Bab 2 : pemberhentian pertama
------------------------------
Matahari tenggelam sepenuhnya. Kegelapan menyelimuti kota, menyisakan keheningan yang mencekam. James bergerak cepat menyusuri trotoar, menempel pada dinding ruko untuk menghindari sorotan sinar bulan yang terlalu terang. Luka di pelipisnya terus berdenyut, mengalirkan rasa perih yang menjalar hingga ke rahang.
James berhenti di depan sebuah toko kelontong dengan pintu kaca yang pecah berantakan. Dia melangkah masuk dengan sangat hati-hati, memastikan sepatunya tidak menginjak pecahan kaca yang bisa menimbulkan suara.
Suasana di dalam toko sangat berantakan. Rak-rak kayu roboh. Bau susu basi dan darah kering bercampur menjadi satu, menusuk hidung. James menyalakan senter kecil yang terikat di tali ranselnya, lalu mengarahkan sinarnya ke lantai.
Sebuah botol air mineral ukuran besar tergeletak di dekat meja kasir. James berjongkok, berniat mengambilnya.
KRETEK.
Suara patahan ranting kering terdengar dari arah gudang belakang toko. James membeku. Dia mematikan senternya seketika, mengubah kegelapan menjadi pekat. Napasnya ditahan rapat-rapat. Tangan kanannya bergerak perlahan, mencengkeram erat gagang kapak fiberglass miliknya.
Dari kegelapan gudang, terdengar langkah kaki yang berat dan terseret. Namun, ada yang berbeda. Suara itu diikuti oleh isak tangis lirih seorang anak kecil dan bisikan panik seorang wanita.
"Sstt... diam, Reno. Jangan bersuara," bisik wanita itu, suaranya bergetar hebat karena ketakutan.
James mengembuskan napas perlahan. Bukan zombi. Dia kembali menyalakan senternya, mengarahkan sinarnya ke lantai—bukan ke wajah mereka—agar tidak mengejutkan kedua orang itu. Di sudut gudang, seorang wanita muda mendekap erat anak laki-laki berusia sekitar enam tahun. Pakaian mereka kotor penuh debu jalanan.
"Aku bukan salah satu dari makhluk itu," kata James dengan nada serendah mungkin, mencoba menenangkan.
Wanita itu mendongak, matanya sembap dan merah. Tangannya memegang sebilah pisau dapur kecil yang diarahkan ke James. "Pergi! Kami tidak punya makanan lagi! Jangan hantam kami!"
James menurunkan kapaknya, menyandarkannya ke dinding sebagai tanda damai. Dia meraba saku jaket, mengeluarkan satu kaleng kornet yang tersisa di ranselnya, lalu menggelindingkannya perlahan ke arah wanita itu.
"Ambil ini untuk anakmu. Aku hanya butuh air," ujar James datar, menunjuk botol mineral di dekat kasir.
Melihat kaleng makanan itu, pertahanan wanita itu runtuh. Dia menurunkan pisaunya, lalu memeluk anaknya lebih erat sambil menangis tanpa suara. "Terima kasih... nama saya Maya. Kami terjebak di sini sejak kemarin sore."
James mengambil botol air, memutar tutupnya, dan meminumnya beberapa teguk untuk membasahi tenggorokannya yang kering. "Aku James. Apa kalian tahu situasi di utara? Menuju Camp Hope?"
Mendengar nama Camp Hope, wajah Maya mendadak berubah pucat pasi. Dia menatap James dengan pandangan ngeri, seolah-olah tempat yang disebutkan James adalah sebuah kutukan.
"Jangan ke sana," kata Maya, suaranya mendadak dingin dan gemetar. "Tadi pagi, beberapa tentara yang kabur lewat depan toko ini. Mereka bilang... Camp Hope sudah jebol dari dalam. Tempat itu sudah menjadi kuburan massal."
Jantung James rasanya berhenti berdetak. Lututnya melemas, membuat dia hampir terjatuh ke lantai beton yang dingin. Bayangan Elena dan Lily seketika melintas di benaknya.
------------------------------
BAB 2 BERAKHIR
------------------------------