Ratusan tahun berputar dalam senyap, tetapi sang waktu tidak pernah sanggup mengikis ingatan Saraswati.
Terlahir kembali di era modern sebagai seorang wanita bernama Kirana, jiwa lamanya tetap utuh bersama seluruh rasa sakit, pengkhianatan, dan luka yang di ukir langsung oleh orang yang paling ia cintai.
Di dunia modern ini, Kirana mendirikan sebuah galeri seni yang tenang dan sunyi di sudut kota. Di sanalah ia menuangkan setiap jengkal memori masa lalunya ke atas kanvas.
Setiap goresan kuasnya adalah jejak sejarah yang berdarah. Bisikan di bawah bulan purnama, janji-janji suci yang telah khianati, hingga dinginnya besi yang menembus jantungnya sendiri.
Namun, dari puluhan karya yang ia ciptakan, ada satu lukisan raksasa yang selalu disembunyikan di balik tirai beludru merah. Lukisan berjudul 'Sekar Asih'.
Lukisan itu menggambarkan gemuruh air terjun tersembunyi yang diselimuti kabut tipis dan aura magis yang pekat.
Kirana tak pernah mau menjual lukisan itu, berapa pun tingginya penawaran para kolektor. Lukisan itu bukan sekadar karya seni, melainkan umpan yang ia pasang dengan sabar.
Kirana tahu, takdir tak akan berhenti bertaruh. Roda karma pasti akan membawa jiwa Kamajaya kembali padanya.
Hingga pada suatu sore yang dihiasi rinai hujan, pintu galeri berdenting halus. Seorang pria melangkah masuk. Langkahnya terdengar pelan, seperti keraguan, tapi juga keingin tahuan.
Kirana yang sedang membersihkan pigura kayu mendadak membeku. Udara di dalam galeri seolah mendadak tersedot habis.
Pria itu menyusuri ruangan tanpa bersuara, mengabaikan seorang pemandu dan terus berjalan seakan ditarik oleh kekuatan gaib yang tak terlihat, hingga langkahnya terhenti tepat di depan tirai beludru merah yang sedikit terbuka.
Tanpa izin, pria itu menyibak tirai tersebut. Matanya terkunci pada kanvas 'Sekar Asih'.
Pemandu itu hendak menghentikan tindakannya, tapi Kirana segera memberi kode untuk meninggalkan mereka berdua. Setelah pemandu itu pergi, Kirana mendekati pria itu, Tapi tetap menciptakan jarak.
"Maaf, lukisan ini tertutup untuk umum," suara Kirana terdengar tenang, meski di dalam dadanya, gelombang amarah dan kepahitan ratusan tahun mendidih seketika.
Pria itu menoleh perlahan. Wajahnya, garis rahangnya, hingga tatapan matanya. Semua persis seperti pangeran jahat yang dulu menghancurkan hidupnya.
Namun, di dalam mata itu, Kirana tak menemukan keangkuhan Kamajaya. Pria itu menatapnya dengan raut bingung dan wajah yang pucat pasi.
"Nama saya Ajisaka..." bisik pria itu, suaranya parau. Ia memegang dadanya sendiri yang berdetak tak beraturan. "Saya... saya tidak tahu kenapa, saya hanya ingin ke sini dan melihat lukisan ini. Tapi begitu melihat lukisan ini, jantung saya terasa diremas. Rasa sakitnya begitu nyata, seolah-olah saya pernah berada di tempat dalam lukisan ini. Dan saya... saya melukai seseorang."
Kirana menatap Ajisaka dalam diam. "Tentu saja kau merasa sakit, Kamajaya. Jiwa rapuhmu sedang mengenali tempat kau melakukan pengkhianatan." batinnya dingin.
"Lukisan itu tidak untuk dijual," kata Kirana teguh, melangkah mendekat,mencoba merapikan kembali lukisannya. Ia menggunakan lukisan ini untuk memancing Kamajaya mendekat, dan itu berhasil. Namun dengan ingatan kosong, akan sulit baginya.
"Saya tidak ingin membelinya," potong Ajisaka cepat, matanya kembali menatap pusaran air terjun di kanvas dengan pendar penasaran yang menyiksa. "Saya hanya ingin tahu... apakah tempat ini sungguh-sungguh ada di dunia nyata? Ataukah ini hanya imajinasi Anda?"
"Tempat ini nyata," jawab Kirana pelan, menekankan setiap kata. "Sangat nyata. Tersembunyi di pedalaman belantara yang tak tersentuh peta."
Napas Ajisaka tertahan. "Tolong... antarkan saya ke sana. Saya merasa ada sesuatu yang tertinggal di sana. Sesuatu yang seharusnya saya selesaikan."
Kirana menatap pria di hadapannya yang kini sepenuhnya lupa akan segala kejahatan masa lalunya. Ajisaka berdiri di sana tanpa ingatan, tanpa dosa yang ia sadari, namun takdir tetap menyeretnya kembali ke jerat karma.
Senyum tipis yang penuh rahasia dan kepahitan terukir di bibir Kirana.
"Baiklah," ucap Kirana. "Aku akan mengantarmu ke sana, Ajisaka."
Di balik kesepakatan itu, Kirana tahu bahwa perjalanan ini bukanlah sekadar penjelajahan nostalgia. Ini mungkin akhir dari semuanya.
Penebusan dosa akan janji yang telah dikhianati.