Malam membeku di teras rumah kontrakan petak itu. Lastri menatap satu-satunya jaket hijau atribut ojol milik almarhum suaminya, Hendra, yang masih tergantung di balik pintu. Aroma minyak wangi murah dan keringat Hendra seolah masih tertinggal di sana. Hendra yang tangguh, yang selalu pulang membawa senyum seberapa pun sepinya orderan hari itu, kini terbujur kaku di balik tanah merah akibat tabrak lari saat menarik orderan tiga hari lalu.
Polisi menutup kasus dalam waktu dua puluh empat jam dengan alasan kurang bukti dan rekaman CCTV di lokasi kejadian mati. Pelaku, seorang anak pengusaha batubara terkenal bernama Raditya, melenggang bebas setelah menyuap oknum penyidik.
Lastri tahu dia hanya seorang buruh cuci. Namun, air matanya sudah habis berganti menjadi api.
Langkah kaki Lastri menggema di koridor gedung perusahaan milik keluarga Raditya. Pakaiannya bersahaja, namun punggungnya tegak. Dia berhasil menyelinap masuk berbekal seragam petugas kebersihan yang dipinjam dari tetangganya.
Di tangannya, ada sebuah ponsel tua bersensor kamera retak. Di dalam ponsel itu, tersimpan satu-satunya bukti kuat: rekaman video amatir dari kamera dasbor seorang pengemudi mobil lain yang tidak sengaja merekam detik-detik mobil sport Raditya menghantam motor Hendra hingga terpental sepuluh meter. Sang pengemudi takut menyerahkannya ke polisi, maka dia memberikannya diam-diam kepada Lastri.
"Kamu tidak punya hak di sini. Keluar sebelum saya panggil sekuriti," desis Raditya saat Lastri berhasil menerobos masuk ke ruang kerjanya yang mewah. Raditya duduk santai, menyesap kopi tanpa rasa bersalah.
Lastri tidak gemetar. Dia melangkah mendekati meja kaca besar itu, meletakkan ponselnya, lalu menekan tombol putar.
Suara dentuman keras dan jeritan pilu Hendra memenuhi ruangan. Wajah Raditya mendadak pucat. Pria muda itu langsung berdiri, mencoba merebut ponsel tersebut, namun Lastri lebih cepat menariknya kembali.
"Nilai nyawa suami saya tidak bisa dibayar dengan uang damai yang kalian tawarkan lewat kurir kemarin," ucap Lastri. Suaranya rendah, dingin, dan bergetar oleh amarah yang tertahan. "Saya tidak butuh uangmu. Saya butuh kamu memakai baju tahanan."
Raditya tertawa meremehkan, menyembunyikan kepanikannya. "Kamu pikir hukum di negeri ini bisa bergerak hanya dengan video murahan itu? Ayahku bisa membeli sepuluh jaksa untuk membuatmu membusuk di penjara atas tuduhan pencemaran nama baik."
"Silakan coba," balas Lastri tenang. "Video ini tidak hanya ada di ponsel ini. Saat saya melangkah masuk ke gedung ini, tiga rekan ojol suami saya sudah memegang salinannya. Jika dalam satu jam saya tidak keluar dari gedung ini hidup-hidup, atau jika video ini dihapus, mereka akan menyebarkannya ke seluruh platform media sosial secara serentak."
Mata Raditya melebar. Dia baru menyadari bahwa perempuan di depannya bukan lagi seorang istri yang meratap, melainkan seorang penuntut balas yang cerdas.
"Kamu menggertak," bisik Raditya, keringat dingin mulai membasahi dahinya.
"Pukul lima sore nanti, jam pulang kantor. Lihatlah ke bawah jendela ruanganmu," kata Lastri sambil menunjuk ke arah luar.
Raditya melangkah cepat ke jendela besarnya. Di bawah sana, di jalan raya depan gedung korporatnya, ratusan jaket hijau—para rekan seprofesi Hendra sesama pengemudi ojol—sudah berkumpul memarkirkan motor mereka. Mereka berbaris rapi, diam, memegang poster wajah Hendra dengan tuntutan keadilan. Klakson mereka mulai dibunyikan secara serentak, menciptakan suara gemuruh yang menuntut pertanggungjawaban.
Tekanan publik luar biasa besar. Media massa yang mencium kejanggalan kasus ini mulai berdatangan, memicu siaran langsung di televisi nasional.
Satu bulan kemudian, ruang sidang Pengadilan Negeri dipadati oleh ratusan pengemudi ojol. Hakim mengetuk palu dengan keras, memutus Raditya bersalah atas tindakan tabrak lari dan upaya penyuapan, dengan hukuman dua belas tahun penjara tanpa remisi.
Lastri keluar dari ruang sidang disambut sorak-sorai dan tangis haru rekan-rekan ojol suaminya. Dia mendongak ke langit yang cerah, memeluk foto Hendra di dadanya dengan erat. Perjuangan itu melelahkan, tetapi keadilan akhirnya pulang ke rumah mereka.
TAMAT
------------------------------