Penyesalan ku yang paling sangat kusesalkan hingga sekarang adalah tidak bisa lulus dalam ujian pengambilan CPNS, aku tidak lulus karena kurang serius dalam belajar mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian. 4 kali diberi kesempatan untuk bisa test ujian, 4 kali juga tidak lulus.
Hingga usia ku hampir mendekati ambang batas akhir dalam syarat mengikuti test yakni usia max 35 tahun. Pada masa itu ada sistem monotorium, pemberhentian sementara penerimaan CPNS, dan setelah monotorium berakhir, usia ku pun sudah menginjak 35 tahun, penerimaan CPNS masa itu pada bulan 11, sehingga aku tidak bisa lagi mengikuti ujian karena saat mendaftar tidak boleh lewat dari 35 tahun, aku sudah menginjak usia 35 tahun 8bulan. Sehingga aku sekarang menyandang gelar sarjana hanya sebagai ibu rumah tangga.
Sebenarnya sebelum punya anak, aku pernah bekerja sebagai administrasi di perusahaan pembuatan cat mobil dan cat tembok, tetapi setelah melahirkan aku tidak bekerja lagi, karena anak tidak ada yang menjaga.
Kalau aku tetap bekerja, gaji baby sitter, beli susu formula, dan biaya ongkos angkot ke tempat kerja di hitung-hitung tidak sebanding lagi dengan gaji yang kuperoleh.
Sehingga aku memutuskan untuk tidak bekerja, baby ku akhirnya ku beri ASI dan aku merawat baby ku dengan tanganku dan mendapatkan kasih sayang pool dari aku sendiri, kalau aku tetap bekerja bisa dibayangkan segala kemungkinan-kemungkinan nya.
Yang membuat ku merasa menyesal adalah, seandainya saja aku jadi PNS, mungkin aku akan tetap mempertahankan pekerjaan ku walaupun aku harus menggaji baby sitter dan memberi susu formula untuk anakku, gajiku mungkin masih sebanding dengan pengeluaran ku.
Kalau aku masih ada sisa gaji, akupun mungkin bisa pegang uang, isi dompet ku akan selalu berisi.
Kenyataannya aku tidak pernah bisa punya uang berlebih, tidak bisa royal membeli apa yang kuinginkan, dan tidak bisa royal memberi makanan ringan atau jajanan terhadap anak-anak.
Aku adalah istri yang hanya meminta kepada suami, boro-boro untuk keperluan ku sendiri, untuk keperluan rumah saja aku sudah diomeli, bila minta lagi,
Aku hanya jadi istri yang tidak pernah pegang uang, tidak bekerja, tidak punya gaji dan hanya mengandalkan dari pemberian suami, yang kalau berlebih masih enak, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja belum bisa cukup, bahkan harus menggali lobang lagi.
Aku jadi semakin menyesal, "Seandainya saja aku punya pekerjaan" pikirku dalam hati.
Bukan tidak terima keadaan suami, tetapi suami tidak bisa pengertian, bahkan selalu memvonis kita istri boros, selalu mengatakan"Sudah habis uang yang kuberi kemarin?, kemana semua uang yang kuberi?
Itu terasa sangat menyakitkan,
Aku selalu berdoa dan berharap mempunyai penghasilan tambahan, memang terkadang dari berjualan online ada laku seratus ribu, tetapi itupun selalu habis menutupi kebutuhan rumah, suami pun tetap saja menuduh aku istri boros