jika kau mampu menilai sesuatu apapun itu dari segi positif, Maka kau akan memperoleh ketenangan dan tak akan menjadikannya sebuah permasalahan" tambah pak tua.