Malam minggu ini, gue resmi jadi manusia paling sial se-Kecamatan. Semua berawal dari keputusan bodoh gue yang nekat menembak gebetan, namanya Salsa, lewat video call. Modal gue cuma satu: nekat dan sebuah kemeja hitam yang gue pinjam dari lemari Abang gue tanpa izin.
"Salsa, jujur, gue udah lama suka sama lo. Lo mau gak jadi cewek gue?" tanya gue dengan suara didepandepankan biar terdengar jantan.
Salsa di layar HP tampak tersipu malu. Pipinya merona. "Ehm... gimana ya, Le? Jujur gue kaget banget. Tapi... kayaknya gue juga punya perasaan yang sama deh."
Jantung gue serasa mau copot dari tempatnya. Sukses! Baru saja gue mau selebrasi ala Cristiano Ronaldo, tiba-tiba pintu kamar gue didobrak dari luar. BRAK!
Abang gue masuk cuma pakai celana kolor bergambar Spongebob. Mukanya merah padam, matanya melotot kayak mau keluar. Tanpa ba-bi-bu, dia langsung meneriaki gue dengan suara menggelegar sampai tetangga sebelah pasti kebangun.
"HEI MALING KUTANG! BALIKIN KEMEJA GUE! ITU KEMEJA MAU GUE PAKAI KONDANGAN BESOK PAGI! MANA BAU KETEK LO LAGI!" teriak Abang gue sambil menarik kerah kemeja yang lagi gue pakai.
Gue panik setengah mati. HP masih dalam posisi video call dan layarnya langsung menampilkan wajah Abang gue yang lagi murka. Gue berusaha menjauhkan HP, tapi tangan Abang gue lebih cepat menyambar kerah baju gue sampai bunyinya KRETEK. Robek di bagian ketiak.
"Bang, bentar Bang! Gue lagi nelepon Salsa! Jaga harga diri gue, Bang!" bisik gue setengah menangis.
Abang gue gak peduli. Dia malah mendekatkan mukanya ke kamera HP gue. "Oh, ini si Salsa? Sal, jangan mau sama si Ale! Dia kalau tidur masih ngorok kayak mesin jahit rusak, terus tadi pagi dia boker lupa disiram! Ini baju gue juga dimaling sama dia!"
Layar HP langsung hening. Wajah Salsa yang tadinya merona merah, berubah jadi pucat, lalu sedetik kemudian dia menutup mulutnya rapat-rapat. Bahunya naik turun. Gue tahu dia bukan sedih, tapi lagi menahan tawa level dewa.
"Maaf ya, Le... kayaknya kita temenan aja dulu. Gue takut diamuk abang lo," kata Salsa lirih, lalu suara tut-tut-tut terdengar. Telepon diputus sepihak.
Gue lemas. Cinta pertama gue kandas dalam waktu tiga detik akibat perkara kemeja pinjaman dan testimoni boker belum disiram. Di depan gue, Abang gue malah asyik memeriksa kemejanya yang robek sambil mengendus-endus bagian ketiaknya.
"Tuh kan, beneran bau cuka pempek. Awas lo ya, besok cuciin sampai wangi kemangi!" ancam Abang gue sambil ngeloyor pergi membawa kemeja robek itu.
Gue cuma bisa telentang di kasur, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Malam minggu yang harusnya penuh bunga-bunga cinta, malah berubah jadi pasar kaget yang penuh kepanikan.
Tamat
------------------------------