Prolog :
"WARNING !!!
UNTUK 21++
MENGANDUNG UNSUR KEKERASAN FISIK, PEMUTILASIAN, DLL
MOHON PARA PEMBACA YANG BUDIMAN, MENYIKAPINYA DENGAN BIJAK DAN BIJAKSANA. TERIMA KASIH ATAS PENGERTIAN, WAKTU DAN KERJA SAMANYA....."
"Bukankah saya pernah bilang kalau akan melunasi semua hutang-hutang saya pada juragan beberapa hari lagi. Beri saya waktu beberapa hari lagi. Saya akan bayar semuanya," kata wanita setengah berumur 35 tahunan itu pada seorang laki-laki di hadapannya yang duduk sambil meletakkan kaki kanannya pada paha kiri.
"Lasmi, kau sudah menunggak beberapa bulan, kami sudah memberikan keringanan, akan tetapi, malah kau menyia-nyiakannya. Tunggakanmu menumpuk, sementara kami membutuhkannya untuk membayar tagihan-tagihan yang jumlahnya cukup banyak, gara-gara orang sepertimu. Nah, bayar sekarang atau kami akan mengeluarkanmu secara paksa ?" Kata laki-laki itu.
"Baik. Sebelumya ijinkan saya meminta maaf pada anda dengan secangkir kopi kesukaan Anda, setelah itu, saya akan pergi dari sini," kata wanita itu.
Laki-laki yang usianya sekitar 45 tahunan itu, menghela nafas panjang, "Baiklah," setelah itu i memerintahkan kepada dua orang bertubuh tinggi, tegap dan kekar yang berdiri di samping kanan dan kirinya duduk, sementara, wanita itu masuk ke dalam dapur.
Tak lama kemudian, ia keluar sambil membawa nampan berisi 3 buah cangkir berisi kopi hitam yang masih mengepulkan asap tipis dan menebarkan aroma harum melati menyengat. Ia menaruh nampan tersebut di atas meja dimana 3 pria itu duduk sambil berbincang-bincang.
"Ini kopi harum sekali... Kau yang membuatnya, Lasmi ?" tanya laki-laki itu.
"Iya, juragan cobalah. Sementara saya akan mempersiapkan barang bawaan saya setelah itu pergi dari rumah ini," katanya sambil melangkah masuk.
Sementara wanita yang bernama Lasmi itu masuk, 3 laki-laki itu berbincang-bincang sambil sesekali menyesap kopi melati tersebut. Namun, setelah beberapa kali sesap, 3 laki-laki itu merasakan kepalanya pusing dan matanya berat, tanpa sempat berbicara apa-apa lagi, merekapun roboh tak sadarkan diri.
Laki-laki yang dipanggil dengan sebutan juragan itu membuka matanya, tubuhnya terikat kuat pada sebuah tiang, ia terkejut saat melihat sebuah bayangan wanita berdiri. Ia mengenakan baju mirip jas hujan sementara kepalanya ditutupi oleh penutup kepala dari plastik. Di hadapan wanita itu terdapat tungku pembakaran dan di atasnya terdapat kuali yang cukup besar dengan asap mengepul, melayang-layang seakan memenuhi ruangan berukuran 4x8 M² itu. Aroma harum semerbak keluar dari dalam kuali, menggelitik lubang hidung laki-laki yang terikat itu. Aroma rempah-rempah.
"Kau sudah sadar, juragan ?" terdengar suara dingin dan berat.
"Apa yang kau lakukan ini, tidak tahukah, kau berhadapan dengan siapa ?" bentak laki-laki itu.
"Oh, saya tahu sekali dengan siapa berhadapan ... Tidak lain dan tidak bukan adalah sekelompok sampah yang selalu meresahkan masyarakat. Kau tahu, ini adalah negara hukum siapapun yang mengganggu ketentraman dan ketertiban umum... akan dihukum dengan hukum yang berlaku. Sayangnya, hukum sekarang buta.... Maka, kami sendiri yang akan melakukannya," kata wanita bernama Lasmi itu sambil berjalan mendekat sementara tangan kanannya memegang pisau dapur yang cukup besar dan tajam berkilat-kilat tertimpa cahaya api yang berkobar di tungku pembakaran itu.
"Perempuan sialan, aku akan membunuhmu begitu lepas dari tempat ini,"
"Coba saja. Hmm... Lidahmu tajam benar, aku ingin tahu apakah masih setajam itu apabila terpotong ?" katanya sambil menjambak rambut laki-laki itu keras-keras, hingga menjerit keras.
Wanita itu memaksanya mengeluarkan lidah, setelah berhasil memaksa pria itu mengeluarkan lidahnya, mata pisau dapur bergerak cepat dan....
Darah menyembur keluar, sebagian memercik ke wajah Lasmi. Laki-laki itu berteriak-teriak kesakitan namun tak lagi bisa mengeluarkan kata-kata. Lidahnya terpotong dan jatuh ke lantai. Wanita itu tersenyum dingin lalu memasukkan lidah itu ke dalam kuali.
"Telingaku sakit mendengar suaramu, juragan bagaimana jika kerongkonganku kusayat ?" kata wanita itu dingin, sementara, pisau dapurnya sudah terayun dan menyayat urat nadi leher pria itu.
Darah merah kehitaman menyembur keluar, tubuh pria itu mengejang sesaat sebelum akhirnya tak bergerak-gerak lagi.
"Tahukah, kau.... Hukuman yang pantas untuk sampah masyarakat," kata Lasmi sambil melepaskan tali yang mengikat tangan dan kaki pria yang kini sudah menjadi mayat, "Dikuliti, karena kulitnya terlalu kotor, dikeluarkan seluruh organ dalamnya, dipotong-potong, dicuci, direbus lalu dijadikan masakan yang enak biar tahu dan seenak hidupmu yang sudah berdiri diatas penderitaan orang lain," katanya sambil bekerja seperti yang dikatakannya.
"Tahukah, kau, juragan... Dagingmu itu, bisa untuk stok makanan beberapa bulan ke depan,"
( Episode selanjutnya .... para pembaca yang budiman, bisa mencarinya di lomba menulis cerita horor 10 bab. Dalam bentuk chat story.
Mohon kerjasamanya untuk Like, follow dan komentarnya, ya....
Terima kasih ...)