Asap mengepul dari pikulan kayu tua di pinggir Jalan Suryakencana, Bogor. Di belakangnya, Mang Deden sibuk mengaduk bumbu kacang di dalam kuali tanah liat. Aroma gurih ketumbar dan daun salam menguar, beradu dengan bising knalpot angkot yang merayap membelah kemacetan sore.
Di atas talenan, sepotong kikil dan sebiji jeroan sapi berukuran mini berjejer pasrah. Sampingnya ada dua kerat lontong seukuran jempol orang dewasa.
"Mang, cungkring satu. Makan di sini," ucap seorang pemuda berkaus oblong, langsung duduk di bangku plastik keling.
Mang Deden tersenyum, mengangguk cepat. Tangannya yang legam bergerak lincah. Tak! Tak! Pisau dapurnya memotong kikil dan jeroan dengan presisi luar biasa. Cepat, namun hemat. Dua potong urat ukuran dadu kecil masuk ke daun pisang, disusul dua iris lontong tipis, lalu sejumput rempah kripik tempe ketumbar yang renyah. Terakhir, satu sendok sayur bumbu kacang encer disiramkan di atasnya. Bumbu itu mengalir cepat, nyaris transparan karena campuran tepung pengental.
"Dua puluh ribu, Jang," kata Mang Deden, menyodorkan pincuk daun pisang itu.
Pemuda itu menerima piringnya. Matanya berkedip dua kali, memandangi isi bungkusan yang tampak sepi di tengah lipatan daun. "Segini doang, Mang?"
"Iya, Jang. Standar porsi dari dulu," jawab Mang Deden ramah, menyeka keringat di dahi dengan handuk loak di pundaknya.
Pemuda itu menghela napas, menyuap satu-satunya potongan kikil yang langsung tandas dalam sekali kunyah. Di sudut lain, seorang pria muda memegang tongkat narsis berseru heboh ke arah kamera ponselnya. Dia adalah vlogger kuliner dengan ratusan ribu pengikut yang sengaja datang demi konten.
"Gila, Gaes! Ini dia Cungkring Mang Deden yang lagi viral di Suryakencana! Antrenya panjang banget!" seru si vlogger dengan nada bicara yang dibuat-buat seru. Dia mengarahkan kamera ke wajah Mang Deden yang tersenyum lugu, lalu memperbesar gambar porsi cungkring yang super irit itu.
Malamnya, kesempurnaan takdir internet bekerja. Video itu menembus jutaan penonton dalam hitungan jam. Jagat maya langsung meledak, namun bukan oleh pujian, melainkan oleh badai hujatan.
Mang Deden yang gagap teknologi hanya bisa memandangi layar ponsel bututnya saat sang anak membacakan kolom komentar dengan suara bergetar.
“Dua puluh ribu cuma dapat dua upil kikil sama kuah air tajin? Pemerasan berkedok kuliner lokal!” tulis akun @RasaKecewa.
“Kripik tempenya tipis banget kayak dompet akhir bulan, ketumbarnya doang yang banyak!” timpal netizen lain.
“Jangan mau beli di sini, mending beli bakso sekalian kenyang. Penjualnya mau cepat kaya!” ketik akun anonim dengan emoji amarah.
Kata-kata kasar itu mampir di kepala Mang Deden, berputar-putar seperti lalat. Dia tidak marah, tidak juga membalas. Esok paginya, dia tetap memikul dagangannya menuju Suryakencana.
Jalanan masih sama. Riuh, panas, dan menuntut. Efek viral justru membuat antrean makin mengular. Orang-orang datang karena penasaran, membeli, lalu memotret porsi cungkring itu hanya untuk bahan ejekan baru di media sosial mereka.
Mang Deden tetap melayani mereka dengan ketenangan yang ganjil. Setiap potongan jeroan yang diirisnya tidak pernah bertambah besar, kripik tempe ketumbarnya tetap berjumlah dua, dan bumbu kacangnya tidak pernah mengental oleh murni kacang. Bagi Mang Deden, takaran itu adalah angka mati yang menghidupi keluarganya, membayar kontrakan, dan menyekolahkan anaknya. Hujatan netizen tidak bisa ditukar dengan beras di pasar.
Sore itu, hujan deras khas Bogor mengguyur Suryakencana. Lapak Mang Deden sepi seketika. Di bawah emperan toko yang tutup, dia duduk memandangi sisa bumbu kacangnya yang encer. Seorang gelandangan tua berkaus koyak melintas, tubuhnya menggigil basah kuyup.
Mang Deden memanggilnya. Tanpa bicara, dia meracik satu porsi cungkring terakhirnya. Dua potong urat kecil, dua kerat lontong, dua kripik tempe, dan siraman bumbu encer. Semua dikemas rapi dalam daun pisang yang bersih.
Gelandangan itu menerima bungkusan tersebut dengan tangan gemetar. Saat suapan pertama masuk ke mulutnya, mata orang tua itu berkaca-kaca. Dia mengunyah perlahan, menikmati kenyalnya kikil yang bumbunya meresap hingga ke serat terdalam, disusul gurihnya kripik tempe ketumbar yang memecah dinginnya angin sore.
"Gimana, Pak? Kurang?" tanya Mang Deden lembut.
Orang tua itu menggeleng kuat-kuat, air matanya menetes di atas daun pisang. "Enak, Mang. Pas. Gusti Allah yang balas kebaikan Akang."
Mang Deden tersenyum lebar, kedamaian utuh merayap di dadanya. Di layar ponsel orang-orang, cungkringnya adalah lelucon dan objek cacian. Namun di bawah emperan toko sore ini, di mata seorang pria yang kelaparan, porsi kecil itu adalah penyelamat hidup yang paling mewah. Mang Deden tahu, dia tidak perlu memberi makan ego seluruh netizen di dunia, dia hanya perlu terus mengiris kikilnya dengan jujur di atas talenan tua ini.
TAMAT
------------------------------