Malam itu, kabut tebal menyelimuti kota tua yang sunyi. Di sebuah gang sempit yang hanya diterangi lampu jalan yang berkedip-kedip, sesosok bayangan bergerak. Dia adalah seorang detektif swasta bernama Aris, dengan mantel lusuh yang menutupi tubuhnya yang kurus. Aris mengamati pintu sebuah gudang tua yang tampak ditinggalkan, matanya yang tajam menyorotkan kecurigaan.
Beberapa jam sebelumnya, sebuah pesan anonim telah tiba di kantornya, berisi peringatan tentang "sesuatu yang gelap" yang akan terjadi di gudang itu. Tanpa pikir panjang, Aris langsung bergegas ke lokasi. Dia tahu ini adalah jebakan, tapi rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya.
Dengan hati-hati, Aris mendekati pintu gudang. Dia merasakan getaran aneh dari dalam, seperti ada sesuatu yang hidup bergerak di balik dinding kayu yang rapuh itu. Dia menarik pistolnya, lalu dengan gerakan cepat mendorong pintu hingga terbuka.
Cahaya remang-remang dari bulan yang mengintip melalui jendela yang pecah menerangi isi gudang. Di tengah ruangan, sesosok wanita berpakaian serba hitam berdiri membelakangi Aris. Rambut panjangnya yang hitam terurai menutupi wajahnya, tetapi Aris bisa merasakan tatapannya tertuju padanya.
"Siapa kau?" tanya Aris, suaranya terdengar serak karena tegang.
Wanita itu perlahan berbalik. Wajahnya pucat pasi, matanya merah menyala seperti bara api. Dia tersenyum dingin, memperlihatkan deretan gigi taring yang tajam.
"Aku adalah arwah yang haus akan balas dendam," bisiknya, suaranya terdengar seperti angin yang berdesir di antara tulang-tulang. "Dan kau, detektif, adalah mangsa terbaruku."
Sebelum Aris sempat bereaksi, wanita itu melesat ke arahnya dengan kecepatan yang mengerikan. Aris merasakan hawa dingin yang menusuk tulang saat wanita itu melintasinya, meninggalkan jejak kegelapan di belakangnya. Dia jatuh tersungkur ke lantai, merasakan energinya terkuras habis.
Saat pandangannya mulai kabur, Aris melihat wanita itu berdiri di atasnya, matanya kini bersinar dengan kemenangan. "Selamat datang di alam kegelapan, detektif," ucapnya sebelum kegelapan total menelannya.
Keesokan paginya, polisi menemukan kantor detektif Aris kosong. Hanya ada noda darah di lantai dan sebuah surat yang ditulis dengan tinta merah di atas meja: "Dia telah menemukan kebenaran yang dia cari." Misteri kematian Aris menjadi salah satu kasus dingin yang tak pernah terpecahkan di kota tua itu, menambah reputasinya sebagai tempat yang diselimuti rahasia kelam.