Matahari sore menembus ventilasi sasana yang berdebu. Di atas matras yang mulai mengelupas, Laras berlutut. Napasnya memburu, berat dan putus-putus. Anak perempuan berusia sepuluh tahun itu menatap telapak tangannya yang gemetar. Kulitnya kapalan, biru lebam di sana-sini. Di sudut ruangan, sebuah piala perak tua berdiri angkuh, memantulkan bayangan Mikel.
Mikel bukan sekadar lawan. Di dunia silat tingkat SD, dia adalah tembok raksasa. Anak itu mengenakan pelindung tubuh—body protector—yang dimodifikasi khusus. Sangat tebal, hitam, dan tampak seperti armor besi yang tidak menyisakan ruang kosong untuk diserang. Dua turnamen sebelumnya, Laras pulang dengan tangis yang diredam dalam bantal. Pada pertemuan pertama, tendangan Mikel mendarat telak di dada Laras, membuatnya sesak napas hingga wasit menghentikan laga. Pertemuan kedua lebih buruk; Laras kalah poin mutlak, babak belur, dan tulang keringnya retak karena berbenturan langsung dengan pelindung kaki Mikel yang sekeras baja.
"Laras, cukup untuk hari ini," ujar Coach Malik, suaranya parau. Lelaki tua itu berjalan mendekat dengan langkah pincang, membawa sebotol air hangat.
Laras tidak bergerak. Air matanya menetes, jatuh tepat di atas matras, menciptakan bercak basah yang pekat. "Dua kali, Coach. Laras kurang cepat apa lagi?" suaranya bergetar, menahan sesak yang menyumbat tenggorokan.
Coach Malik berlutut di depan Laras, meletakkan tangan tuanya yang kasar di bahu mungil yang kini tampak memikul beban seluruh dunia. "Mikel punya segalanya, Ras. Fasilitas, kekuatan fisik, dan pelindung yang susah ditembus. Tapi dia tidak punya satu hal yang kamu miliki."
"Apa?" Laras mendongak, matanya merah.
"Hati yang tahu caranya bangkit setelah dihancurkan," bisik Coach Malik lembut. "Besok adalah kesempatan terakhirmu di kelas dasar. Jangan bertarung untuk mengalahkan Mikel. Bertarunglah untuk membuktikan bahwa latihanmu selama lima tahun ini bukan omong kosong."
Malam itu, Laras tidak bisa tidur. Di kamar kontrakannya yang sempit, dia menatap seragam silatnya yang sudah pudar warnanya. Di sudut baju itu, ada jahitan tangan ibunya yang sudah tiada setahun lalu. Ibunya yang selalu menjahit seragam itu tiap kali robek. Ibunya yang selalu berkata, "Laras anak kuat, Laras pasti bisa." Rasa rindu dan trauma kekalahan berbaur menjadi satu, mencengkeram dadanya hingga dia harus menggigit selimut agar isak tangisnya tidak membangunkan neneknya yang sedang sakit di kamar sebelah.
Hari pertandingan tiba. GOR remaja penuh sesak. Gemuruh penonton membuat lantai kayu bergetar. Saat nama Laras dan Mikel dipanggil ke matras pertandingan final, atmosfer mendadak tegang. Mikel berjalan dengan angkuh, langkah kakinya terdengar mantap, berat oleh beban pelindung tubuhnya yang tebal. Matanya menatap Laras dengan pandangan meremehkan.
"Babak pertama, bersedia... Mulai!" teriak wasit.
Mikel langsung mengambil inisiatif serangan. Sebuah tendangan sapuan bawah yang sangat cepat memburu kaki Laras. Laras melompat menghindar, namun Mikel sudah mengantisipasinya. Sebuah pukulan lurus mendarat keras di pelindung dada Laras. Bugh! Laras terdorong ke belakang, napasnya memburu. Mikel tidak memberikan celah. Dia memburu Laras dengan kombinasi tendangan samping yang membentur lengan Laras. Rasa ngilu langsung menjalar ke seluruh tubuh Laras. Babak pertama berakhir, Laras tertinggal poin jauh.
Di sudut matras, Coach Malik mengusap keringat di wajah Laras. "Dia terlalu mengandalkan kekuatan pelindungnya, Ras. Dia tidak takut dipukul karena tahu pukulannmu tidak akan terasa. Cari celah di bawah ketiak saat dia mengangkat tangan untuk memukul. Itu titik lemahnya."
Babak kedua dimulai. Laras mencoba mengubah strategi. Dia bergerak memutar, memancing Mikel untuk menyerang duluan. Mikel yang merasa di atas angin menjadi tidak sabaran. Dia melayangkan pukulan overhead yang sangat keras. Laras merunduk, meloloskan diri dari hantaman maut itu. Tepat saat tangan Mikel terangkat, Laras melihat celah kecil di sisi rusuk yang tidak tertutup sempurna oleh body protector.
Dengan sisa tenaga dan kecepatan yang dia latih setiap malam, Laras memutar tubuhnya. Tendangan T! Kaki kanannya melesat lurus, menghantam titik lemah Mikel dengan telak.
Brak!
Mikel terbelalak. Rasa sakit yang belum pernah dia rasakan sebelumnya membuat pertahanannya goyah. Dia mundur tiga langkah, memegangi rusuknya. Penonton bersorak riuh. Skor berbalik tipis untuk keunggulan Laras. Berbekal momentum itu, Laras merangsek maju. Sebuah bantingan sempurna berhasil dia eksekusi tepat sebelum bel akhir babak ketiga berbunyi.
"Pemenang sudut merah, Laras!" Wasit mengangkat tangan Laras tinggi-tinggi.
Seketika itu juga, pertahanan emosi Laras runtuh. Dia tidak melompat kegirangan. Dia justru jatuh berlutut di atas matras, menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangan, dan menangis sejadi-jadinya. Tangisan itu bukan sekadar tangis kemenangan, melainkan pelepasan dari seluruh rasa sakit, trauma, kesepian karena kehilangan ibunya, dan lelah yang luar biasa yang dia pendam sendiri selama ini.
Coach Malik berlari masuk ke matras, langsung memeluk anak didiknya yang bertubuh kecil itu. Di bawah gemuruh tepuk tangan penonton yang merinding melihat perjuangannya, Laras berbisik lirih ke langit, "Ibu... Laras menang."
TAMAT
------------------------------