Di kota kecil bernama Arunika, hujan turun selama dua tahun tanpa berhenti.
Langit selalu gelap.
Matahari menghilang.
Orang-orang mulai lupa bagaimana rasanya pagi.
Tanaman mati.
Anak-anak tumbuh tanpa pernah melihat cahaya matahari.
Sampai suatu hari datang seorang pria tua membawa koper emas.
Ia berdiri di tengah pasar dan berkata:
“Aku menjual matahari.”
Orang-orang menganggapnya gila.
Namun malam itu, seorang anak kecil membeli satu “potong matahari” dengan uang receh.
Pria tua itu memberinya bola kaca kecil bercahaya hangat.
Dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun…
Anak itu tersenyum.
Kabar menyebar cepat.
Semua orang mulai membeli cahaya.
Ada yang membeli untuk rumah.
Ada yang membeli untuk kebun.
Ada yang membeli hanya agar bisa tidur tanpa rasa dingin.
Namun semakin banyak matahari terjual…
Pria tua itu semakin pucat.
Tubuhnya perlahan berubah transparan.
Seorang gadis akhirnya bertanya:
“Kenapa Bapak terus menjualnya?”
Pria itu tersenyum lemah.
“Karena dunia terlalu lama gelap.”
“Kalau habis bagaimana?”
Pria tua memandang langit hujan.
“Kalau matahariku habis… aku juga ikut hilang.”
Dan pagi berikutnya…
Untuk pertama kalinya, hujan berhenti.
Langit terbuka.
Cahaya matahari muncul kembali.
Namun pria tua itu sudah tidak ada.
Yang tersisa hanya koper emas kosong di tengah pasar.