Bab 3 : kenapa harus disaat seperti ini
------------------------------
James mencengkeram kepalanya yang pening. Kabar tentang hancurnya Camp Hope membuat dadanya sesak. Namun, di tengah keputusasaan yang mendalam itu, sebuah sensasi mendesak tiba-tiba menyerang bagian bawah perutnya.
James mengertakkan gigi, merapatkan kedua kaki. Tegang, takut, dan terlalu banyak minum air mineral dari botol besar tadi membuat kantung kemihnya mendadak penuh dan minta segera dikosongkan.
"James? Kamu tidak apa-apa?" tanya Maya panik, melihat wajah James yang mendadak pucat dan berkeringat dingin.
"Aku... aku harus ke belakang sebentar," bisik James, suaranya bergetar menahan tekanan yang amat sangat.
Tanpa menunggu jawaban Maya, James berjalan cepat dengan langkah kaku—setengah jinjit agar tidak bocor di celana—menuju toilet umum di sudut ruko kelontong. Dia mendorong pintu kayu tripleks itu, beruntung toiletnya menggunakan kloset jongkok standar yang tidak membutuhkan siraman air elektronik.
James menyandarkan kapak fiberglass miliknya ke dinding toilet. Dengan tergesa-gesa, dia menurunkan ritsleting celananya. Begitu cairan itu keluar, James mendesah lega, memejamkan mata menikmati momen kedamaian sesaat di tengah kiamat zombi.
BRAK!
Dinding tripleks di samping James mendadak jebol. Sebuah tangan abu-abu dengan kuku berlumpur menerobos masuk, hampir mencengkeram wajah James.
James terlompat kaget. Aliran pipisnya langsung terhenti seketika karena syok. Dari balik lubang dinding, muncul kepala sesosok zombi pria tua yang tersangkut di sela-sela kayu. Mulutnya yang ompong komat-kamit mencoba menggigit udara, tepat ke arah celana James yang masih terbuka.
"Sialan! Mau buang hajat saja tidak ada sopan santunnya!" umpat James panik.
James ingin mengambil kapak, tetapi posisinya terlalu canggung. Jika dia bergerak maju, aset berharganya bisa digigit oleh zombi ompong itu. Menolak menyerah pada keadaan, James refleks mengarahkan sisa "amunisi" cairnya yang sempat tertahan tepat ke arah mata makhluk itu.
Cairan hangat itu mengenai wajah si zombi. Makhluk mati hidup itu mendadak mengerjap-ngerjap kebingungan, gerakannya melambat karena pandangannya buram tersiram air urine.
Memanfaatkan waktu dua detik yang berharga, James segera menarik ritsleting celananya ke atas dengan cepat hingga bunyi sreeet yang tajam—untung saja tidak terjepit. Dengan satu gerakan cepat, dia menyambar kapaknya yang bersandar di dinding.
KRETEK!
Bilah kapak baja James menghantam puncak kepala zombi itu dari atas, membelah tengkoraknya hingga makhluk itu terkulai lemas di lubang dinding tripleks.
James terengah-engah, menatap mayat zombi dan air yang menggenang di lantai dengan pandangan jijik. Dia buru-buru keluar dari toilet sambil membenarkan sabuk celananya yang miring. Di luar, Maya dan Reno menatapnya dengan mata terbelalak, syok mendengar keributan dari dalam toilet.
"Ada... ada zombi di dalam?" tanya Maya terbata-bata.
James berdeham, berusaha mengembalikan harga dirinya sebagai pria tangguh yang sedang mencari keluarga. Dia mengusap pelipisnya yang berdarah, lalu memanggul kapaknya dengan gaya keren.
"Sudah beres. Hanya masalah... sanitasi yang buruk," jawab James datar, meski dalam hati dia bersumpah tidak akan pernah minum air satu botol sekaligus lagi.
Ketegangan malam itu sedikit mencair, tetapi James tahu dia tidak bisa berlama-lama di sini. Kejadian di toilet membuktikan bahwa tempat ini sudah tidak aman lagi. Dia harus segera menentukan pilihan: mempercayai rumor Maya atau tetap nekat menembus jalur utara demi Elena dan Lily.
------------------------------
BAB 3 BERAKHIR
------------------------------