Matahari yang akan turun dan mulai kehilangan cahaya teriknya yang menandakan langit sebentar lagi akan gelap, namun di malam hari tak sempat munculkan kerlip bintang dan terangnya rembulan, karena mendung menyeringai dan menghabiskan nya dengan derai hujan. Derai hujan yang amat keras membuat aku menangis kencang dan ingin ayahku cepat pulang.
Aku seorang anak perempuan aku memiliki keluarga yang cukup lengkap. Ada ayah, ibu dan kakaku. Kami tinggal di sebuah kota di Bontang.
Dan ayahku bekerja yang pulang ke rumah hanya seminggu sekali.
Ayah pergi bekerja dan pulang seminggu sekali bukan hal mudah bagi kami selalu terpisah jarak dan waktu. Ketika aku kecil aku selalu menangis saat mengantar kepergian ayah untuk bekerja.
Aku selalu menghalangi jalannya. Dan itu selalu membuat matanya berkaca-kaca. “Ayah pergi demi kalian anak-anaku, demi ibu dan demi masa depan kita”.
Setiap seminggu terakhir aku selalu menunggu ke datangan ayah bahkan aku selalu tertidur di ruang tamu untuk menanti kehadirannya. Bukan oleh-oleh yang kami buru. Tapi harum tubuh ayah yang kami rindukan.
Seperti saat ini pukul 19.30 ada yang mengetuk pintu
“tok..tok..tok Assalamualaikum”.
Kami menjawab sambil berhamburan ke depan pintu. Setelah terlihat sosok gagah itu kami langsung berhamburan kepelukannya merasakan harum bau tubuhnya dan melepaskan rindu yang kian menggebu akhirnya terlepaskan.
Keesokan harinya merupakan momen yang kami tunggu untuk sekedar berkumpul menikmati secangkir teh atau sarapan bersama dan itu hanya ada waktu 1 hari saja.
Setelah itu ayah akan pergi lagi seminggu untuk bekerja memenuhi masa depan kami. Waktu sebentar itu merupakan kebahagian yang teramat sangat untuk kami.