[Fantasi,Game] Wondertale Update
Author: Rifkira
Pagi yang sibuk di sebuah guild petualang kota, entah kenapa hari ini seakan banyak sekali orang yang datang. Terlebih wajah mereka namak asing, mereka sepertinya bukan warga lokal.
Aku Zen Wikia, seorang petualang tingkat perak. Aku datang ke guild ini untuk mengambil misi, dan menghasilkan uang. Namun…,
"Pembasmian goblin? Ini misi pemula kan?" Aku mengajukan keluhan pada admin mengelola misi, Renata.
"Banyak pendatang baru dengan skill mumpuni, tugas untuk petualang tingkat perak sudah habis." Ucapnya.
Sungguh aneh, datang dari mana mereka ini? Kota terdekat dari sini terletak tiga hari perjalanan. Apa mereka datang dari Rovan? Bukankah jalur yang dilewati banyak monster yang berbahaya? Ini sangat membingungkan.
Aku pun mengambil misi pembasmian goblin. Memang ini mudah bagiku, namun uang yang didapat cukup untuk makan dan sewa penginapan malam ini.
Hutan Rovan merupakan daerah berbahaya di timur kota. Namun tidak lama setelah aku memasukinya, seorang gadis berambut merah panjang tengah kesulitan menghadapi kumpulan goblin.
Terlihat bahwa gadis itu memegangi tongkat sihir. Batu kristal di ujung tongkatnya bersinar dan mengeluarkan api, namun,
"B…bagaimana cara menggunakan ini!" Para goblin mengepung gadis itu, yang tampak kebingungan dengan jurusnya sendiri.
"Nona menunduk…!"
Aku melompat dan melakukan tusukan dengan pedang, tepat ke bagian leher goblin itu. Dengan cepat aku berdiri di depan gadis itu, menghadap para goblin yang mulai liar.
Melihat situasi yang kian terjepit, tidak ada cara lain kecuali menggunakan jurus itu.
"Thunder Slash!"
Aku mengalirkan mana pada Ravensword milikku, aura ungu dengan kilatan petir menyelimuti bilah pedang yang diikuti dengan Sambaran guntur yang menghujam para goblin hingga menimbulkan ledakan besar.
Duar…!
Ledakan itu cukup kuat untuk menggosongkan para goblin, aku pun menyarungkan kembali pedangku, lalu menoleh pada gadis itu yang tampaknya masih ketakutan.
"Nona kau baik-baik saja?" Tanyaku seraya mengulurkan tangan.
"Game apa ini? Terlihat sangat nyata!"
Gadis itu berteriak dengan mengeluarkan kata-kata aneh, air matanya berlinang membasahi pipi dan tubuhnya gemetar ketakutan. Namun yang paling membuatku heran adalah ucapan gadis itu yang begitu aneh,
"Game? Apa maksudmu?"
'Entah kenapa gadis ini berbicara sesuatu yang tidak bisa dimengerti, apakah dia dari negeri yang jauh?' Pikirku.
Tidak lama kemudian seseorang memanggil dari belakang, gadis berambut coklat pendek dengan senjata tameng yang cukup besar di punggungnya.
"Bella!" Panggil gadis itu sambil berlari mendekat.
"Sissy!"
Tampak mereka berdua begitu akrab, ini mengejutkan, karena gadis yang baru saja aku tolong berteman dengan seorang petualang tingkat platinum.
"Ya ampun, sudah kubilang jangan kemana-mana sebelum aku login!" Ucap gadis bernama Sissy marah akan sesuatu.
"Habisnya aku terbawa suasana oleh game VR yang kau sarankan,"
VR = Virtual Reality
Bella pun berbalik lalu merengkuhkan tubuhnya,
"Aku Bella dan ini temanku Sissy, terimakasih sudah menolongku!" Ucapnya.
"Aku Zen, itu sudah bagian tugas seorang petualang." Jawabku agak sedikit canggung.
"Update game Wondertale kali ini sungguh menakjubkan! NPC kali ini bisa berinteraksi seperti pemain!" Sissy terkesima dan menatapku dengan mata yang berbinar.
NPC? Dalam hati aku sedikit penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.
NPC = Non Player Character
Aku sama sekali tidak mengerti, game VR? Login? NPC? Apakah itu monster jenis baru? Tidak ada satupun di benakku yang terpikir makhluk apa yang mereka berdua bicarakan.
Setelah menyelesaikan misi, aku kembali ke kota dan memberikan laporan pada Renata. Namun guild kali ini begitu ramai hingga aku kehabisan tempat duduk.
Terlihat dua gadis yang aku temui tadi pagi, tengah berdiri dan melihat papan misi. Dengan rasa penasaran aku pun menghampiri mereka.
