Dua insan yang saling jatuh cinta namun tetap ingin mempertahankan keteguhan imannya hal tersebut membuat keduanya saling mencintai dalam diam sampai pada waktunya mereka dapat waktu untuk mempersatukan mereka.
Pada suatu hari ada beberapa keluarga dari santriwan dan santriwati mulai berdatangan ke pesantren dengan membawa tas besar untuk bekal dan persiapan mereka selama berada di sini. Beberapa ustadz dan ustadzah tampak menyebut mereka dengan senyuman hangat salam dan sapaan dari ustadz dan ustadzah yang terdengar bersahutan dari mereka hingga pelantaran pintu gerbang sampai halaman pesantren penuh dengan para santri bersamaan juga dengan para santri yang baru masuk.
Hari itu ada santriwati yang berkerudung merah menatap gerbang pesantren dengan getaran tubuh yang lumayan kencang. Baru pertama kali ia melihat pesantren dan kali ini ia harus tinggal terpisahnya oleh keluarganya. Baginya ini adalah pengalaman pertama kali ia terpisah dari orang tua dan keluarganya dan pertama kalinya ia merasakan sekolah khusus Islam seperti ini, tas dan barang bawaan gadis berkerudung merah yang di bawanya lumayan besar sehingga ia kesusahan untuk membawanya.
Kedua tangan menahan barang dan tas yang telah dibawa, seorang santriwan menatap tas besarnya lalu mengambil alih tas yang sudah terlepas dari tangan gadis itu.
" santriwati baru yaa? di mana kamarnya??" tanya santriwan yang masih belum dijawab oleh gadis itu. gadis itu akhirnya merunduk malu ketika santriwan di hadapannya tersenyum lebar.
" kamar khodijah akhi" dijawab oleh gadis itu.
santriwan itu berjalan menuju kamar Khodijah dengan menenteng kedua tas. matanya terus lurus ke arah depan tanpa menoleh ke arah gadis dibelakangnya. Gadis itu menatap punggung santriwan yang membantunya, punggung besar khas laki-laki itu baru pertama kali dilihatnya. keluarga gadis itu hanya beranggotakan perempuan karena figur seorang ayah sudah lama sudah meninggal.
santriwan itu berbelok dan menuju gerbang kamar santriwati ,langkah berhenti dan menoleh ke arah gadis yang masih berjalan dengan menunduk hingga kepala gadis itu menabrak dada santriwan yang sudah mengulum senyum.
"Afwan akhi, Saya tidak melihat tadi," ucap gadis itu dengan cepat. santriwan itu tersenyum lembut.
"Nama ukhti siapa?" tanya santriwan itu dengan nada pelan.
Gadis itu mulai kesulitan menyembunyikan rona merah di wajahnya, sembari mengambil alih tas besarnya, gadis itu perlahan mulai mengangkat kepalanya secara perlahan hingga matanya bertemu dengan mata santriwan itu.
"Nama saya Naira, akhi" ucap gadis itu dengan nada pelan
"Nama saya Ali ukhti," balas santriwan itu.
debaran ini mulai muncul diiringi dengan rasa menghangat di hati keduanya, senyuman yang tersinggung saling berbalas dengan mata yang memandang malu-malu, keduanya saling menahan senyuman yang semakin melebar.
Naira mengucapkan "terima kasih" kepada Ali karena telah membantu membawa tas dan barang bawaan Naira.
Ali menjawab "sama-sama"
Ali pun meninggalkan Naira dan pergi kembali ke kamar santriwan. Lalu Naira pergi masuk ke kamar Khodijah untuk merapikan barang barang dan tas Naira.