Karya:Rowwršāāļø
Hai nama aku Alea, aku yatim piatu sejak umurku 10 thn aku memiliki adik yang bernama Arsya. Alea dan Arsya hanya selisih 2 thn.
15/07/2018
Kini usia ku 18 thn, aku dan adikku bekerja di sebuah restoran yang tidak jauh dari rumah kita..
18.00
"Kak.. Aku pusing Aku pulang dulu ya? " ucap lirih Arsya yang ingin pulang. Awalnya Aku ragu untuk mengizinkannya karena dirumah juga tidak ada siapa-siapa tetangga pun semua nya sedang bepergian, namun Aku berpikir lagi mau bagaimana pun arsya seorang laki-laki dan dia sudah dewasa harusnya dia bisa menjaga dirinya sendiri, tanpa waktu berlama-lama aku pun mengizinkannya dan Arsya pun pergi dengan motor sport milik armahum ayahnya dulu
00.00
Aku pulang agak larut karena hari ini waktunya Aku piket membersihkan restoran, namun sebelum Aku pulang Aku mengecek HP dan melihat banyak notif Aku
pun melihat nya dan melihat Arsya yang mencoba menghubungi ku.
š±"kak tolong ada orang di depan pintu, dia bawa pisau kak! "
Pesan terakhir adikku, Aku baru ingat bahwa adikku sangat penakut dan Aku langsung bergegas pulang untuk mengecek.
Sesampainya dirumah Aku melihat pintu terbuka dan melihat darah yang berceceran di depan pintu, Aku terkejut dan langsung masuk kedalam rumah, Aku melihat adikku yang sedang bermain HP dengan santai.. Awalnya aku sempat berpikir jika dia disini lalu darah diluar darah siapa? Lalu aku langsung bertanya kepadanya "Apa ada orang masuk?" Tanya ku
"Tidak ada, ada apa kak? Memangnya siapa yang masuk? Tanya kembali adikku, ini aneh.. Dan aku berkata " Kamu bukan adikku dimana adikku kamu sembunyikan?" Tanya ku..Arsya terdiam dan menatap ku, tatapannya aneh dan menakutkan lalu dia berkata "sudah ketahuan ya? ". Tubuhku terasa kaku tak bisa bergerak, mulutku tak bisa bersuara, namun pikiranku sibuk " lalu, siapa dia? dimana adikku? apa dia adalah orang yang disebut adikku sebelumnya? " pikirku. Aku mencoba kabur namun seperti ada yang menahanku. "Oh Tuhan apakah ini akhir hidupku?" Batinku.
Tatapannya⦠bukan tatapan Arsya yang kukenal sejak kecil. Itu bukanlah adikku. Dingin, Kosong. Seperti menatapku tanpa jiwa.
Aku mencoba berteriak, tapi suaraku seperti tertelan udara malam.
āDi mana Arsya?!ā batinku menjerit.
Tiba-tiba lampu rumah berkedip. Sekali. Dua kali. Lalu mati.
Gelap.
Hanya cahaya layar ponsel dari tangannya yang menerangi wajahnya. Wajah itu perlahan tersenyum⦠terlalu lebar.
BRAKK!
Suara pintu kamar belakang terbuka sendiri.
Dan dari arah sana⦠terdengar suara yang sangat kukenal.
āKakā¦ā
Itu suara Arsya.
Aku menoleh perlahan. Di ujung lorong gelap⦠berdiri sosok Arsya. Wajahnya pucat. Bajunya penuh noda merah gelap. Tangannya gemetar.
āJangan percaya diaā¦ā bisiknya lirih.
Aku menatap kembali ke arah āArsyaā yang duduk di sofa.
Kosong.
Sofa itu kosong.
HP tergeletak di atas meja.
Aku mundur perlahan. Jantungku berdegup sangat kencang.
āDia masuk setelah aku pulangā¦ā suara Arsya terdengar lagi. āDia bukan manusiaā¦ā
Tiba-tiba suhu ruangan terasa sangat dingin. Nafasku terlihat seperti uap.
Dari balik dinding⦠terdengar suara goresan. Seperti sesuatu yang berjalan mengitari rumah.
āKakā¦ā Arsya mendekat pelan. āDia suka meniru⦠Dia suka mengambil tempat orangā¦ā
SREEETTTTā¦
Dari langit-langit ruang tamu, terdengar suara retakan.
Dan tepat di atas kami⦠muncul bayangan panjang⦠seperti seseorang yang merayap di plafon.
Aku spontan menarik tangan Arsya dan berlari ke luar rumah.
Begitu sampai di halaman⦠aku menoleh.
Rumah kami gelap total.
Tapi di jendela ruang tamu⦠ada seseorang berdiri.Itu aku, tapi bukan aku
Dia tersenyum.
Dan melambaikan tangan.
Aku terpaku.
