Kilau di Lantai Tiga Puluh Enam
Malam di Jakarta selalu riuh, tetapi di lantai tiga puluh enam menara Ganendra, hanya ada sunyi.
Arkan Ganendra menyesap kopi hitamnya yang sudah mendingin. Tatapannya lurus menembus kaca besar yang menampilkan kerlip lampu kota. Di usianya yang baru menginjak dua puluh delapan tahun, ia sudah memegang kendali penuh atas jaringan properti terbesar di Asia Tenggara. Media menyebutnya pria tanpa celah. Namun, di balik setelan jas seharga ratusan juta yang melekat di tubuh tegapnya, ada keletihan yang enggan ia akui. Hidupnya adalah rentetan angka, rapat direksi, dan orang-orang yang selalu berkata "ya" demi mencari muka.
Ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunan Arkan.
"Masuk," ucapnya dingin, tanpa menoleh.
Pintu terbuka. Alana masuk dengan langkah ragu namun berirama, memeluk erat sebuah map kulit berwarna cokelat tua. Ia adalah sekretaris pengganti yang baru bekerja dua minggu. Rambutnya diikat rapi, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah ovalnya yang polos tanpa riasan berlebih.
"Pak Arkan, ini berkas audit proyek Labuan Bajo yang Anda minta. Saya sudah merevisi prediksi kerugian di kuartal ketiga," suara Alana terdengar halus, namun ada ketegasan di dalamnya.
Arkan membalikkan badan. Matanya yang tajam bak elang langsung mengunci pergerakan Alana. Ia berjalan mendekat, menciptakan jarak yang mengintimidasi. "Saya ingat sudah bilang tidak mau melihat angka merah lagi di laporan ini, Alana."
Alana tidak mundur. Ia justru mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata hitam pria di depannya. "Itu bukan sekadar angka merah, Pak. Itu adalah realitas lapangan yang disembunyikan tim vendor sebelumnya. Jika kita memaksakan grafik terlihat hijau sekarang, perusahaan akan kolaps dalam enam bulan. Saya tidak bisa membohongi Anda hanya demi membuat Anda senang."
Ruangan itu mendadak senyap. Belum pernah ada karyawan yang berani mendebat analisis Arkan dengan cara seberani ini.
Arkan mengambil map dari tangan Alana. Jarinya sempat bersentuhan dengan jemari Alana yang dingin. Ada sengatan asing yang membuat dada Arkan berdesir samar, namun ia segera menguasai diri. Ia membuka lembaran berkas itu, membacanya dengan saksama. Detik demi detik berlalu. Alana menahan napas, bersiap jika surat pemecatannya akan keluar malam ini juga.
Namun, Arkan justru menutup map tersebut dengan perlahan. Sudut bibirnya terangkat tipis. "Analisis yang tajam," ujar Arkan, suaranya melunak satu oktav. "Kamu baru saja menyelamatkan muka perusahaan ini, Alana."
Sejak malam itu, dinamika di antara keduanya berubah. Alana bukan lagi sekadar sekretaris yang menjadwalkan rapat. Ia menjadi satu-satunya orang yang berani menyuarakan kebenaran di depan Arkan. Di sisi lain, Arkan mulai menurunkan dinding pertahanannya. Ia kerap mengajak Alana berdiskusi hingga larut malam, memesan makanan sederhana ke ruangan kerja, dan tertawa lepas—hal yang tidak pernah Arkan lakukan selama bertahun-tahun.
Enam bulan berlalu, kedekatan mereka menumbuhkan riak yang tak kasat mata. Hingga malam perayaan ulang tahun perusahaan tiba di sebuah hotel bintang lima.
Alana tampil anggun dengan gaun satin berwarna marun. Namun, ia memilih berdiri di sudut koridor luar, menjauh dari denting gelas sampanye dan obrolan formal para konglomerat. Langkah kaki yang familier terdengar mendekat dari belakang.
"Kenapa bersembunyi di sini?" tanya Arkan. Jas hitamnya tampak semiformal tanpa dasi, membuat penampilannya malam itu terlihat jauh lebih hangat.
"Tempat ini terlalu megah untuk saya, Pak," jawab Alana pelan, menatap taman di bawah sana. "Saya hanya seorang gadis biasa yang beruntung bisa bekerja di sini. Kita berada di dunia yang berbeda."
Arkan melangkah maju, memotong jarak di antara mereka hingga Alana bisa menghirup aroma maskulin dari tubuh pria itu. Arkan meraih tangan Alana, menggenggam jemarinya yang hangat dengan lembut namun posesif.
"Dunia saya penuh dengan kepalsuan, Alana," bisik Arkan, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Alana dengan intensitas yang meruntuhkan seluruh pertahanan gadis itu. "Semua orang melihat saya karena takhta ini. Hanya kamu yang melihat saya sebagai manusia. Jika kamu merasa dunia kita berbeda, maka saya yang akan turun dan menetap di duniamu."
Jantung Alana berdegup kencang. Sudut matanya sedikit menghangat oleh ketulusan yang terpancar dari wajah pria yang biasanya tak tersentuh itu. Tidak ada lagi jarak antara bos dan bawahan, yang ada hanya dua jiwa yang saling menemukan di tengah riuhnya dunia.
Arkan menarik Alana lembut ke dalam pelukannya, mendekapnya erat di bawah langit Jakarta yang bertabur bintang. Di lantai tertinggi menara itu, Arkan tahu, pencarian hidupnya telah selesai.
TAMAT
------------------------------