Hari Minggu kemarin adalah puncak kegoblokan terbesar dalam sejarah hidup gue. Semua berawal dari perut gue yang mendadak mules melilit pas lagi ikutan salat tarawih berjamaah di masjid kompleks. Baru rakaat kedua, perut gue udah bunyi kruluk-kruluk kayak suara mesin jatah yang mau meledak.
Gue udah keringat dingin. Posisi gue di saf depan, persis di belakang Imam. Mau membatalkan salat dan keluar saf, jalurnya ketutup rapat sama bapak-bapak berbadan kekar di kanan-kiri gue. Mau gak mau, gue harus bertahan demi harga diri.
Pas gerakan sujud, cobaan sesungguhnya datang. Tekanan di perut bawah gue udah mencapai level maksimal. Gue menahan napas sekuat tenaga biar gak ada angin yang lolos. Saking kuatnya menahan, kaki gue sampai gemetaran.
“Allahu Akbar...” suara Imam memberi komando untuk bangkit ke posisi iktidal.
Nah, pas momen berdiri dari sujud itulah, petaka terjadi. Karena terlalu mendadak dan otot perut gue udah gak kuat menahan beban hidup, benteng pertahanan gue jebol.
“BREEET... TUT!”
Suaranya nyaring banget, menggema di speaker masjid karena posisi gue emang deket mikrofon cadangan di lantai. Suasana langsung hening seketika. Gue merem melek, pura-pura khusyuk padahal jantung gue udah mau copot.
Bapak-bapak di sebelah kanan gue langsung berdeham keras, "Ehem!" sementara bapak di sebelah kiri gue mendadak batuk-batuk kecil yang kedengaran banget kalau dia lagi menahan tawa sampai bengek.
Gue tahu gue udah batal, tapi kalau gue keluar sekarang, satu masjid bakal tahu kalau pelakunya adalah gue. Akhirnya, dengan sisa-sisa keberanian yang ada, gue memutuskan buat tetap ikut gerakan salat sampai selesai, tapi niatnya cuma olahraga doang, bukan ibadah lagi.
Begitu salam terakhir selesai, belum sempat Imam memimpin doa, bapak-bapak di sebelah kanan gue langsung menoleh ke arah gue dengan tatapan menyelidik.
"Le, kamu tadi kentut ya? Bau telor asin busuk begini," bisik si Bapak ketus.
Gue panik. Otak gue langsung muter cari kambing hitam. Tepat di depan gue, ada kipas angin berdiri yang lagi berputar ke kanan dan ke kiri.
"Bukan saya, Pak! Itu... kayaknya dinamo kipas anginnya korslet, jadi baunya agak sangit gimana gitu," jawab gue asal ceplos dengan muka sepucuk mungkin.
Mendengar jawaban gue, si Bapak malah makin melotot. Dia menarik kerah baju gue pelan sambil berbisik, "Le, bapak ini tukang servis elektronik. Dinamo korslet itu baunya bau gosong plastik, bukan bau gas beracun yang bikin mata perih gini! Jujur kamu!"
Gue gak bisa berkutik lagi. Pas gue nengok ke belakang, ternyata jamaah remaja masjid di saf belakang udah pada tiarap sambil membekap mulut mereka pakai sarung. Bahu mereka naik turun, mukanya merah padam menahan tawa sampai air mata mereka keluar. Beberapa di antaranya bahkan ada yang sampai ngesot keluar masjid gara-gara gak kuat menahan tawa yang hampir meledak.
Tanpa nunggu cipika-cipiki selesai salat, gue langsung menyambar sandal jepit gue—yang ternyata ketuker sebelah—lalu lari maraton pulang ke rumah sambil megangin pantat.
Tamat
------------------------------