Malam tak sempat munculkan kerlip bintang dan terangnya rembulan, karena mendung menyeringai dan menghabiskannya dengan derai hujan. aku telah kembali kemasa lampau yang tanpa aku sadari aku kembali ke masa penjajahan. gerai gerimis yang makin deras seakan menggambarkan suasana hatiku yang sedang sedih dan bingung pada malam itu.
Aku tak bisa berkata - kata ketika sosok yang kujumpai adalah sepasang suami istri yang menggunakan pakaian era penjajahan. ketika aku masih kebingungan dengan apa yang terjadi pada malam itu, aku menyusuri jalan - jalan yang sangat sepi dan melihat dari kejauhan sosok lelaki bertubuh besar dan tinggi kurang lebih 180an keatas. ketika aku menyamperin ternyata sosok yang aku lihat dari kejauhan ternyata sosok seorang jendral di masa itu.
Ketika aku bertanya dengan jendral tersebut, ternyata nama dari orang tersebut adalah john. dan ia menjelaskan semua tentang kehidupannya. lama kelamaan kamipun mulai dekat, dan menjalin tali kasih. pada akhirnya kami menikah dan berpindah ke kota terpencil yang bernama arhenia untuk menikmatai masa - masa indah kami dan hidup bahagia.
Impian yang selama ini aku idam - idamkan kandas dengan kenyataan yang terbanding terbalik dengan impianku. tidak lama kami menikah suami yang ku sayangi itu pun terkena wabah penyakit yang belum ada penawarnya di masa itu. lama kelamaan tubuhnya perlahan memburuk, kakinya tidak bisa digerakkan dan setiap malam dia merintih kesakitan.setiap malihatnya kesakitan akupun keluar dan mencari bantuan kepada orang yang lalu lalang di depan rumahku.
Ketika aku sudah kembali membawa bantuan, betapa terkejutnya aku melihat tubuh suamiku yang terbujur kaku di lantai. ternyata setelah aku keluar rumah , tidak lama dia mengalami kejang - kejang yang menyebabkan dia jatuh ke tanah. akupun mendekati mayatnya yang terbujur kaku dan menangis tanpa henti.
Keesokannya, mayat yang terbujur kaku tadi malam di bawa ke peristirahatan terakhirnya dan dikubur di dalam tanah. tangispun tidak terasa menetes dan membasahi pipiku. aku pun pulang kerumah dengan perasaan yang campur aduk dan jalan yang tidak sempurna karena syok yang berat.
Malampun tiba, aku menatap wajah suamiku yang ada di dalam bingkai poto, dan tanpa aku sadari aku tertidur sangat lelap, aku merasa ada yang mengawasiku dari arah dapur. aku berdiri dan berjalan perlahan ke arah dapur mencari sumber suara tersebut.
Ketika aku mendekati suara tersebut, ternyata ada seseorang yang sedang berdiri tegap. ia memakai pakai serba hitam dan memegang pisau di tangan kanannya. seketika aku terkejut dan lari secepat mungkin mendekati pintu untuk lari. sebelum aku sampai ke pintu untuk keluar, orang tersebut menarik tanganku dan langsung mengarahkan pisau ke bagian perutku.
Orang tersebut mengatakan sesuatu di telingaku yang mengatakan " it's time for you to die " atau bisa diartikan ini waktunya untuk kamu mati. ketika sudah membisikkan kata itu ditelingaku, ia pun langsung menusuk bagian perutku dan langsung pergi lewat pintu belakang.
Aku terjatuh dan berlumuran darah di sekujur tubuh dan berserakan di lantai. akupun berkata dalam hati " jika ini adalah akhir dari hidupku aku ingin meminta maaf kepada semua orang tentang kesalahan - kesalahan yang pernah ku buat. "
Mataku perlahan - lahan menutup, dan seketika aku hanya melihat bayangan gelap yang sedang mengelilingiku. ternyata, aku hanya mimipi dan selama ini aku terbaring koma di atas ranjang di salah satu rumah sakit. aku terkejut karena semua yang kualami di saat koma itu terasa sangat nayata.
Aku pun keluar rumah sakit beberapa hari ketika aku sadar dari koma. aku melanjutkan semua kehidupan pribadiku seperti semula, dan sesaat aku teringat ke masa - masa saat aku membayangkan semua yang pernah aku alami di dalam mimpi.