Gerimis tipis mengusap jendela, membuat kamar kos berukuran tiga kali tiga meter itu terasa makin dingin dan sunyi. Di sudut ruangan, bohlam lampu yang redup bergoyang pelan ditiup angin yang menyelinap dari ventilasi. Cahayanya yang remang memanjangkan bayangan Larissa, yang duduk menekur di atas kasur tipis tanpa dipan.
Matanya terpaku pada layar ponsel yang retak itu. Angka di aplikasi perbankannya tertulis gamblang, menampar realitas mahasiswa rantau: saldonya tak cukup untuk bayar sewa bulan depan, apalagi membeli makan malam yang layak. Sejak ayahnya pergi, Ibu Yeyen berjuang sendirian di kampung. Larissa merantau dan kuliah sambil bekerja demi meringankan beban itu, namun tekanan hidup di kota besar perlahan mencekiknya. Malam itu, ditambah perut yang keroncongan, ia akhirnya terlelap dalam posisi meringkuk.
Teror dari Kampung
Suasana mendadak berubah gelap dan mencekam. Getaran ponsel membangunkannya. Nama "Ibu Yeyen" terpampang di layar. Dengan tangan gemetar, ia mengangkat panggilan itu.
"Halo, Bu?" suaranya parau.
"Larissa... kamu sehat, Nak?" Suara ibunya terdengar amat pelan, bergetar, penuh kecemasan yang tak wajar. Misteri menyelimuti sambungan itu, seolah ada ancaman yang mengintai di sana.
"Sehat, Bu. Ibu kenapa? Suara Ibu kok begitu?"
Belum sempat ibunya menjawab, hantaman keras mengguncang panggilan itu—pintu digebrak kasar. Itu Regar, adiknya yang bandel dan sering bermasalah.
"Bu! Mana uangnya?! Regar butuh sekarang buat bayar motor! Kalau nggak ada, Regar jual aja TV di depan!" bentaknya penuh amarah.
"Regar, jangan Nak! Itu uang buat makan kita sebulan!" teriak Ibu Yeyen histeris, disusul suara pecahan kaca yang memekakkan telinga.
"Regar! Jangan kurang ajar kamu sama Ibu!" Larissa berteriak sekuat tenaga, air matanya tumpah. Namun tiba-tiba sambungan terputus, menyisakan dengung panjang yang aneh.
Dua jam berlalu dalam kebisuan yang mencekam, hingga pesan singkat masuk dari nomor asing:
“Ibumu sudah tenang sekarang. Regar sudah pergi.”
Larissa menjerit histeris dalam kegelapan.
Kenyataan yang Lebih Kejam
"Ibu!!!"
Larissa tersentak bangun. Napasnya memburu, dadanya naik turun, baju penuh keringat dingin. Ia menoleh ke sekeliling—kamar kosnya masih sepi, gerimis masih mengetuk kaca jendela.
Larissa memegangi dadanya yang berdegup kencang, lalu menangis lega. Semua teror itu hanyalah mimpi buruk. Ibu dan adiknya baik-baik saja. Mimpi itu hanyalah cerminan stres dan rasa bersalahnya karena belum bisa mengirim uang pulang.
Namun, keheningan itu tak berlangsung lama. Ponsel yang tergeletak di lantai semen menyala, memecah gelap dengan notifikasi pesan bertubi-tubi. Larissa meraihnya dengan sisa tenaga, berharap itu kabar pencairan gaji dari tempat kerjanya.
Bukan. Itu rentetan foto yang dikirim teman kampusnya.
Saat ia membukanya, jantungnya serasa berhenti berdetak. Dunia yang ia pertahankan dengan sisa tenaga runtuh seketika. Foto-foto itu diambil di kafe mewah pusat kota—tempat yang tak akan pernah terjangkau dompetnya.
Di sana terlihat Bimo, satu-satunya sandaran hatinya di kota ini, sedang merangkul mesra dan mengecup kening seorang perempuan. Perempuan itu bukan orang asing: Rita, sahabat dekatnya sendiri, tempat ia selalu menumpahkan keluh kesah. Mereka tersenyum bahagia ke arah kamera, tak peduli betapa perihnya Larissa berjuang bertahan hidup.
Akhir yang Sepi
Rasa sesak yang luar biasa menghimpit dadanya. Mimpi buruk tentang keluarga baru saja usai, namun kenyataan nyata justru jauh lebih kejam.
Bimo yang berjanji menemani perjuangannya, dan Rita yang berpura-pura menjadi pendengar setia saat ia menangis soal biaya hidup, ternyata bersenang-senang di atas penderitaannya.
Larissa meletakkan ponsel perlahan di lantai semen yang dingin. Ia tak punya tenaga lagi untuk marah, melabrak, atau menjerit seperti dalam mimpinya. Di tengah himpitan ekonomi, ruang kos yang sunyi, dan malam yang kian larut, Larissa menyadari: malam ini ia kehilangan segalanya. Harapan, kepercayaan, kekasih, dan sahabat terdekatnya.
Ia kembali memeluk lutut di pojok kasur tipis. Kali ini air matanya jatuh tanpa suara, mengalir bersama sisa-sisa harapan yang hancur lebur di tanah perantauan.