Kriiiing... Kriiiing... bunyi telepon ku terdengar sangat nyaring. Sepertinya aku lupa matiin HP nya. Aku sangat malas diganggu ketika sedang beristirahat, tapi kalau tidak diangkat dia tak akan berhenti. Baiklah Aku menyerah dan memilih mengangkat telepon. Halo, ini siapa ya? Kataku memulai percakapan terlebih dahulu.
"Iiih, masa kamu gak inget sih Dib. Aku Risa, Carissa Ningtyas, alumni SMA Negeri 7 Bogor" kata Risa
"Oooh, ternyata Risa. Ya maaf dong, kan Aku gak tau ini nomor kamu. Apalagi kita udah gak ketemu tujuh tahun lebih" kata ku.
"Iya deh, iya. Abisnya kesel aku tuh, telponku gak diangkat angkat, emangnya ngapain sih? Udah ku misscall puluhan kali tau" Kata Risa
"Ya abisnya tadi Aku mau tidur Sa, tapi telponnya nyebelin, bunyi terus. Aku pikir itu telpon iseng makannya gak aku. kalo tau kamu yang telpon mah pasti ku angkat" kataku
"Orang iseng? Maksudnya?" tanya Risa tak mengerti
"Belakangan ini aku sering diteror oleh nomor gak dikenal yg salah nelpon nomor, kan nyebelin banget tau. Ganggu aja" kataku
"Nomormu pasaran kali Dib" kata Risa sambil tertawa
"Benar juga ya, oh iya btw kamu ngapain nelpon nelpon? Pasti ada yang penting kan?" tanyaku
"Iya, jadi aku, Naya, dan Zulfa mau reunian. Tapi berempat aja, itung itung reuni duluan sebelum reuni angkatan 4 bulan lagi. Hehe" kata Risa.
"Waahh, asyik tuh ngumpul ngumpul. Tapi kapan reuni nya? " kataku.
"Lusa Dib, kamu bisa gk? Maaf ya terlalu mendadak, soalnya mumpung si Zulfa bisa. Kan dia orang sibuk yang sibuknya melebihi presiden" kata Risa
"Ada Ada aja kamu, tapi iya juga sih Zulfa sibuk. Maklumlah, diakan dokter anak yang banyaaak pasienya kayak kereta api" kataku.
"Bener banget, btw kamu sekarang kerja apaan? Dib? " tanya Risa.
"Aku kerja jadi psikolog di sebuah perusahaan, alhamdulillah rezekinya banyak" kataku.
"Alhamdulillah, terus kamu kerja apaan Sa?" tanyaku.
"Aku kerja jadi akuntan seperti cita citaku dulu, dan alhamdulillah rezekinya banyak" kata Risa.
"Eh iya, si Naya kerja apa sekarang?" tanyaku.
"Naya kerja jadi pengacara sukses, dia laris manis banget, kliennya kelas kakap semua" kata Risa
"Alhamdulillah kalo begitu, oh iya tempat reuni nya di mana ya?" tanyaku.
"Ya di Bogor lah Dib, sekalian nostalgia jalan jalan ke tempat yg dulu sering kita kunjungin bareng ituloh, inget gak? " tanya Risa
"oooh, kalo itu sih aku inget banget. Aduuh, jadi semangat reuni. Pengen terbang ke Bogor sekarang jugaaa" kataku dengan nada exited
"Sama Dib, dah kangen banget sama kalian semua, ingin tatap muka lagi kayak dulu" kata Risa
"Iya, kalo perlu bawa sepeda yang dulu kita naikin masing masing" kataku.
"Punyaku sudah rusak, lagian emang masih zaman kita sepedaan ke sana? Yang ada malah ketabrak mobil lagi. Dah ah jangan aneh aneh" kata Risa.
"Hehehe, canda Sa. Lagian sepedahku juga udah ditaro gudang, kagak pernah dipake lagi semenjak kuliah. Entah udah kayak apa bentuknya setelah tak ditengok beberapa tahun" kataku.
"Yaudah, ada yang mau diomongin lagi gk? Soalnya aku mau ngerjain pekerjaan yg deadline nya besok, sebelum cuti dah harus selesai" kata Risa.
"Eeeh tunggu! Jangan dimatiin dulu Sa, aku mau nanya, kita minep di hotel mana dan sudah di booking belum?" kataku.
"Sudah dibooking kok, aman deh pokoknya. Tinggal nyusun rencana aja mau ngapain di sana" kata Risa.
"Sip lah kalau begitu. Yaudah, kita sudahi dulu ya telponnya, Aku ngantuk" Kataku
"Yaudah, Assalamu'alaikum sampai jumpa lusa nanti!" kata Risa
"Waalaikumsalam, sampai jumpa juga!" kataku. Dan telepon pun berakhir dua detik kemudian.
Aku sangat excited dengan rencana reuni dadakan ini. Kontras sekali dengan suasana hatiku lima belas menit yang lalu ketika aku menerima telpon. Setelah itu, aku pun memilih untuk kembali tidur siang (mumpung lagi gak ada kerjaan, hehehe) untuk mempersiapkan tenaga untuk packing.