Bab 1 : tunggu aku
------------------------------
Asap hitam mengepul dari kap mobil jip yang menabrak tiang listrik. James terbatuk, melepaskan sabuk pengaman yang menjepit dadanya. Kepalanya berdenyut hebat. Darah segar mengalir dari pelipis, menetes ke setir kemudi yang retak.
Di luar, kota sudah mati. Toko-toko jarahan terbuka lebar. Sampah dan selongsong peluru berserakan di aspal yang panas. Namun, yang membuat jantung James berdegup kencang bukanlah kehancuran itu, melainkan sebuah boneka beruang rajut mini yang menggantung di spion tengah. Boneka milik Lily, putrinya.
James meraba saku jaketnya. Foto keluarga berukuran dompet masih aman di sana. Istrinya, Elena, tersenyum lebar sambil menggendong Lily di depan gerbang Camp Hope—sebuah zona karantina militer di perbatasan utara, berjarak enam puluh kilometer dari posisinya sekarang. Dua hari lalu, telepon satelit terakhir dari Elena terputus tepat saat suara sirine pangkalan berdengung.
"Tunggu aku," bisik James, suaranya parau.
Dia menyambar ransel taktis di kursi penumpang. Isinya menipis: satu botol air mineral, dua kaleng kornet, dan sebuah kapak pembelah kayu dengan gagang fiberglass yang kokoh. James keluar dari mobil, bergerak rendah di bawah bayangan ruko.
Langkah kaki James terhenti. Udara mendadak berbau busuk daging terbakar.
Dari belokan gang, tiga sosok berjalan terseok-seok. Kulit mereka abu-abu pucat, mengelupas dengan rahang yang terus bergerak mengunyah angin. Salah satu dari mereka—seorang pria bertubuh besar dengan seragam montir yang robek—menyadari keberadaan James. Matanya yang memutih tanpa pupil langsung mengunci sasaran.
Zombi montir itu meraung, suara pekikan serak yang langsung memicu dua zombi lainnya untuk berlari.
James tidak punya peluru. Berlari di area terbuka hanya akan mengundang massa yang lebih besar. Dia memilih bertahan, mengambil posisi kuda-kuda di lorong sempit antarbangunan.
Zombi pertama menerjang. James berkelit ke kanan, memanfaatkan momentum kecepatan lawan. Kapak di tangan kanannya mengayun horizontal. Bilah baja langsung menghantam pelipis makhluk itu dengan bunyi prak yang renyah. Makhluk itu tumbang seketika, tak bergerak lagi.
Namun, zombi kedua sudah berada di depannya, menjulurkan tangan-tangan dengan kuku hitam yang siap mengoyak leher James. Saking dekatnya, James bisa mencium bau anyir dari mulut makhluk itu. Menggunakan gagang kapak, James menahan dada si zombi, lalu menendang lututnya hingga terdengar bunyi patah tulang. Makhluk itu terjatuh, dan satu hantaman kapak vertikal mengakhiri perlawanannya.
Zombi ketiga, seorang wanita muda dengan gaun malam yang hancur, melompat dari atas kap mobil rongsokan. James terlambat menghindar. Mereka berdua berguling di atas aspal. Kapak James terlempar dua meter.
Tangan zombi itu mencengkeram kerah jaket James, giginya yang berdarah berjarak hanya beberapa sentimeter dari wajahnya. James menggunakan seluruh tenaga luarnya, menahan dagu makhluk itu dengan lengan kiri, sementara tangan kanannya meraba-raba tanah, mencari batu atau apa saja.
Jarinya menyentuh pecahan pipa besi. Tanpa ragu, James menghantamkan ujung tajam pipa tersebut tepat ke bawah dagu tembus ke otak makhluk itu.
Tubuh zombi itu mendadak lemas dan ambruk di atas dada James.
James mendorong mayat itu menjauh. Dia telentang di aspal selama lima detik, dadanya naik turun memburu oksigen. Setiap otot di tubuhnya menjerit kesakitan, tetapi bayangan wajah Lily memaksa kedua kakinya untuk kembali berdiri. Dia mengambil kapaknya, mengusap darah hitam yang menempel di bilah baja ke celana jipnya.
Matahari mulai tenggelam, mengubah langit menjadi merah darah. Di ujung jalan, papan petunjuk arah usang menunjuk ke utara: Camp Hope - 58 KM.
Jalan masih panjang, penuh dengan bahaya yang siap mengoyak tubuhnya kapan saja. Namun selama jantungnya masih berdetak, James tidak akan berhenti berjalan.
------------------------------
BAB 1 BERAKHIR
------------------------------