Di sudut ruang rawat kelas tiga yang pengap, bau obat karbol menusuk hidung. Laras duduk di kursi plastik kelabu, menatap satu-satunya alasan dia masih bertahan hidup di dunia ini: gumpalan selimut tipis yang membungkus tubuh ringkih berkulit pucat.
Andra, adiknya yang baru berusia tujuh tahun, sedang tertidur. Napas bocah itu pendek-pendek, diselingi bunyi mengorok halus yang tertahan di tenggorokan. Setiap kali dada kecil itu turun-naik, Laras ikut menahan napas. Dia takut, sangat takut, jika dalam satu kedipan mata, dada itu berhenti bergerak untuk selamanya.
Laras meraba saku celana kainnya yang sudah menipis di bagian lutut. Lembar uang lima puluh ribu rupiah yang kusut ada di sana. Dia mengeluarkan uang itu, meremasnya erat-erat di dalam kepalan tangan. Keringat dingin yang keluar dari telapak tangan perlahan membasahi kertas uang yang sudah lecek tersebut, membuat aromanya bercampur antara bau keringat keputusasaan dan kertas tua. Uang terakhirnya.
Kemarin, dokter spesialis anak yang menangani Andra bicara blak-blakan tanpa tedeng aling-aling. Biaya operasi untuk membersihkan cairan di otak Andra harus dibayar lunas besok pagi. Jika tidak, pihak rumah sakit dengan regulasi ketat mereka akan meminta Andra pulang. Pulang, bagi Andra, berarti mati di atas kasur lipat kontrakan mereka yang lembap.
"Mbak..."
Suara itu lirih sekali, nyaris tenggelam oleh deru kipas angin tua di langit-langit bangsal. Laras tersentak. Dia langsung menegakkan punggung, memaksakan sebuah senyuman yang membuat sudut matanya berkerut perih.
"Iya, Sayang? Mbak di sini. Andra haus?" Laras mengusap rambut Andra yang mulai rontok akibat obat-obatan keras.
Andra menggeleng lambat. Matanya yang cekung dan berair menatap Laras lekat-lekat. Ada binar redup di sana, seolah bocah itu sedang mengumpulkan sisa-sisa energi terakhirnya hanya untuk melihat wajah kakaknya.
"Mbak, Andra mimpi ketemu Ibu," bisik Andra. Sudut bibirnya yang kering dan pecah-pecah terangkat sedikit. "Ibu cantik banget. Pakai baju putih, terus megang tangan Andra. Ibu bilang, rumah baru kita udah siap. Nggak bocor lagi kalau hujan kayak kontrakan kita."
Dada Laras seperti dihantam godam besar. Sesak. Tenggorokannya langsung tercekat, menyisakan rasa asin yang getir. Dia menggigit bagian dalam pipinya kuat-kuat—merasakan anyir darahnya sendiri—hingga rasa sakit fisik itu mengalihkan air mata yang mendesak keluar. Dia tidak boleh menangis di depan Andra. Tidak boleh.
"Ibu cuma kangen sama Andra. Tapi Andra harus sembuh dulu di sini sama Mbak, ya? Nanti kalau Andra udah sembuh, kita beli es krim cokelat yang banyak," kata Laras, suaranya bergetar di ujung kalimat meskipun dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk menjaganya tetap datar.
Andra tidak menjawab. Bocah itu hanya menatap langit-langit kamar rawat yang berjamur. "Mbak Laras capek, ya? Gara-gara Andra, Mbak nggak pernah tidur. Mbak selalu kerja sampai malam."
"Nggak, Andra. Mbak nggak capek sama sekali. Mbak bahagia bisa ngerawat Andra." Laras menggenggam tangan kecil adiknya yang terasa sedingin es.
"Kalau Andra ikut Ibu... Mbak Laras nggak usah cari uang banyak-banyak lagi, kan?"
Pertanyaan polos itu lolos begitu saja dari belahan bibir Andra. Hening langsung menyergap. Suara bising dari jalan raya di luar rumah sakit mendadak senyap di telinga Laras. Hanya ada detak jantungnya sendiri yang berpacu liar karena ketakutan yang teramat sangat.
"Jangan ngomong gitu, Ndra. Mbak cuma punya Andra. Kalau Andra pergi, Mbak sama siapa?" Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh juga, membasahi punggung tangan Andra yang dipenuhi bekas tusukan jarum infus.
Andra menggerakkan jemarinya yang lemah, mencoba mengusap air mata di pipi kakaknya, namun tangannya terkulai sebelum sampai ke wajah Laras. "Andra sayang Mbak Laras. Andra mau tidur sebentar ya, Mbak. Ngantuk banget."
"Andra, bangun. Jangan tidur sekarang, Ndra. Ngobrol sama Mbak, yuk?" Laras mulai panik. Dia mengguncang bahu adiknya pelan.
Mata Andra perlahan terpejam menutup. Napasnya yang semula pendek-pendek berubah menjadi satu helaan napas yang panjang dan lambat. Sangat lambat. Dan setelah itu, dada kecilnya tidak pernah naik lagi. Kipas angin di langit-langit masih berputar, memutus kesunyian dengan derit konstan yang menyakitkan.
Laras terpaku dalam penyangkalan yang hebat. Dia tidak berteriak. Dia tidak memanggil dokter ataupun perawat. Otaknya menolak menerima kenyataan bahwa adiknya telah tiada. Dengan tangan bergetar, dia menyelipkan lembaran uang lima puluh ribu yang basah oleh keringatnya sendiri ke dalam jemari Andra yang sudah lunglai.
"Ndra, ini uangnya... Mbak punya uang. Kita bisa beli es krim sekarang. Bangun, Ndra..." bisik Laras, menggoyang-goyangkan tubuh kaku itu dengan lembut, berharap mukjizat tiba-tiba membuat mata adiknya terbuka lagi.
Namun, tidak ada jawaban. Kamar itu tetap sunyi secara absolut. Laras akhirnya menunduk, menempelkan dahinya ke dada Andra yang sudah dingin dan bergeming, merenungi keheningan yang kini menjadi teman seumur hidupnya.
TAMAT
-----------------------------