Pagi itu, cuaca amat cerah, sinar surya menampar jendela kaca kamarku, cahayanya menepis pelupuk mata hingga memaksaku untuk membukanya.
Ini kisahku, seorang pemuda yang memiliki dua sahabat yang sangat dekat, tapi jarang bisa berkumpul. Karena kami sudah disibukkan dengan rutinitas kami masing-masing sebagai pemuda yang sudah beranjak dewasa untuk meraih cita-cita dan masa depan.
Aku dan kedua sahabatku adalah satu dari sekian banyaknya persahabatan yang terjadi di dunia ini. Kami menjuluki diri kami, Tiga Serangkai. Awalnya, kami hanyalah anak sekolahan yang kenal begitu saja.
Namanya juga anak-anak, pasti inginnya terus bermain. Aku, Andi, dan Anul bertemu ketika kami masih SD. Karena berbeda sekolah, sebenarnya kami jarang bertemu. Sekali bertemu hanya ketika bulan Ramadan. Dan ketika itulah, kami sering mengobrol seputar kartun, game, dan lain sebagainya.
Hingga tanpa kami sadari, kami pun beranjak dewasa dan sudah memasuki masa-masa SMA. Namun sayangnya, kami masih jarang bisa berkumpul. Aku bersekolah di SMA, Anul di SMK, sedangkan Andi masuk pesantren yang ada di Kota Bontang. Kami masih bertemu hanya ketika bulan Ramadan saja.
Kami mulai menyadari kalau ternyata hubungan kami sudah lebih dari sekadar teman. Kami saling bertukar pikiran, bercanda, menolong satu sama lain, dan terkadang kami juga saling melakukan hal-hal yang cukup aneh. Contohnya seperti saat kami bertaruh siapa yang bakal dapat pacar lebih dulu. Tanpa kami sadari, ternyata Anul sudah memiliki pacar sebelum kami membuat taruhan itu. Hingga aku dan Andi merasa dibodohi oleh Anul.
Setiap tahunnya, kami selalu mengambil sebuah foto. Dan ketika kami sedang berjauhan, aku suka memandang foto kami bertiga. Begitu indahnya persahabatan kami ini. Walaupun kami jarang bisa berkumpul, tapi aku ingin dan yakin sekali kalau tiga serangkai tidak akan pernah terpisahkan.
Aku ingin kedua sahabatku sukses dengan pendidikan yang sedang mereka tempuh. Mereka juga ingin aku sukses dengan segala usaha dan perjuanganku yang ingin menjadi seorang pengusaha. Jika kelak kami sudah sama-sama sukses, kami akan berkumpul tanpa harus menunggu bulan Ramadan tiba. Mungkin saja nanti kami bisa berkumpul sesuka hati kami.