------------------------------
Malam itu, loteng rumah tua kakek berdebu pekat. Riko, remaja empat belas tahun yang bosan dengan liburannya, mengais tumpukan kardus rongsokan. Tangannya membentur kotak kayu jati berukir ular melingkar. Saat dibuka, sepotong topeng porselen putih polos tanpa ekspresi terbaring di atas kain beludru merah. Hanya ada dua lubang mata yang gelap gulita.
Riko terpaku. Entah mengapa, permukaan topeng itu tampak berkilau halus, memantulkan cahaya lampu minyak yang temaram. Didorong rasa penasaran, dia mengangkat topeng itu. Dingin. Riko mendekatkannya ke wajah.
Plak.
Topeng itu menyedot kulit wajahnya bagai lintah. Riko terlonjak, menjerit histeris, dan mencoba mencengkeram pinggiran porselen tersebut. Jari-jarinya kaku. Benda itu melunak, menyatu, dan berdentum selaras dengan detak jantungnya. Ketika Riko berkaca pada cermin berdebu di sudut ruangan, wajahnya telah hilang. Hanya ada permukaan putih mulus tanpa hidung dan mulut, namun dia tetap bisa bernapas dan melihat.
"Riko! Turun, makan malam!" panggil ibunya dari lantai bawah.
Dengan panik, Riko menyambar jaket berpenutup kepala, menariknya dalam-dalam untuk menyembunyikan wajah, lalu turun ke ruang makan. Di meja, ibu dan adiknya sedang berbincang, namun tawa mereka mendadak rontok saat melihat Riko.
"Siapa kamu? Mau merampok, ya?!" Ibu berdiri seketika, tangannya gemetar meraih pisau dapur.
"Bu, ini aku, Riko!" Suara Riko keluar, namun terdengar ganda—suaranya sendiri yang tertindih gema parau yang dingin.
"Kak Riko tidak seseram itu! Pergi!" teriak Siska, adiknya, sambil menangis ketakutan.
Riko mundur. Dia beralih menatap cermin di ruang tamu. Di balik lubang mata topeng, matanya yang semula cokelat jernih kini menyala merah darah. Ketakutannya mendadak menguap, digantikan oleh gelombang amarah yang asing namun terasa nikmat. Mereka tidak mengenalku? Bagus. Mereka tidak penting lagi, bisik sebuah suara di dalam kepalanya. Riko berbalik lalu berlari menembus kegelapan malam.
Keesokan harinya, Riko berjalan di area taman kota. Geri dan jajaran teman sekelasnya sedang berkumpul di dekat air mancur. Riko melangkah mendekat, berharap ada satu orang yang mengenali jaket atau suaranya.
"Woi, topeng aneh, jangan dekat-dekat! Seram tahu!" Geri melempar kaleng minuman kosong, tepat mengenai dada Riko.
Teman-temannya tertawa. Dulu, Riko akan menunduk dan meminta maaf. Namun kali ini, hawa dingin menjalar dari topeng ke seluruh urat nadinya. Riko melesat maju dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Dia mencengkeram leher Geri, mengangkat tubuh remaja itu dengan satu tangan, lalu mengempaskannya ke dinding beton hingga retak.
"Sialan!" jerit teman-teman Geri yang langsung lari kocar-kacir.
Riko menatap tangannya. Kuat. Perkasa. Topeng ini memberikan kekuatan yang selama ini dia impikan. Hari-hari berikutnya berubah menjadi teror bagi kota. Riko tidak lagi bersembunyi. Dia merampas, menghancurkan toko, dan menghajar siapa saja yang berani menatapnya. Setiap kali dia berbuat jahat, topeng itu terasa semakin ringan, sementara kemanusiaannya terkikis habis. Dia menikmati ketakutan orang-orang. Dia merasa menjadi dewa.
Hingga pada suatu malam, Riko berniat membakar pasar swalayan tua di pusat kota demi kesenangan belaka. Saat dia menyalakan korek api, sesosok wanita paruh baya menghadangnya di pintu masuk. Ibunya.
Wajah wanita itu pucat, matanya sembap karena berhari-hari mencari anak sulungnya yang hilang. Ibu tidak tahu monster bertopeng di hadapannya adalah anaknya, dia hanya melihat seorang penjahat yang siap menghancurkan mata pencaharian ratusan orang.
Ibu tidak lari. Dia justru berlutut, menangis di depan Riko. "Tolong, jangan lakukan ini. Anakku hilang, dan aku tahu di luar sana pasti ada ibu lain yang menderita jika tempat ini hancur. Kuhormati hatimu, wahai anak muda, kembalilah pada keluargamu."
Riko terpaku. Suara lembut yang dulu selalu melantunkan dongeng sebelum tidur itu menembus dinding es di dadanya. Korek api di tangannya terjatuh. Pikirannya berputar hebat. Apa yang sudah kulakukan? Aku menyakiti orang-orang demi benda terkutuk ini?
Air mata Riko meleleh di dalam topeng. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia merasakan penyesalan yang teramat dalam. Rasa rindu pada kehangatan rumah, pelukan ibu, dan tawa adiknya menghantam kesadarannya. Kasih sayang ibunya yang tulus, yang tetap memikirkan kebaikan orang lain di tengah kesedihan kehilangan anak, memicu gelombang energi hangat dari dalam dada Riko.
KREK.
Topeng porselen itu bergetar hebat. Suara gaib di kepalanya menjerit kesakitan saat esensi kasih sayang dan penyesalan murni menolak keberadaan sihir gelap tersebut. Retakan demi retakan muncul di permukaan putih yang semula sempurna.
"Ibu..." Riko berbisik dengan suara aslinya yang serak.
PRANG!
Topeng misterius itu pecah berkeping-keping, luruh menjadi abu hitam yang langsung ditiup angin malam. Riko jatuh terduduk di lantai semen. Wajah aslinya kembali utuh, basah oleh air mata dan peluh.
Ibu mendongak, melihat wajah anaknya yang amat dia kenali. Tanpa memedulikan apa yang baru saja terjadi, sang ibu langsung melompat dan memeluk Riko dengan sangat erat, menyalurkan seluruh kerinduan dan rasa syukur yang mendalam. Riko membalas pelukan itu, berjanji dalam hati tidak akan pernah membiarkan kegelapan menyentuhnya lagi.
TAMAT
------------------------------