Di jendela itu⦠āakuā masih berdiri. Senyumannya terlalu lebar. Matanya tak berkedip.
Arsya menggenggam tanganku erat.
āKak⦠jangan lihat matanyaā¦ā bisiknya gemetar.
Tapi sudah terlambat.
Bayangan di jendela itu tiba-tiba menghilang.
Laluā¦
KREKKā¦
Pintu rumah terbuka perlahan sendiri.
Angin malam berhembus dingin. Lampu jalan di depan rumah tiba-tiba padam.
Suasana jadi sunyi. Terlalu sunyi.
āKita nggak boleh masuk lagiā¦ā kata Arsya pelan. āDia kuat di dalam rumah.ā
Aku menelan ludah. āKuat? Maksud kamu apa, Sya?ā
Arsya terdiam beberapa detik, lalu berkata lirih, āSejak ayah meninggal⦠rumah ini tidak pernah benar-benar kosong, Kak.ā
Jantungku seperti berhenti.
āApa maksud kamu?ā
āAku sering dengar langkah kaki tengah malam. Kadang ada yang berdiri di depan pintu kamar. Aku pikir cuma perasaanā¦ā
Tiba-tiba terdengar suara notifikasi dari dalam rumah.
š± Ting!
Aku refleks melihat HP-ku.
Pesan masuk.
Dari⦠Arsya.
š± āKak aku di kamar⦠jangan buka pintu untuk siapa pun.ā
Tanganku gemetar.
Aku menoleh ke Arsya yang berdiri di sampingku.
Dia juga melihat layar HP-ku.
Wajahnya pucat.
āItu bukan akuā¦ā
Kami perlahan mundur.
Lalu dari dalam rumah terdengar suara langkah kaki. Pelan⦠menyeret.
SRET⦠SRETā¦
Dan suara itu berhenti tepat di balik pintu.
Kemudian terdengar suara yang sama persis dengan suaraku.
āSya⦠masuklah. Kakak di sini.ā
Arsya langsung memelukku.
āItu dia⦠dia bisa meniru siapa sajaā¦ā
Aku berpikir cepat. Kalau dia meniru suara dan wajah⦠berarti dia butuh sesuatu untuk meniru.
āIngat nggak, Sya⦠waktu kamu bilang ada orang di depan pintu?ā
Arsya mengangguk.
āDia mungkin nggak pernah benar-benar pergiā¦ā
Tiba-tiba lampu jalan menyala kembali.
Dan saat cahaya menerangi halamanā¦
Aku melihat sesuatu di depan pintu rumah.
Bercak darah itu⦠bukan bercak biasa.
Itu seperti⦠tanda.
Seperti simbol yang digambar dengan darah.
Dan tepat di tengah simbol itu⦠ada foto keluarga kami.
Foto lama.
Foto saat aku, Arsya, ayah, dan ibu masih lengkap.
Tapiā¦
Wajahku di foto itu sudah tercoret.
Dan di bawahnya tertulis:
āSatu akan tinggal.ā
Angin berhembus kencang.
Arsya berbisik pelan, āKak⦠dia nggak cuma mau rumah iniā¦ā
Aku menatap simbol itu dengan napas tercekat.
āDia mau salah satu dari kita.ā
Aku menatap tulisan itu.
āSatu akan tinggal.ā
Arsya menggenggam tanganku lebih erat. Tangannya dingin.
āKak⦠mungkin dia nggak bisa keluar dari rumah,ā bisiknya.
Aku menatap pintu yang masih terbuka sedikit. Gelap pekat di dalam, seperti menunggu.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
āMotor ayahā¦ā kataku pelan.
Motor sport peninggalan ayah masih terparkir di samping rumah. Arsya tadi pulang pakai itu. Kalau kita bisa pergi sekarangā¦
āKita pergi dari sini,ā kataku tegas.
Kami berlari ke arah motor. Arsya mencoba menyalakannya.
Starter pertama⦠gagal.
Starter keduaā¦
Dari dalam rumah terdengar suara langkah cepat.
BRAKK!
Pintu rumah terbanting keras.
Starter ketigaā
Mesin menyala.
Aku langsung naik ke belakang Arsya. Tanpa menoleh lagi, kami melaju meninggalkan rumah.
Angin malam terasa menusuk wajahku. Aku menoleh sekilas ke belakang.
Rumah kami tampak biasa saja.
Lampu menyala.
Tenang.
Seperti tidak terjadi apa-apa.
Kami berhenti di ujung jalan. Napas kami masih terengah.
āApa kita kembali lagi?ā tanya Arsya.
Aku ragu.
Rumah itu satu-satunya tempat yang kami punya.
Tapi kalau benar ada sesuatu di dalamā¦
Tiba-tiba HP-ku berbunyi lagi.
š± Pesan dari nomor tak dikenal.
āAlea⦠kamu lupa sesuatu.ā
Aku membeku.
