Di saat aku termenung di ujung ruang. Berselimutkan sayatan dingin angin malam ini. Paras yang seolah mencerminkan kebahagia-an, namun jiwa ini telah hancur berkeping-keping.Entah sampai kapan,aku akan bergelayut dalam cerita yang menyedihkan. Sebagai anak, aku hanya bisa mengabdi dan berbakti pada kedua orang tuaku
Aku, adalah bukti nyata kalau broken home sangat menyeramkan. Bayangkan saja, di masa aku baru menginjak usia 13 tahun aku kehilangan sosok ayah, sosok yang sangat kuat bagi seorang anak perempuan. Banyak yang mengira kalau aku baik-baik saja, ada juga yang mengira kalau aku tidak terpengaruh oleh adanya kerusakan rumah di kala aku masih kecil.Kasih sayang yang harusnya saya dapatkan pada masa kecil begitu saja hilang lenyap dan saya tidak pernah merasakan itu.
Saat itu aku tumbuh menjadi org yang lemah, setiap pulang sekolah aku hanya mengurung diri dikamar sehingga aku sangat jarang berinteraksi dengan orang orang sekitar. Bahkan untuk sekedar duduk santai di teras rumah saja aku tidak mau, aku malu ketika aku berpapasan dengan orang-orang karena aku memiliki keluarga yang tidak akur.Fungsi Keluarga yang seharusnya bisa menjadi tempat berbagi kasih sayang, saling melindungi tetapi itu sudah tidak lagi berfungsi dalam keluargaku.
Namun lain halnya dengan di sekolah, di sekolah saya berusaha untuk seceria mungkin guna menutupi kesedihanku.
Di rumah aku lebih sedikit berbicara dan sedikit pula tersenyum dan bersenda gurau dengan keluargaku. Aku cenderung datar.
“Kenapa harus pulang?”. Hatiku sering berbicara seperti itu setiap bel pulang sekolah.
Di rumah aku tidak pernah mendapat kekerasan fisik, tapi perasaanku sering terluka.
4 Tahun berlalu, dimana aku sudah menginjak umur 17 Tahun dan aku duduk di bangku SMA kelas 11. Ekonomi keluarga pun mulai menurun secara drastis,aku bingung harus bagaimana untuk mendapatkan sepersen uang untuk membantu ibuku.
"Sekolah saja nak,biar ibu saja yang mencari uang demi anak-anak ibu,ibu ingin kalian menjadi orang yang sukses". Ucap ibuku ketika sedih dengan keadaan ekonomi keluarga kami.
Keesokan harinya aku berjanji pada diriku sendiri, aku tidak akan terpuruk hanya karena masalah ini. Orang tua yang bercerai bukan alasan untuk anaknya hanya berdiam diri dan menjadi sampah. Aku akan lanjutkan sekolahku dan menjalani kehidupanku dengan penuh semangat.
Aku bisa keluar dari masalah yang menimpaku, aku bisa keluar dari keterpurukan dan saat aku keluar dari masalah itu, kehidupanku lebih baik lagi dari sebelumnya. Mungkin ini juga yang di sebut skenario Allah, pasti ada hal baik yang bisa di ambil dari setiap peristiwa. Sebagai seorang anak, aku ingin kedua orang tuaku bahagia dengan jalannya masing masing.
2 tahun berlalu,aku berusaha untuk mendapatkan beasiswa kedokteran. Allhamdulillah beberapa Minggu kemudian pun aku mendapat kabar bahwa aku mendapatkan beasiswa. Bersyukurnya aku bisa mendapatkan beasiswa di kedokteran sehingga tidak memusingkan masalah biaya kuliah. Walaupun sudah ada beasiswa, kebutuhan kuliah kedokteran yang lain tentu banyak.
Untuk mencukupi itu semua aku mencari uang dengan bekerja dan buka usaha sampingan. Usaha sampingan yang pernah aku jalankan yakni berjualan buket bunga pada tahun 2020.
Perjuangan untuk menjadi seorang dokter yang penuh rintangan berakhir manis. Aku berhasil lulus kuliah kedokteran dengan predikat cumlaude. kini aku telah resmi menjadi seorang dokter.
Untuk mencicipi kebahagiaan harus pernah merasakan sakit-sakitan. Berani menghampiri bayangan ketakutan, karena jika kita berhasil menakhlukan bayangan tersebut, itulah keberhasilan yang sesungguh nya. Tidak ada orang yang baru di lahir kan langsung sukses. Semua penuh dengan lika-liku hidup yang bagaimana ia berhasil memilah jalan hidup nya. Jangan pernah takut untuk mengejar impian jika hanya karena kamu miskin, sebab ALLAH telah mengatur jalan kamu. Pelajarilah apa yang telah di ajarkan Nya dari perjalan hidupmu yang tidak akan pernah menjadi sia-sia.