---------------------------
Lampu jalan temaram menyorot aspal basah sisa hujan sore itu. Di sudut emperan toko grosir yang sudah tutup, Pak Marta (62) meluruskan kakinya yang bengkak. Di sampingnya, sebuah karung plastik berisi botol bekas menjadi satu-satunya harta yang tersisa. Hari ini nasibnya buruk; ia sama sekali belum mendapatkan uang untuk berbuka puasa. Perutnya sudah melilit perih sejak azan Magrib berkumandang dua jam lalu, tetapi pandangannya justru tertuju pada sebuah warung tenda di seberang jalan.
Bukan karena ia lapar, melainkan karena seorang anak perempuan berusia sekitar tujuh tahun sedang duduk sendirian di pembatas jalan. Anak itu mengenakan baju kaus yang sudah koyak di bagian bahu, memeluk lututnya yang gemetar karena hawa dingin malam Ramadan.
Pak Marta menghela napas panjang. Ia merogoh kantong kumalnya, mengeluarkan sebutir kurma sisa takjil gratis kemarin malam—satu-satunya makanan yang ia miliki. Ia memaksakan tubuh ringkihnya berdiri, berjalan perlahan mendekati anak itu.
"Ini untukmu, Nduk. Dimakan ya, buat batalin puasa," ucap Pak Marta lembut, menyodorkan kurma itu dengan tangan yang gemetar akibat tremor usia tua.
Anak perempuan itu mendongak. Matanya yang sembap berbinar melihat makanan tersebut. "Tapi, Kek... Kakek belum makan dari buka puasa tadi?" tanyanya dengan suara serak, khas anak kecil yang menahan tangis.
Pak Marta tersenyum tulus, memperlihatkan kerutan mendalam di wajahnya yang legam. "Kakek sudah kenyang, tadi dapat nasi kotak di masjid. Ini khusus buat kamu."
Bohong. Perut Pak Marta justru berbunyi lirih, namun ia menyembunyikannya dengan batuk kecil. Memandangi anak itu mengunyah kurma dengan sangat lahap adalah sebuah kemewahan yang jauh lebih mengenyangkan bagi jiwanya. Baginya, sedekah di bulan suci bukan soal nominal yang melimpah, melainkan tentang membagi detak kehidupan di saat diri sendiri berada di ujung tanduk. Rasa lapar raganya menguap, digantikan kehangatan tak kasat mata yang menjalar di dadanya.
Tiba-tiba, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti tepat di depan mereka. Kaca mobil perlahan turun, menampilkan sosok pria paruh baya berpakaian rapi yang sejak tadi memperhatikan interaksi mereka dari dalam warung seusai pulang dari salat Tarawih. Pria itu adalah pemilik jaringan toko grosir yang emperannya sering dijadikan tempat tidur oleh Pak Marta.
Pria kaya itu turun dari mobil, langkah sepatunya terdengar tegas di atas aspal. Ia berjalan mendekat, lalu tiba-tiba membungkuk dalam-dalam di hadapan Pak Marta. Air mata tampak mengambang di kelopak mata pria kaya tersebut.
"Pak... saya malu," ujar pria itu, suaranya bergetar hebat. "Saya punya segalanya, tapi sering menutup mata dari mereka yang kelaparan di bulan penuh berkah ini. Malam ini, melihat Kakek yang kekurangan namun masih bisa memberikan seluruh takjil Kakek untuk anak ini... hati saya seperti ditampar."
Pria itu langsung merogoh dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu, lalu menyodorkannya ke tangan Pak Marta. Tidak hanya itu, ia juga memegang pundak sang kakek. "Mulai besok, Kakek tidak perlu tidur di jalanan lagi. Ikut saya, bekerja menjaga gudang dan tinggal di mes yang layak. Anak ini juga akan saya urus biaya sekolahnya."
Pak Marta terpaku. Air matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya luruh membasahi pipinya yang keriput. Ia langsung bersujud di atas aspal dingin, mengucap syukur tanpa henti kepada Tuhan. Kekuatan sedekah dari sebutir kurma di saat ia sekarat, justru membukakan pintu rezeki yang mengubah seluruh sisa hidupnya pada malam Ramadan itu juga.
TAMAT
------------------------------