"Yo…! Kalian akan mengambil misi hari ini?" Tanyaku pada mereka berdua.
"I…iya, maukah kamu bergabung dengan kami?" Ajak Bella dengan wajah tersipu.
Ajakan Bella mungkin sedikit masuk akal, misi tingkat perak keatas memprioritaskan pekerjaan kelompok. Mungkin tidak ada salahnya jika aku bergabung, lagipula misi pembasmian goblin terlalu mudah bagiku.
"Aku akan bergabung dengan kalian," jawabku dengan semangat.
Nampaknya Bella begitu senang dengan kehadiranku di party. Namun disisi lain Sissy nampak bingung, gadis itu terlihat menggerakkan telunjuknya seakan tengah menyentuh sesuatu.
"Ini aneh, aku tidak bisa mengundangmu," ucap Sissy dengan wajah terheran.
"Apa maksudmu? Kita cukup beri tahu Renata kalau kita membentuk party," jawabku.
Ada yang berbeda dari para petualang sejak pagi ini, entah mengapa mereka berkomunikasi menggunakan jari telunjuk. Tidak hanya Sissy, bahkan sebagian besar petualang baru melakukan hal yang sama.
'Mereka melakukan bahasa isyarat? mungkinkah itu semacam telekinesis? Para petualang asing ini memiliki jurus yang hebat?'
Semakin dipikir semakin membuatku pusing, seakan mereka memiliki sesuatu yang berbeda dengan orang-orang di sini.
"Aku menyerah! Kita ikuti saranmu untuk pergi ke admin penyedia misi,"
Sissy melangkah penuh kekesalan menuju konter, aku tidak tahu apa yang membuatnya begitu marah.
"Permisi, apakah kita bisa membentuk party dengan NPC?" Sissy menanyakan sesuatu yang aneh.
"Ini kesekian kalinya pertanyaan itu muncul, NPC itu apa?" Tanya Renata dengan wajah yang menahan marah.
Sissy mendorong diriku maju. Tanpa bercakap panjang Renata menuliskan nama kami pada selembar kertas, itu adalah formulir pendaftaran party di guild kota.
"Sudah kubilang ini mudah," ucapku sambil mendekapkan kedua tangan.
"Sekarang kau ada di panel party! Support swordsman itukah profesimu?"
Mata Sissy nampak berbinar penuh semangat, namun pertanyaan macam apa itu? Kenapa mereka bisa tahu apa profesiku?
"Bagaimana kamu tahu? Apakah kau cenayang?"
"Ehehe…, begitulah," jawabnya singkat.
Aku, Bella dan Sissy menerima misi untuk mengalahkan Direwolf, imbalannya cukup besar dan lokasinya berada di jalur penghubung.
Sesampainya di sana, terdapat roda karavan yang hancur berserakan sepanjang jalan. Namun untungnya tidak ada korban jiwa, karena karavan ini sudah ditinggalkan.
"Kacau sekali di sini," ucap Bella seraya melihat sekitar.
"Kamu benar, kita harus waspada,"
Aku pun duduk di sebuah batu besar di pinggir jalan, rasa lapar membuatku tidak fokus karena sejak pagi belum sarapan.
"Apa Zen lapar?" Bella bertanya sambil tersenyum manis.
"A…aku lupa sarapan karena di guild begitu ramai,"
'Arrgh…! Kenapa aku gugup sekali! Senyum sayu itu membuat jantungku berdegup kencang,'
Mataku berkunang-kunang mengingat senyumnya, bahkan kita baru saja bertemu tadi pagi, namun sudah membuat hati berdebar.
"A…aku membawa roti lapis, kita bisa memakannya bersama,"
Bella duduk di sebelahku dan bahu kami bersentuhan. Mungkinkah roti lapis buatan sendiri? Aku bergumam dan menatap roti itu yang nampak lezat.
Tanpa sadar, Sissy menepuk pundak kami hingga jantungku hampir copot. Spontan aku menaruh kembali roti lapis yang sudah di genggaman tangan, pada keranjang makanan yang Bella pegang.
"Bella, ternyata kau sungguhan menyukai Zen yang seorang NPC? Imutnya," Sissy tertawa kecil seraya menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"J…jangan membocorkannya! Kau ini sungguh kejam!" Bella berteriak dengan wajah yang merah, meskipun tengah marah namun itu terlihat sangat imut.
'Bella menyukaiku! Ini bukan candaan kan? Maksudku aku melihatnya sebagai gadis yang imut, tapi mungkinkah ini?'
Poof…!
Aku seakan meledak dan membatu, semua percakapan ini membuatku sulit berhenti tersenyum.
Srak…!
