Senja
Tiba-tiba listrik mati.
Gelap.
Berlari mengambil lilin di dapur.
Malahan kaki kesandung jatuh terjerembab ke depan.
"Aduh"
Mana nggak ada orang.
Rumah kontrakan ini sudah kuhuni sekitar 1 bulan.
Yang punya rumah pindah tempat kerja ke kota lain.
Hunian perumahan model ala2 rumah BTN biasa ukuran 3x6 sedikt renov dapur dan garasi...
Cukup lah buat aku yang tinggal sendiri merantau kerja.
Barang-barang sedikit satu kamar aja cukup.
Tapi ini ada 2 kamar, 1 dapur dan 1 kamar mandi. Cukup luas.
Tiap sore mati listrik.
Katanya jadwal.
Kuhidupkan lilin sambil mengusap lutut dan siku yang lumayan sakit.
Tetangga menutup rumahnya rapat kutengok dari jendela luar sudah gelap.
Ada yang menghidupkan generator juga.
Aku dengan lampu emergency yang selalu siaga serta lilin yang kusimpan di tengah rumah...menunggu petuah. Hahaha...
Sinyal handpone hilang...
Memang lengkap listrik mati, cuaca panas, signal hilang mau ngapain lagi setelah mandi rebahan mau tidur masih terlalu dini.
Dari luar sayup-sayup aku dengar suara ribut.
"Duarrrr" Dentuman keras...
Rumah ikut bergetar..
Ya Tuhan, apa ini...
"Nak rere....!!!! "
Aku keluar rumah.
"Iya bu, kenapa ini.. " Bu isna tetangga sebelah sudah di depan rumah.
Kulihat kobaran api di depan gang...
"Ya Tuhan, rumah Pak Roiz" Aku menganga bingung.
Bapak-bapak berlarian membawa ember..
Dan isi parit2 kering, kemarau...
Air PDAM mati..
Api terus menyala...
Aku tidak sadar meninggalkan Ibu Isna di depan rumah, lari kerumah mematikan lilin karena panik.
Ada sebagian orang pergi dengan motor menuju ke kantor pemadam sebagian mengangkut barang-barang untuk di selamatkan...
Jam 3 subuh api padam..
7 rumah yang satu deretan rumah Pak Roiz ikut hangus terbakar..
Pertolongan terlambat datang karena kesulitan komunikasi dan air untuk memadamkan api, di musim kemarau.
Beberapa orang mengungsi di beranda depan...
Menangisi harta benda yang hangus terbakar.
Lemari kayu jati ukuran besar masih di tengah jalan..
Lemari itu paling tidak diangkat 6 orang tapi malam tadi entah kekuatan apa mampu diangkat 2 orang dengan isinya.
"Bu, minum dulu" Kataku menyuguhkan air putih ke ibu umi yang ditemani ibu isna.
Rumah bu umi ikut terbakar sebagian barang penting selamat... Sebagian lagi hilang hangus jd arang terlalap api.
Suami dan anaknya arif duduk mematung di kejauhan.
Aku menitikan air mata... Begitu cepat kejadian yang terjadi akibat mati listrik.
Generator rumah pak roiz meledak...
Dan semuanya terjadi begitu cepat akibat kepanikan lilin yg tadinya ikut menerangi rumah juga ikut membakar.
Harta benda yang dikumpulkan lama lenyap dalam sekejap masih dalam gelap masih dalam kesedihan...
Dan kami terdiam meratapi bagaimana mereka yang mengalami kejadian ini menjalani dan bangkit kembali setelah ini...
Kerugian sungguh banyak...
Dan tangisan pun belum berhenti.
Dan gelap ini masih menjadi bagian nyata dari sisa terang yang menorehkan duka.
Tamat