Bab 4 : hampir saja
------------------------------
Fajar menyingsing, memayungi kota dengan semburat warna jingga yang suram. James berjalan di depan, memanggul kapak baja miliknya, sementara Maya berjalan beberapa langkah di belakang sambil menggandeng erat tangan Reno. Mereka memutuskan untuk bergerak bersama menyusuri jalur alternatif kereta api demi menghindari kerumunan zombi di jalan raya utama.
Namun, baru dua kilometer berjalan, langkah James mendadak melambat. Tubuhnya membungkuk sedikit, dan keringat dingin sebesar biji jagung mulai bercucuran di dahi serta lehernya.
Perut James berbunyi nyaring, memancarkan gelombang protes yang sangat dahsyat dari dalam. Efek makan kornet kalengan dingin tadi malam ditambah ketegangan mental yang bertubi-tubi ternyata berujung petaka bagi pencernaannya pagi ini.
James merapatkan kedua paha, berjalan dengan langkah pendek yang sangat kaku seperti penguin.
"James? Kamu kenapa lagi?" tanya Maya, menghentikan langkahnya dengan dahi berkerut. "Luka di pelipismu kambuh?"
James menoleh perlahan, wajahnya sudah pucat pasi menahan tekanan hulu ledak di dalam perutnya. "Maya... kita harus berhenti satu menit. Aku... aku kebelet buang air besar. Sangat mendesak."
Maya langsung menepuk dahinya sendiri, membuang napas dengan embusan yang sangat kesal. Matanya terbelalak tidak percaya.
"Demi Tuhan, James! Kemarin malam kamu kebelet pipis sampai menjebol dinding toilet ruko," omel Maya, suaranya naik satu oktaf karena frustrasi namun tetap berbisik agar tidak mengundang perhatian. "Sekarang kita berada di ruang terbuka, di pinggir rel kereta, dan kamu mau buang air besar? Kamu ini mau bertahan hidup atau mau tur toilet kota?"
"Ini faktor biologis, Maya! Tidak bisa dinegosiasikan!" bisik James dengan suara bergetar menahan mulas yang makin melilit.
"Cepat cari semak-semak sana! Aku dan Reno akan berjaga di balik gerbong barang kosong itu," ketus Maya sambil memutar bola matanya, menarik tangan Reno menjauh dengan wajah yang luar biasa jengkel.
James buru-buru berlari jinjit menuju rimbunan semak belukar di dekat pembatas rel. Dia meraba saku jaketnya, mengumpat dalam hati saat menyadari dia tidak punya tisu atau kertas sama sekali. Dengan terpaksa, James memetik beberapa lembar daun lebar yang tampak aman dari ulat bulu.
Baru saja James berjongkok dan melepaskan ketegangan di perutnya, semak-semak di depannya mendadak bergerak-gerak.
KRESEK! KRESEK!
Sesosok zombi dengan seragam penjaga rel yang koyak muncul dari balik dedaunan. Leher makhluk itu miring ke kiri, dan matanya yang putih langsung melotot menatap James yang sedang berada dalam posisi paling tidak berdaya dalam sejarah umat manusia. Makhluk itu menggeram, bersiap menerjang maju.
James panik setengah mati. Dia tidak bisa berdiri begitu saja karena urusannya belum selesai. Sambil tetap mempertahankan posisi jongkoknya yang krusial, James menyambar gagang kapak di tanah dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya memegang erat celananya agar tidak makin melorot.
Zombi itu melompat maju, menjulurkan tangannya yang busuk.
Memanfaatkan momentum dari posisi jongkok, James mengayunkan kapaknya dari bawah ke atas dengan tenaga penuh. Bilah kapak menghantam rahang bawah si zombi hingga jebol, menembus ke dalam batok kepalanya. Makhluk itu langsung ambruk ke samping, tewas seketika tanpa sempat menyentuh jaket James. [1]
James terengah-engah, jantungnya berdegup kencang karena kombinasi rasa takut dan mulas yang tersisa. Dia buru-buru menyelesaikan urusannya menggunakan daun belukar, memakai celananya kembali dengan secepat kilat, lalu membenarkan sabuknya.
Dua menit kemudian, James kembali ke gerbong kereta dengan langkah yang jauh lebih ringan, meski wajahnya menanggung rasa malu yang amat sangat.
Maya menatapnya datar, menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Sudah selesai urusan besarmu, Jagoan?"
James berdeham, mencoba mengembalikan wibawanya. Dia membersihkan bilah kapaknya di rumput. "Sudah. Jalur di depan aman. Tadi ada sedikit... gangguan teknis yang sudah saya eliminasi."
Maya hanya menggeleng-gelengkan kepala, menatap James dengan tatapan pasrah sekaligus heran bagaimana pria di depannya ini bisa selamat dari kiamat zombi sejauh ini. "Ayo jalan lagi. Sebelum kamu kebelet hal aneh lainnya."
Mereka kembali melangkah, menyusuri rel kereta yang membentang panjang menuju utara. Di kejauhan, sayup-sayup mulai terdengar suara gemuruh yang aneh dari arah Camp Hope, menandakan bahwa bahaya yang sesungguhnya sudah menanti mereka di depan sana.
------------------------------
BAB 4 BERAKHIR
------------------------------