Nomor itu mengirim foto.
Foto ruang tamu rumah kami.
Dan di sofa⦠duduk seseorang.
Aku.
Memegang pigura foto keluarga.
Tapi yang membuatku lebih dingin dari angin malam adalahā
Di foto yang kupegang⦠hanya ada ayah dan ibu.
Tidak ada Arsya.
Tidak ada aku.
Aku menatap Arsya perlahan.
āFoto keluarga⦠yang tadi kamu lihat⦠ada kita berdua kan?ā tanyaku pelan.
Arsya mengangguk cepat. āAda, Kak.ā
Aku menunjukkan foto di HP.
Arsya terdiam lama.
Wajahnya berubah.
āKakā¦ā suaranya mengecil. āItu foto asli.ā
Darahku seperti berhenti mengalir.
āApa maksud kamu?ā
Arsya menatapku⦠tatapan yang tiba-tiba terasa asing.
āKak⦠waktu kecelakaan ituā¦ā
Napasnya gemetar.
āYang meninggal bukan cuma ayah dan ibu.ā
Dunia terasa berputar.
āApa yang kamu bicarakan?ā
Arsya menelan ludah.
āKak⦠yang selamat cuma aku.ā
Sunyi.
Suara jangkrik malam tiba-tiba hilang.
HP-ku bergetar lagi.
š± āSudah waktunya kamu pulang.ā
Dan perlahanā¦
Ingatan itu datang.
Kilatan cahaya.
Suara benturan.
Jeritan.
Dan gelap.
Aku mundur satu langkah.
āSya⦠kamu bercanda kan?ā
Arsya menatapku dengan mata berkaca-kaca.
āKak⦠selama ini⦠yang tinggal di rumah itu bukan aku yang ditemani kamuā¦ā
Suaranya pecah.
āAku yang menemani kamu.ā
Mesin motor mati sendiri.
Lampu jalan kembali padam.
Dan dari arah rumahā¦
Terlihat satu sosok berdiri di tengah jalan.
Wajahnya mirip denganku.
Tersenyum.
Menunggu.
Sosok itu berdiri di tengah jalan.
Wajahnya⦠wajahku. Tapi lebih pucat. Lebih kosong.
Arsya turun dari motor perlahan.
āKak⦠sekarang aku ingat semuanya,ā ucapnya lirih.
Aku merasa langkahku berat. Seperti ada sesuatu yang menarikku kembali.
āWaktu kecelakaan itu⦠kamu duduk di sebelah ayah,ā lanjut Arsya. āBenturannya paling keras di sisi ituā¦ā
Potongan ingatan menghantamku.
Cahaya lampu dari arah berlawanan.
Suara rem panjang.
Lalu hening.
Air mataku jatuh tanpa terasa.
āAku⦠meninggal?ā suaraku hampir tak terdengar.
Arsya menangis. Untuk pertama kalinya sejak kecil, aku melihat dia menangis seperti anak kecil lagi.
āIya, Kak⦠Tapi kamu nggak pernah pergi. Kamu tetap ada di rumah. Kamu bangunin aku buat sekolah. Kamu kerja bareng aku. Kamu selalu bilang kita harus kuatā¦ā
Dadaku terasa sesak.
Jadi selama ini⦠aku bukan yang bertahan.
Aku yang tertinggal.
Sosok di tengah jalan itu mendekat perlahan. Wajahnya tidak lagi tersenyum. Tatapannya lembut.
Bukan ancaman.
Tapi panggilan.
āDia bukan mau ambil siapa-siapa,ā bisik Arsya. āDia cuma mau kamu pulang.ā
Angin malam terasa hangat sekarang. Tidak lagi dingin.
Aku mengusap air mata Arsya.
āMaaf ya⦠Kakak ninggalin kamu duluan,ā ucapku pelan.
Arsya menggeleng cepat. āJangan pergi⦠Aku masih butuh Kakakā¦ā
Hatiku hancur.
āAku nggak pernah benar-benar ninggalin kamu, Sya,ā kataku sambil tersenyum tipis. āSelama kamu kuat⦠aku selalu ada di doa kamu.ā
Sosok itu kini berdiri tepat di sampingku.
Aku merasa ringan.
Sangat ringan.
Aku menatap Arsya untuk terakhir kalinya.
āJangan tinggal di masa lalu. Hidup yang baik. Cari kebahagiaan kamu sendiri.ā
Air mata Arsya jatuh deras.
āKakā¦ā
Perlahan, tubuhku mulai terasa seperti cahaya yang tertiup angin.
Tidak sakit.
Tidak menakutkan.
Hanya⦠perpisahan.
Pandangan terakhirku adalah Arsya yang berdiri sendirian di bawah lampu jalan yang kembali menyala.
Untuk pertama kalinya sejak delapan tahunā¦
Dia benar-benar sendirian.
#Sad ending #horor #Sad #Misteri