Disaat angin berhembus dari laut bersamaan dengan matahari yang meninggalkan peraduannya. Menyinari separuh permukaan bumi, meneteskan butiran-butiran embun yang jatuh dari langit, warna hijau berseri menghiasi tanah yang membentang luas tak terhingga.
Sore itu aku tidak menyangka bertemu dengan seseorang di perpustakaan. Aku terkejut ketika berhadapan dengan dia begitupun sebaliknya. Akupun kembali ingat pada masa putih abu-abu setahun yang lalu.
Kala itu Louis ini teman sekelasku di SMA.
Dulu, kami tidak terlalu dekat hingga akhirnya aku datang terlambat ke kelas dan sisa kursi kosong itu hanya disamping Louis.
"Kamu kenapa datang terlambat? tanya Bu Vera."
"Maaf bu,saya bangun kesiangan"
"Kali ini ibu maafkan, kamu duduk disamping Louis kebetulan ada kursi kosong disebelahnya."
"Aku pun melihat kursi kosong itu kearah belakang."
"Baik bu."
Saat itupun kami hanya diam saja tidak ada yang memulai percakapan.
Tak disangka ternyata Maureen dan Louis satu komplek dan tetanggaan, kala itu Maureen sehabis dari minimarket melihat seseorang yang dia kenal memindahkan barang barang ke rumah yang didepan rumahnya. Maureen terkejut ketika dia menatap mata orang itu ternyata dia adalah Louis. Maureen segara masuk ke rumahnya, mamanya heran yang ada di dapur kenapa Maureen berlari ke arah kamarnya.
Louis orangnya cuek dan dia tinggi. Di lapangan sekolah ada pertandingan basket dan ternyata dia ikut pertandingan itu, aku pun memperhatikannya mataku terus menatapnya dan aku menyadari, Louis menarik di mataku.
Louis bukan seperti Devon yang terbilang most wanted karena ketampanannya. Louis hanyalah Louis dengan segala ke cuekkannya. Louis enggak pernah mau disamakan dengan most wanted di sekolah. Ia hanya mau menjadi dirinya sendiri.
Entah sejak kapan perasaanku pada Louis tumbuh. Yang jelas, tiap aku bertemu dengannya degupan jantungku selalu lebih cepat. Menyatakan perasaanku? Sama sekali tidak pernah terfikir dalam benakku untuk bilang ‘suka’ atau bahkan ‘sayang’ pada Louis. Hanya satu yang ku syukuri, aku dapat melihat sorot mata teduhnya dan terkadang senyum manis dengan lesung pipit di kedua pipinya terbingkai indah di wajahnya yang jarang sekali aku lihat.
Disaat hari ulang tahun nya.Dimana hari itu sangat spesial bagi Maureen. Setelah sampai di kelas Maureen tidak melihat Louis ada disaat bel berbunyi dan Bu Vita datang ke kelas selamat siang anak anak ibu menyampaikan berita duka saat ini Louis tidak masuk sekolah dikarenakan ibunya telah meninggal dunia. Maureen pun terkejut mendengar berita duka tersebut.
Beberapa hari setelah kepergian ibunya, Louis tidak masuk sekolah. Dan ternyata Louis pindah sekolah. Maureen terkejut Louis pindah sekolah ke luar negeri
Aku berharap aku dan Louis bisa bertemu lagi suatu saat nanti. Setelah lulus dari SMA dan semua yang telah terlewati, aku tidak mendengar lagi kabar tentang dia. Aku pun melanjutkan pendidikanku di London. Pada saat itu aku ingin mengelilingi kota London dan aku berhenti di sebuah perpustakaan untuk membaca buku ketika aku berusaha mengambil buku yang aku ingin baca itu di sebuah rak yang tinggi. Aku terkejut ketika ada seseorang yang membantuku mengambil buku yang aku inginkan dan ternyata orang itu adalah Louis.
Kamipun membaca buku bersama setelah Louis memulai percakapan. Kami berbicara tentang London dan tempat - tempat yang ingin kami kunjungin. Aku pun terkejut dia juga kuliah di London dan kami satu universitas yang sama. Setelah menghabisi waktu di perpustakaan, Louis mengajak aku untuk jalan - jalan ke pantai kami pun pergi bersama menggunakan bus. Setelah perjalan akhirnya kami sampai di pantai yang indah banget, banyak orang - orang yang bermain di sana juga. Kami pun duduk di tepi pantai di waktu senja menunggu sunset muncul, kami hanya diam menikmati angin yang ada di pantai. Aku pun tersadar dari lamunan ketika Louis memanggil namaku.
" Maureen" kata Louis
"Yaaa, kenapa?"
"Hmm... gimana ya"
"Why?"
"I actually like you"
"Haa yang bener?"
Aku pun terdiam karena kaget mendengar perkataan itu dari mulut Louis."Do you want to be my girlfriend?". Seumur hidupnya, ini untuk yang pertama. Kalau selama ini ia hanya mendengar kisah dari koleksi bacaannya dan film yang dia nonton, kali ini Maureen benar - benar merasakannya. Dan itu sesuatu yang tidak bisa ia utarakan.
Ia merasa ada jutaan kupu - kupu terbang dalam perutnya. Dadanya terasa sesak tapi di saat yang sama juga bahagia. Tanpa sadar kepalanya mengangguk. Membuat Louis tersenyum. Senyum yang menular. Karena kini ia juga ikut tersenyum.