Nadia bekerja shift malam di minimarket kecil pinggir jalan.
Jam kerjanya dari pukul sepuluh malam sampai enam pagi.
Gaji kecil.
Pelanggan aneh.
Dan kopi sachet sebagai teman hidup.
Namun ada satu hal yang membuatnya tidak pernah nyaman.
Setiap pukul dua pagi tepat…
Seorang pria selalu datang membeli air mineral.
Orang yang sama.
Pakaian sama.
Wajah pucat.
Dan selalu membayar dengan uang lama yang sudah tidak beredar.
Awalnya Nadia mengira itu pelanggan biasa.
Sampai suatu malam listrik minimarket mati.
Gelap total.
Hanya suara kulkas berdengung pelan.
Lalu terdengar suara langkah masuk.
Tok.
Tok.
Tok.
Nadia menyalakan senter ponsel.
Pria itu sudah berdiri di depan kasir.
Basah kuyup.
Padahal di luar tidak hujan.
“Air mineral satu.”
Suaranya dingin.
Nadia gemetar.
“Pak… minimarket tutup.”
Pria itu diam lama.
Lalu perlahan menunjuk rak belakang.
“Anak saya haus.”
Saat Nadia menoleh…
Ia melihat seorang anak kecil berdiri di lorong makanan ringan.
Kulitnya pucat kebiruan.
Matanya kosong.
Lampu tiba-tiba menyala kembali.
Dan mereka hilang.
Esoknya Nadia bertanya ke warga sekitar.
Seorang tukang parkir tua langsung pucat.
“Dulu ada kecelakaan di depan sini. Ayah sama anaknya meninggal.”
“Jam berapa?”
“Jam dua pagi.”
Sejak malam itu, Nadia tidak pernah lagi kerja shift malam.
Namun kadang-kadang…
Kasir baru selalu mengeluh hal yang sama.
Ada pelanggan membeli air mineral tepat pukul dua pagi.