Di sudut kota yang paling gelap, tepat di sebelah toko loak yang gulung tikar, berdiri sebuah kedai tanpa papan nama. Baunya bukan wangi kopi, melainkan aroma kertas tua dan hujan yang suram. Di pintunya tertulis sekeping kalimat: Hanya menerima bayaran berupa sisa umur.
Gavin adalah kurir di kedai itu. Tugasnya sederhana namun mematikan: mengantar paket berisi "kesempatan kedua" kepada manusia-manusia yang nyaris gila karena penyesalan.
Malam ini, lonceng pintu berdenting. Seorang pria tua dengan pakaian compang-camping masuk. Matanya merah, napasnya bau alkohol berat. Pria itu meletakkan sebuah arloji emas retak di atas meja konter.
"Aku mau menukar sisa umurku," bisik pria tua itu, suaranya parau. "Kembalikan aku ke malam tanggal 14 Februari dua puluh tahun lalu. Malam saat aku memilih menyetir dalam keadaan mabuk dan menabrak putri kecilku."
Gavin menatap pria itu datar. Dia sudah melihat ribuan orang seperti ini. Orang-orang yang rela mati besok pagi, asal bisa memperbaiki satu detik kesalahan di masa lalu.
Gavin mengambil arloji itu, lalu menyerahkan sebuah botol kaca kecil berisi cairan sewarna perak. "Minum ini. Anda punya waktu lima menit di masa lalu untuk mengubah keputusan Anda. Imbalannya, sepuluh tahun sisa umur Anda di dunia nyata akan terpotong saat Anda bangun."
Pria itu tidak berpikir dua kali. Dia langsung menenggak cairan itu dan ambruk tidak sadarkan diri di lantai kedai.
Saat itulah tugas Gavin dimulai. Jiwa Gavin ikut tersedot masuk ke dalam memori pria tua tersebut sebagai saksi tidak kasat mata.
Gavin berdiri di sebuah jalanan sepi yang diguyur hujan deras dua puluh tahun lalu. Di sana, dia melihat versi muda dari pria tua tadi sedang menyetir mobil dengan ugal-ugalan. Di kursi belakang, seorang anak perempuan berusia enam tahun dengan gaun merah sedang memeluk boneka beruang, tertawa tanpa tahu maut mengintai.
Pria tua yang jiwanya sudah terlempar ke dalam tubuh mudanya tiba-tiba menginjak rem dengan histeris. Mobil itu berhenti tepat satu meter di depan sebuah truk kontainer yang melaju berlawanan arah.
Selamat. Putrinya tidak jadi mati.
Gavin menghela napas, bersiap menarik jiwanya kembali ke kedai. Tugasnya selesai. Namun, tepat sebelum mantra penarik bekerja, Gavin melihat sebuah keganjilan yang mengerikan.
Pria muda itu keluar dari mobil, menangis histeris memeluk putrinya yang selamat. Karena saking bahagianya, dia tidak memperhatikan jalanan yang licin. Dari arah belakang, sebuah motor yang slip akibat jalanan basah melesat tidak terkendali, menghantam tubuh mungil si anak perempuan yang baru saja turun dari mobil.
Anak itu tetap tewas. Di tempat yang sama. Di jam yang sama. Hanya dengan cara yang berbeda.
Gavin tersentak. Jiwanya terlempar kembali ke lantai kedai. Di depannya, pria tua itu terbangun dengan rambut yang mendadak memutih seluruhnya dan wajah yang keriput parah. Sepuluh tahun umurnya telah lenyap. [1]
Pria tua itu memeriksa ponselnya, berharap takdir berubah. Namun, wallpaper ponselnya tetap menampilkan foto makam putrinya.
"Kenapa..." Pria tua itu meraung, menjambak rambutnya sendiri di atas lantai. "Aku sudah menghentikan mobilnya! Aku sudah tidak mabuk! Kenapa anakku tetap mati?!"
Gavin menatap pria itu dengan rasa iba yang teramat dalam. Dia berlutut di sebelah pria yang hancur itu, lalu berbisik pelan.
"Karena toko ini tidak pernah mengubah takdir," kata Gavin, suaranya bergetar menahan perih. "Toko ini hanya mengubah caramu menyesali sesuatu. Takdir adalah benang yang sudah digunting oleh Tuhan. Kau tidak bisa menyambungnya kembali, bahkan jika kau menukarnya dengan seluruh sisa hidupmu."
Pria tua itu tertegun. Detik berikutnya, dia menangis sejadi-jadinya, meratapi kebodohannya yang kehilangan sepuluh tahun umur hanya untuk melihat putrinya tewas untuk kedua kalinya. Dia keluar dari kedai dengan tubuh yang jauh lebih rapuh dan jiwa yang benar-benar mati.
Gavin berdiri sendirian di balik konter, menatap arloji emas milik pria tadi. Dia tahu, besok malam akan ada orang lain yang datang membawa penyesalan baru. Dan Gavin akan tetap di sini, menjadi saksi bahwa hal paling mewah di dunia ini bukanlah mesin waktu, melainkan sebuah penerimaan dan keikhlasan.
Tamat
------------------------------