Pagi itu cuacanya amat gelap, butiran butiran air menetes dari langit, pohon pohon bergoyang-goyang dan angin bertiup kencang
***
Apakah kamu pernah berfikir apa yang akan terjadi di masa depan ?
Apakah kamu pernah berfikir sesuatu seperti ini akan terjadi di kehidupan nyata?
Apa kamu tau kalau cinta tak terlihat dari mata melainkan dari hati.
Dan kamu juga harus tau kalau cinta bukan soal perasaan saja melainkan komitmen dan pengorbanan.
Apapun alasannya aku tetap menyukai hujan Aku menyukai aromanya mataku tak bisa lepas menatap butiran-butiran air yang menetes dari atas menimbulkan suara gemercik yang sangat indah untuk didengar.
Hujan mengajarkanku banyak hal tentang kenangan harapan dan Tentang Seseorang .
Ketika aku sedang berjalan-jalan di lorong sekolah dan memperhatikan teman-teman yang asik bermain hujan saat itulah aku melihat sesuatu yang bahkan sampai detik ini aku tidak bisa untuk melupakannya .
Namanya Pram dia di kelas 12 IPA 1 Dia terkenal sangat dingin ke semua gadis tetapi semangat untuk mendapatkannya sungguh menggebu-gebu .
Tiba-tiba perasaan Entah dari mana muncul untuk menghampirinya yang saat ini duduk di samping jendela dan menatap keluar
"Hai Pram". Sapa Aku santai.
Dia hanya mengangguk seolah tak ingin diganggu olehku
Lalu dia bilang "just leave me alone"usirnya kepadaku.
Tapi aku tetap tidak memperdulikannya aku malah tersenyum dan langsung menarik kursi untuk duduk di hadapannya.
"Ngak terasa masa SMA kita akan berakhir ya Pram". kataku dengan raut wajah mendadak berubah sendu manik coklat muda yang biasa bersinar itu redup tak akan kehilangan energi .
" Yah". jawabnya singkat melempar pandangan ke arahku dalam hatinya pasti nih orang Kenapa sih .
Dia membalas lewat senyum yang dipaksakan itu artinya dia akan bebas karena aku nggak akan mengusiknya lagi.
Kedua sudut bibirku tertarik ke samping Akhirnya aku bisa berbicara lumayan lama kepadanya.
Harusnya dia lega karena dia tidak akan bertemu dengangku lagi . Tapi entah mengapa aku justru memiliki setitik kesedihan yang malah merambat di hatiku.
Tiba-tiba dia tertawa hambar , lalu diam beberapa detik untuk mempertemukan pandangan denganku . Mulutnya mulai berceloteh . "Tahu nggak kenapa aku selalu gak ngerespon setiap kamu gangguin aku". Aneh , nada bicaranya terdengar sangat serius dan tatapannya seperti Tak sabar menunggu jawaban.
" karena aku aneh kan ". jawab ku asal.
, kepalanya menggeleng jari telunjuk dan tengah menaikkan frame kacamata yang menghiasi wajah tampannya . Karena aku ingin melihat ekspresimu yang selalu memasang wajah acuh saat aku mencoba menghindarimu.
Jujur Saja , Aku lebih menyukai saat kamu menjadi dirimu sendiri saat kamu cemberut tersenyum bahkan tertawa lepas karena aku tetap tidak menggubrismu. Itu membuatmu terlihat jauh berbeda dari wanita lain. Asyik bukan menjalani hidup tanpa topeng ? Jadilah diri sendiri karena ada seseorang yang selalu menganggapmu berharga. Pram berkata panjang lebar dengan gaya khasnya.
Aku tak tahu harus melakukan apa aku senang karena hari ini bisa mengobrol banyak dengannya.
, namun ada sesuatu yang tak ku mengerti perkataannya tiba-tiba membuat dadaku sedikit menghangat dan kehangatan itu akhirnya menular ke kedua pipi tanpa bisa dicegah.
Dapat kulihat wajahnya juga bereaksi sama "Mungkin ini terdengar konyol tapi Boleh aku minta satu hal".tanyanya sedikit kikuk.
Sebelah alisku terangkat "Apa itu ". kataku sedikit penasaran sambil terus menekan perasaan yang tak mampu dijelaskan lewat apapun.
"Tolong jangan lupakan aku dan Bisakah kamu menunggu hingga waktunya tiba ". kau mengucapkannya tanpa ragu hasilnya aku tak mendeteksi sinyal kebohongan di bola matamu.
Aku tersedak napas sendiri ini sangat membingungkan.
Tidak tidak ini sangat-sangat membingungkan. Tapi kenapa! kenapa aku malah mengangguk.
Apa yang aku lakukan?!!!!
Aku menggelang pelan setelah itu menunduk dalam, berusaha rileks dan berharap semoga degup jantungku yang makin menggila ini tidak tertangkap Indra pendengarannya.
Dia tersenyum samar lalu maniknya melirik keluar "udah reda Ayo pulang". katanya Seraya mengambil tas kemudian berjalan pergi .
"Pram Terima kasih banyak ". akhirnya aku angkat bicara setelah mengumpulkan keberanian untuk berbicara panjang lebar kepadamu.
Langkahmu terhenti tepat di depan pintu bayang tubuh Jangkung itu begitu kontrak kalau diterpa sinar mentari senja.
Kau tidak berbalik tapi aku tahu kau sedang tersenyum lebar sekarang tangan kananmu terangkat dan membentuk isyarat Oke .
Kemudian suara langkahmu pelan menjauh aku hanya terkekeh sembari meraba pipi panas ku