Bab 5 : akhirnya
------------------------------
Matahari siang menyengat tanpa ampun saat rel kereta api yang mereka susuri berakhir di sebuah bukit landai. Di bawah sana, pemandangan tragis membentang luas. Camp Hope—pangkalan militer yang menjadi satu-satunya harapan James—telah luluh lantak. Kawat berduri roboh, barak-barak hangus terbakar, dan ratusan zombi berjalan tanpa arah di dalam kompleks pangkalan.
James mencengkeram gagang kapaknya hingga buku jarinya memutih. Harapannya hancur berkeping-keping. Namun, pandangannya mendadak terpaku pada sebuah jip militer yang terparkir di dekat menara pengawas sektor barat, area yang relatif sepi dari kerumunan makhluk mati.
"James, lihat!" bisik Maya, menunjuk ke arah jip tersebut.
Di dalam jip, dua sosok penyintas sedang terkepung oleh lima zombi yang mencoba mendobrak kaca jendela. Jantung James berdegup kencang, dadanya sesak, dan napasnya memburu seketika saat mengenali jaket denim merah yang dikenakan salah satu orang di dalam mobil.
"Elena... Lily..." desis James, suaranya tercekat di tenggorokan.
Rasa lelah, lapar, bahkan trauma dari insiden memalukan di toilet dan semak-semak seketika menguap, digantikan oleh gelombang adrenalin yang murni. James tidak berpikir dua kali. Dia melompat turun dari bukit, berlari kencang menerjang garis pertahanan musuh.
"James, tunggu! Itu bunuh diri!" jerit Maya tertahan, namun dia terpaksa ikut berlari di belakang bersama Reno demi keselamatan mereka.
Zombi pertama berbalik mendengar langkah kaki James, tetapi bilah kapak baja sudah lebih dulu membelah rahangnya. James bergerak seperti kesurupan. Dia berkelit dari cengkeraman zombi kedua, lalu menghantamkan bagian tumpul kapaknya hingga tengkorak makhluk itu remuk.
Zombi ketiga dan keempat yang sedang mencakar pintu jip langsung ditebas di bagian leher. Makhluk kelima, seorang mantan tentara berbadan kekar yang sudah terinfeksi, menerjang James dari samping hingga mereka berdua terguling di tanah berdebu.
"James!" teriak Elena dari dalam mobil, matanya terbelalak lebar antara syok dan tidak percaya melihat suaminya yang bersimbah darah hitam mendadak muncul dari kematian.
James menahan rahang zombi tentara itu dengan lengan kirinya yang gemetar. Dengan sisa tenaga terakhirnya, James menarik pisau sangkur yang masih menempel di sabuk seragam zombi tersebut, lalu menghujamkannya berkali-kali ke pelipis makhluk itu hingga berhenti bergerak.
James bangkit dengan napas tersengal-sengal, langsung menggedor kaca mobil. "Elena! Buka pintunya!"
Pintu jip terbuka. Elena langsung menghambur keluar, memeluk erat leher James sambil menangis histeris. Di kursi belakang, Lily yang memegang boneka beruang rajut mini—pasangan dari boneka yang ada di jip James yang hancur—langsung memeluk pinggang ayahnya.
"Aku tahu kamu pasti datang," isak Elena di dada James.
Pertemuan emosional itu terasa magis, membungkam semua keraguan pembaca tentang bagaimana takdir mempertemukan mereka kembali di tengah luasnya kiamat. Naluri James sebagai seorang ayah dan suami terbayar tuntas di titik ini.
Namun, kedamaian itu hanya bertahan beberapa detik.
UWOOOOORRRRGGGGHHH!
Raungan massal yang memekakkan telinga bergema dari arah barak utama. Keributan yang dibuat James ternyata memicu alarm alami bagi ratusan zombi di dalam Camp Hope. Gelombang lautan mayat hidup berbalik arah, berlari kencang menuju posisi jip militer mereka. Jumlahnya terlalu banyak, mustahil untuk dilawan.
"Semua masuk ke mobil! Sekarang!" teriak James, mendorong Elena dan Lily kembali ke dalam. Maya dan Reno dengan cepat ikut melompat ke kursi tengah.
James melompat ke kursi kemudi, memutar kunci kontak yang masih menggantung. Mesin jip menderu hidup. Tepat saat zombi-zombi pertama menghantam kap mesin, James menginjak pedal gas sedalam-dalamnya.
Jip militer itu melesat maju, menabrak barisan kawat berduri, lalu berbelok tajam meninggalkan Camp Hope yang sudah menjadi neraka.
James melirik kaca spion tengah. Di belakang, gerombolan ratusan zombi masih terus mengejar, sementara di depan mereka, jalanan aspal membentang luas menuju perbatasan luar kota yang gelap dan tidak diketahui petanya. Camp Hope sudah hancur, dunia sudah mati, dan mereka tidak punya tempat tujuan lagi yang aman.
Namun, sambil menggenggam erat tangan Elena di sampingnya, James tahu satu hal: ke mana pun mereka pergi selanjutnya, mereka akan menghadapinya bersama.
------------------------------
TAMAT ?
------------------------------