Aroma kopi hitam dan asap rokok pekat biasanya jadi latar paling bising di pos ronda belakang kampus. Namun malam ini, entah kenapa, suara jangkrik justru terdengar lebih dominan.
Gavin memutar-mutar korek api gas di tangannya. Matanya menatap kosong ke arah deretan cangkir di atas meja kayu. Biasanya, ada lima cangkir di sana. Malam ini, cuma tinggal dua. Punya dia, dan punya tumpukan memori yang mendadak terasa berat.
"Jadi, lusa lo berangkat?" Gavin memecah keheningan tanpa menoleh.
Di sebelahnya, Ian mengembuskan napas panjang. Semburan asapnya membubung, lalu hilang disapu angin malam. "Iya. Tiketnya udah dicetak bini gue. Gak bisa diundur lagi, Vin."
Gavin terkekeh pelan. Tawanya terdengar hambar. "Sialan. Berarti fix, tinggal gue sendiri yang maba abadi di sini."
"Lo bukan maba abadi, lo cuma setia sama kampus," canda Ian, mencoba mencairkan suasana. Namun tawa Ian langsung surut begitu melihat rahang Gavin yang mengeras.
Gavin menelan ludah. Tenggorokannya mendadak perih, seolah ada pasir yang menyumbat di sana. Dia ingat betul, dua tahun lalu, di meja yang sama, mereka berlima bersumpah tidak bakal berubah. Mereka janji bakal bikin kedai kopi bareng, sukses bareng, dan tua bareng-bareng di kota ini.
Tahun pertama, Rian pergi duluan. Cowok paling berisik itu tiba-tiba harus pulang ke Sumatra karena bapaknya meninggal, memaksa Rian melupakan mimpi kuliahnya demi jadi tulang punggung keluarga.
Tahun kedua, giliran Dimas dan bayang-bayang masa depannya. Dia dapat beasiswa ke Jerman. Saat perpisahan di bandara, Dimas memeluk Gavin erat banget sambil menangis, bilang kalau ini demi mengubah nasib keluarganya yang terlilit utang. Gavin melepasnya dengan senyum bangga, walau hatinya mulai merasa ada yang retak.
Bulan lalu, giliran Tio. Menikah, lalu langsung diboyong mertuanya untuk mengelola bisnis di Surabaya.
Dan malam ini, Ian. Sahabat dari zaman masih doyan bolos SMA, orang terakhir yang tersisa di barisan masa mudanya, pamit karena diterima kerja di tambang daerah pedalaman Kalimantan.
"Vin," panggil Ian lembut. Dia menepuk bahu Gavin. "Gue gak punya pilihan. Nyokap butuh biaya berobat, adik gue mau masuk kuliah. Kalau gue bertahan di kota ini cuma demi nongkrong..." Ian menggantung kalimatnya. Dia tidak tega melanjutkan.
"Gue tahu," potong Gavin cepat. Suaranya agak serak. Dia buru-buru meminum kopinya yang sudah dingin demi menyembunyikan getaran di bibirnya. "Gue tahu, Ian. Lo harus pergi. Kalian semua emang harus pergi."
Gavin menarik napas dalam-dalam, menatap langit malam yang tidak ada bintangnya.
Kenapa cuma gue yang gak bergerak? Kenapa cuma gue yang ketinggalan di sini? Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, memukulinya tanpa ampun. Dia tidak marah kepada teman-temannya. Dia tahu hidup ini realistis dan butuh uang. Dia cuma marah pada kenyataan bahwa kedewasaan ternyata sekejam ini. Kedewasaan datang bukan membawa pesta, melainkan membawa perpisahan satu per satu.
"Jangan lupain gue ya, Ian," bisik Gavin akhirnya. Pertahanan yang dia bangun seharian runtuh juga. Suaranya bergetar hebat.
Ian tertegun. Dia melihat setitik air mata lolos dari sudut mata Gavin, jatuh ke celana jinsnya yang usang. Ian tidak menjawab dengan kata-kata. Dia langsung merengkuh pundak Gavin, menarik sahabatnya itu ke dalam pelukan erat laki-laki.
"Nggak bakal, babi. Mana bisa gue lupa sama orang yang minjemin duit kosan tiap bulan," kata Ian, suaranya ikut sengau. Setetes air mata ikut jatuh di pundak Gavin.
Malam itu, di bawah lampu pos ronda yang berkedip remang-remang, Gavin sadar satu hal. Sahabat-sahabatnya tidak sedang mengkhianati janji masa lalu. Mereka cuma sedang bertarung dengan hidup masing-masing. Dan di dunia orang dewasa, jalan menuju masa depan memang tidak pernah dirancang untuk dilewati beramai-ramai.
Lusa, meja kopi ini akan benar-benar menyisakan satu cangkir. Dan Gavin harus belajar terbiasa meminum kopinya sendirian, ditemani sisa-sisa tawa mereka yang kini berubah jadi gema.
Tamat
------------------------------