Suara pergerakan terdengar di kedua sisi, dengan reflek aku menghunuskan pedang sambil bersiap merapal mantra.
Formasi kami masih belum sempurna, terlebih Bella nampaknya masih belum berpengalaman menangani monster.
"Fireball!"
Api menyala dari tongkat Bella lalu melontarkan jurus itu ke balik semak-semak.
Set…!
Gerakan cepat nyaris tak kasat mata melesat di hadapan kami. Seekor serigala dengan luka sekujur tubuh, dan matanya yang merah menambah aura kengerian hewan itu.
"Hanya satu?" Bella merasa ada kejanggalan.
"Kamu benar, dimana yang satunya?"
Aku pun melihat sekitar dan tidak melihat tanda-tanda keberadaanya. Namun kali ini akulah yang lengah, para serigala itu secara mendadak melakukan serangan bersamaan.
Aku mencoba menyerangnya dengan Thunderbolt. Namun gerakan lincah Direwolf, membuat jurus yang kucoba kerahkan tidak mencapainya.
Sial Bella dalam bahaya!
"Guard!"
Sebuah pelindung transparan menyelimuti area sekitar Sissy, itu jurus pengerahan miliknya sebagai seorang support tanker.
Area pelindungnya menahan serangan Direwolf, ini kesempatanku untuk bersinar.
Aku pun menerjang dengan Ravensword yang dipenuhi aura petir, Jurus pamungkas yang sudah kuasah belakangan ini.
"Thunder Slash!"
Ctar…!
Kilatan petir menghantam sasaran seraya ku ayunkan pedang, diikuti oleh ledakan besar hingga menggetarkan tanah sekitar.
Misi pun berakhir, aku kehabisan tenaga walau hanya menggunakan jurus tingkat 2. Tanganku gemetar, mungkin efek belum sarapan? Tanpa sadar Ravensword jatuh dari tanganku, namun aku bersyukur ini sudah berakhir.
"Akhirnya kita berhasil!"
Itulah yang ada di pikiranku, namun kenyataannya tidak demikian. Salah satu dari dua Direwolf berhasil menghindari serangan, aku mencoba mencarinya. Namun…,
"Zen! Dibelakangmu!" Bella berteriak, seraya berlari mendekat dengan wajah panik.
Spontan aku pun berbalik dan melihat Direwolf ada di depan mataku. Makhluk itu mendorongku hingga terjatuh, kukunya yang panjang menggores pinggangku cukup dalam. Taringnya yang berliur nan tajam mencoba menerkam, namun aku mencoba menahan rahangnya dengan kedua tangan, agar hewan itu tidak menggapai tubuhku.
"Bella menjauhlah! Bilang pada warga desa kalau…,"
"Taunt!" Bella merapal jurus dan menciptakan sebuah gelombang, serigala itu pun melonggarkan terkamannya lalu berbalik menuju Bella.
"Apa yang kau lakukan!"
Aku mencoba mengejarnya. Namun luka yang ku terima semakin terbuka, dan itu sangat menghambat.
Duar…!
Ledakan keras menggetarkan bumi. Seakan sebuah sihir yang kuat, aku melihat Bella meledakkan diri beserta Direwolf yang hendak menyerangnya.
"Bella!"
Dengan tenaga yang masih tersisa, aku berlari menuju kabut asap yang tebal. Aku melihat terakhir kalinya wujud Bella dengan tubuh yang transparan, dia melambaikan tangan dengan senyum di wajahnya, itu sangat menyakitkan.
"Bella…!"
Tanpa sadar aku menjatuhkan air mata, hati ini begitu sakit bahkan melebihi luka yang ku terima. Sissy mendekat dan berdiri di hadapanku dengan tertunduk diam.
"Aku menaruh sihir pada Bella, itu ledakan yang ku buat untuk menyelamatkanmu," ucapnya sambil terengkuh.
"Kenapa? Kenapa kau lakukan itu padanya!"
Spontan aku berteriak pada Sissy, namun pada saat bersamaan rasa kantuk menyerang hebat dan tidak terelakkan, hanya menyisakan ingatan samar disaat Sissy terus memanggil namaku.
'Padahal kalian teman baik, kenapa kau tega melakukan itu?' Gumamku.
Aku terbangun di sebuah kamar yang asing, cahaya mentari yang masuk dari jendela.
'Ini sudah sore?' pikirku.
Ketika aku mencoba bangkit, seorang perempuan berambut merah duduk dan tertidur, dia menggunakan kakiku sebagai sandarannya.
"Bella?" Panggilku.
Gadis itu pun bangun dan menatapku dengan setengah sadar.
"Akhirnya kau bangun, Zen!" Ucap gadis dengan senyum manis di wajahnya.