Hari masih sangat pagi, Dan udah terasa dingin seakan tak izinkan aku untuk membuka selimut yang menutupi tubuh ini. Diluar sudah gaduh, Terdengar suara ibu yang sedang sibuk di dapur sedangkan aku masih tidur di kamarku sebelum ibu datang dan membangunkanku dari mimpi mimpi indahku.
Di sinilah awal ceritaku, Aku yang masih berusia 16 tahun yang tumbuh di dalam keluarga yang kurang mampu. Meskipun kurang mampu, Aku tetap semangat untuk sekolah karena bagiku pendidikan sangat penting. Di sekolah aku termasuk murid yang pintar, ketika aku duduk di bangku 3 SMA, aku merasa bingung harus melanjutkan pendidikanku, karena aku bercita-cita menjadi seorang dokter sedangkan sekolah dokter sangatlah mahal.
“ apakah aku bisa meraih cita-citaku?” Ucapku sambil melamun di teras rumah.
Aku tidak menyadari bahwa ibu mendengar ucapan tadi.
“ Nak, Jika kamu yakin dengan apa yang kamu cita-citakan, pasti kamu bisa Karena Allah akan mengabulkan segala sesuatu yang kita minta asalkan kita harus selalu ta’at menjalankan perintahnya, serta selalu berusaha dan berdoa kepadaNya.” Ucap ibu sambil mengelus kepalaku.
Aku pun yakinkan diriku akan bersungguh-sungguh mencapai cita-citaku.
Semakin hari aku semakin yakin dan percaya diri walaupun aku terlalu keluarga kurang mampu, tetapi bukanlah penghalang.
Setelah pulang sekolah, aku selalu membantu ibu mencari penghasilan karena semenjak ayah meninggal aku adalah tulang punggung keluarga. Sedangkan ibu kini sudah tua dan sakit-sakitan. Aku harus berjualan kue keliling kampung dan di sekolah. Tak sedikit teman teman selalu menghina bahkan daganganku pun dihancurkan oleh mereka, mungkin mereka kurang memiliki moral dan kepribadian yang kurang baik.
“Eh kamu hari gini masak anak seusia kamu jualan kue, kaya kita dong jalan-jalan,shoping,kamu cuman jualan kue ga level banget!.” Ledek teman-teman.
“Selagi usahaku masih halal dan tidak merugikan kalian,jangan kalian hina usahaku. Karena aku begini demi bisa menghidupi keluarga, serta supaya aku melanjutkan sekolah ketingkat lebih tinggi untuk menjadi dokter.” Tegas aku
“Hey nyadar diri dong kamu miskin. Mana bisa sekolah kedokteran”
Tetapi aku tetap bersabar dan tidak pernah sedikitpun menaruh dendam kepada temanku.
…………………………………………………………………………………………………………
Suatu hari ketika aku berjualan kue, aku melihat seorang anak kecil sedang jualan koran yang sedang kelaparan. Lalu aku menghapirinya.
“ Dek kamu lapar?” Tanyaku
“ Ia kak saya lapar, seharian belum makan dan koranku belum ada yang laku kak” jawabnya sambil merintih.
“ kalau begitu bagaimana kalau kita barter dagangan. Kakak kasih kamu kue dan kamu kasih kakak koran. Bagaimana?” Saranku
“ ia kak aku mau” ucapnya
Akupun memberikan kue kepadanya, dan dia langsung menglahapnya, dan melanjutkan menjual koran. Ketika aku membaca koran ternyata ada sebuah brosur pendaftaran untuk mengikuti lomba dalam rangka memperebutkan beasiswa. Otomatis langsung terlintas dipikiranku untuk mendaftarkan diri, karena itu sebuah kesempatan emas bagiku untuk mencapai cita-citaku.
Satu minggu kemudian aku pergi ketempat lomba tersebut. Tak lupa meminta do’a restu kepada ibu. Berkat usaha dan perjuangan, aku berhasil memenangkan lomba dan aku mendapatkan beasiswa. Aku lulus ujian dengan nilai memuaskan akupun melanjutkan kuliah di universitas negeri tanpa membayar sepeserpun karena aku mendapatkan beasiswa. Aku mengambil kuliah kedokteran dan berkat kegigihan dan usahaku dalam menjalani hidup. Akupun berhasil menggapai mimpiku menjadi seorang dokter.