Mesin bus PO Harta Mulia menderu rendah, menggetarkan kaca jendela yang buram oleh sisa hujan sore. Di kursi nomor 12, tepat di bagian tengah bus, dahi Reno sudah basah oleh keringat dingin. Tangannya mencengkeram erat besi sandaran kursi di depannya. Ibu jari kakinya ditekuk sekuat tenaga di dalam sepatu.
Satu jam lalu, semangkuk bakso mercon di terminal terasa seperti ide bagus. Sekarang, ususnya seperti diperas.
"Mas, AC-nya bisa dikecilin?" tanya bapak-bapak di sebelah Reno, membuka percakapan.
Reno tidak menoleh. Dia hanya mengangguk kaku, takut gerakan sekecil apa pun akan memicu bencana. "Aman, Pak," jawabnya singkat. Suaranya bergetar menahan gelombang mulas yang baru saja menghantam.
Bus melaju membelah jalanan antarkota yang gelap. Indikator lampu hijau di atas sopir menunjukkan waktu masih pukul delapan malam. Perjalanan menuju kota tujuan masih tersisa tiga jam lagi. Tidak ada toilet di dalam bus ekonomi ini, dan sopir baru saja mengumumkan mereka tidak akan berhenti di rest area sebelum tengah malam.
Gue cowok. Gue kuat. Cuma mules gini doang bisa ditahan, batin Reno mencoba membangun benteng mental.
Satu hantaman lubang jalan membuat bus berguncang keras. Reno spontan menegakkan punggung. Matanya melotot. Keringat dingin mengalir dari pelipis, turun ke leher, hingga membasahi kerah kaus hitamnya. Otot perut dan bawahnya dikunci rapat-rapat dalam kontraksi maksimal. Napasnya pendek-pendek, keluar hanya lewat hidung agar tidak membuang energi.
"Lampu merah depan macet total, ya!" seru kenek dari arah depan, meruntuhkan sisa-sisa pertahanan psikologis Reno.
Sorot lampu merah dari kendaraan di depan mulai memantul di kaca bus. Roda bus melambat, lalu berhenti total. Detik demi detik terasa berjalan setahun. Di dalam perut Reno, badai itu sudah berada di ujung tanduk, bergejolak, siap meledak.
Sedikit lagi. Tahan.
Namun, tubuh manusia punya batasnya sendiri. Ketika sebuah truk kontainer di sebelah bus membunyikan klakson angin dengan nyaring, Reno tersentak kaget. Refleks kejut itu merusak konsentrasi penuh yang sedari tadi dia jaga. Kuncian ototnya lepas selama sepersekian detik.
Plop. Sreeet.
Kehangatan yang pekat dan berbau tajam langsung merembes dengan cepat, memenuhi celana jeans ketatnya, lalu membasahi alas jok beludru bus.
Reno memejamkan mata rapat-rapat. Seluruh tubuhnya mendadak lemas. Di tengah kepasrahan yang mutlak itu, bapak di sebelahnya mulai mengendus udara dengan dahi berkerut.
Tamat.
------------------------------