Bab 1 – Aku Mati di Hari Pernikahan Mereka
"Jangan salahkan aku, Kak. Sejak awal, Mas Arga memang mencintaiku."
Suara perempuan itu terdengar begitu lembut, tetapi setiap katanya terasa lebih tajam daripada belati yang menusuk dadaku.
Aku berdiri mematung di depan pintu ballroom hotel mewah yang dipenuhi bunga mawar putih. Lampu kristal berkilauan di langit-langit, musik romantis mengalun, dan para tamu bertepuk tangan menyambut sepasang pengantin yang baru saja mengucapkan janji suci.
Lelaki yang kini menggenggam tangan wanita lain itu adalah suamiku.
Masih suamiku.
Namaku Nayla. Tiga tahun lalu aku menikah dengan Arga karena cinta. Aku percaya kami akan menua bersama. Aku meninggalkan pekerjaanku demi mendukung kariernya, menjual perhiasan warisan ibu untuk membantu bisnisnya saat hampir bangkrut, bahkan merawat ibunya yang sakit tanpa pernah mengeluh.
Namun, semua pengorbananku ternyata hanya menjadi batu pijakan agar ia bisa berdiri di puncak bersama perempuan lain.
Perempuan itu adalah adik tiriku sendiri.
Orang yang selama ini kupanggil keluarga.
Tangan kiriku mengepal kuat hingga kuku menusuk telapak. Dadaku sesak. Napasku terasa berat.
"Apa Kakak masih belum bisa menerima kenyataan?" tanya wanita itu sambil tersenyum manis.
Senyum yang dulu selalu kupuji.
Kini justru menjadi mimpi burukku.
Arga menatapku tanpa sedikit pun rasa bersalah.
"Nayla, berhentilah membuat keributan. Pernikahan kita sudah berakhir sejak surat cerai itu kutandatangani."
Aku tertawa lirih.
"Surat cerai yang kau paksa kutandatangani saat aku sedang menjaga ibumu di rumah sakit?"
Arga terdiam sesaat, lalu mengalihkan pandangannya.
Jawaban itu sudah cukup.
Semua tamu mulai berbisik.
"Aku dengar istri pertamanya mandul."
"Pantas saja diceraikan."
"Kasihan juga, tapi buat apa datang ke pernikahan mantan suami?"
Bisikan demi bisikan menusuk telingaku.
Tak seorang pun tahu bahwa aku sebenarnya tidak mandul.
Dokter pernah mengatakan kondisi rahimku sehat.
Yang bermasalah justru Arga.
Namun, demi menjaga harga dirinya, aku memilih diam.
Aku menanggung semua hinaan sendirian.
Betapa bodohnya aku.
Adik tiriku melangkah mendekat.
"Kak, terima kasih ya."
"Untuk apa?"
"Kalau Kakak tidak bekerja keras membangun perusahaan Mas Arga dari nol, mungkin kami tidak akan menikmati hidup semewah ini."
Kalimat itu membuat seluruh tubuhku bergetar.
Jadi selama ini...
Aku hanya dimanfaatkan?
Aku menatap wajah lelaki yang pernah menjadi seluruh duniaku.
"Arga... selama ini apa kau pernah mencintaiku?"
Hening.
Beberapa detik terasa seperti seumur hidup.
Lalu ia menjawab dengan suara dingin.
"Tidak."
Satu kata.
Hanya satu kata.
Namun cukup untuk menghancurkan seluruh hidupku.
Air mata mengalir tanpa bisa kutahan.
Aku tersenyum pahit.
Ternyata cinta yang kupertahankan mati-matian hanyalah kebohongan.
Aku berbalik meninggalkan ballroom.
Tak ada lagi alasan untuk bertahan.
Di luar, hujan turun sangat deras.
Aku berjalan tanpa tujuan. Gaun sederhana yang kupakai basah kuyup. Riasan wajahku luntur bersama air mata.
"Buummm!"
Suara klakson menggema.
Sinar lampu mobil menyilaukan mataku.
Aku menoleh.
Semuanya terlambat.
Tubuhku terpental beberapa meter sebelum menghantam aspal dengan keras.
Darah mengalir di bawah tubuhku.
Pandanganku mulai kabur.
Di kejauhan, kulihat Arga berlari keluar hotel.
Entah karena panik.
Entah hanya takut namanya tercoreng.
Aku sudah tidak peduli lagi.
Dalam hembusan napas terakhir, hanya ada satu penyesalan.
Andai...
Andai Tuhan memberiku kesempatan untuk mengulang hidup.
Aku tidak akan mencintai Arga.
Aku tidak akan mempercayai keluargaku.
Aku akan mengambil kembali semua yang telah mereka rampas.
Kesadaranku perlahan menghilang.
Gelap.
Sangat gelap.
...
"Tidak! Aku tidak akan menandatangani surat itu!"
Aku tersentak.
Napas memburu.
Tubuhku berkeringat dingin.
Aku membuka mata dan menatap sekeliling.
Ini...
Kamarku?
Bukankah aku sudah mati?
Di atas meja masih tergeletak kalender dengan tanggal yang sangat kukenal.
12 Mei. Tiga tahun yang lalu.
Tanggal sebelum semua penderitaanku dimulai.
Aku menatap kedua tanganku yang utuh tanpa luka.
Jantungku berdegup sangat kencang.
Air mata kembali mengalir.
Namun kali ini bukan karena sedih.
Melainkan karena...
Aku hidup kembali.
Senyum tipis muncul di sudut bibirku.
"Arga..."
"Terima kasih sudah mengkhianatiku."
"Karena kali ini..."
"Aku akan menghancurkanmu dengan tanganku sendiri."