Bab 1 : njir lah 😂
------------------------------
Hantu Kamar Mandi Kosan Nomor 4
Lampu bohlam lima watt di langit-langit toilet kosan itu berkedip dua kali sebelum mati total.
Reza, yang saat itu sedang nongkrong di atas kloset jongkok sambil memegang ponsel, langsung membeku. Bau pesing yang samar mendadak digantikan oleh aroma melati yang menusuk hidung. Suhu udara turun drastis sampai-sampai napas Reza mengembun.
"Elah, token listrik habis pas gue lagi nanggung gini?" gumam Reza, mencoba berprasangka baik pada PLN.
Namun, prasangka baik itu runtuh ketika sepasang kaki tanpa tubuh—hanya sampai mata kaki—muncul dari dalam bak mandi. Kaki itu melangkah keluar, menembus ember plastik warna merah, lalu melayang naik hingga seluruh wujudnya terlihat utuh.
Itu adalah sesosok hantu laki-laki. Wajahnya pucat, kelopak matanya hitam, dan ia mengenakan jubah putih panjang yang sudah agak dekil di bagian bawahnya.
Reza menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang. Ini adalah momen pertama dalam hidupnya berhadapan langsung dengan makhluk halus. Logika dan instingnya bertarung hebat, menyuruhnya untuk segera lari atau berteriak histeris.
Hantu itu menatap Reza dengan tatapan dingin, lalu mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.
"HUAAAAAAARRRGH!!!"
Suara lengkingan hantu itu menggema di ruangan sempit berukuran dua kali dua meter tersebut. Gema suaranya begitu kencang hingga membuat kuping Reza berdenging.
Reza terdiam selama tiga detik. Ia memperhatikan hantu itu dengan saksama. Alih-alih kabur, Reza justru memajukan wajahnya, mengernyitkan alis, lalu mengendus udara.
"Bang," panggil Reza ketus. "Lu kalau mau nakutin orang, minimal sikat gigi dulu napa? Bau jigong lu fajar banget, demi dah."
Hantu itu langsung menghentikan raungannya. Kedua tangannya yang tadi diangkat tinggi kini turun perlahan. Ekspresi seram di wajahnya lenyap, digantikan oleh kerutan bingung di dahi.
"Hah? Bau banget, ya?" tanya si hantu, mendadak suaranya berubah jadi cempreng normal, kehilangan gaung mistisnya. Ia meniupkan napas ke telapak tangannya sendiri lalu menghirupnya. "Oh iya, maaf. Terakhir gue napas tahun sembilan puluhan, belum sempat kumur-kumur pakai mouthwash."
Reza menghela napas panjang, lalu meraih segulung tisu di sampingnya. "Lagian lu ngapain sih muncul di toilet? Kurang estetik banget tempatnya. Di bawah pohon beringin depan gang sana kek, biar dapat vibes horornya."
"Suka-suka gue dong! Kompleks ini kan dulunya bekas rawa tempat gue tenggelam!" si hantu tidak mau kalah, ia berkacak pinggang sambil melayang sepuluh senti di atas lantai basah. "Nama gue Rian. Hantu paling disegani di RT 03."
"Gue Reza. Mahasiswa semester akhir yang lebih takut skripsi ditolak daripada ketemu lu," sahut Reza santai sambil berdiri dan menyiram klosetnya. "Minggir, gue mau keluar. Mau beli pulsa listrik."
Rian menghalangi pintu toilet dengan melebarkan jubah putihnya. "Kagak bisa! Peraturan dunia gaib pasal satu: manusia yang lihat wujud asli hantu harus pingsan atau minimal nangis histeris. Lu belum ngelakuin dua-duanya. Sini, gue takutin lagi. Kali ini pakai mata melotot keluar, mau kagak?"
"Gak tertarik. Minggir, Rian."
"Gak mau! Hormati profesi gue sebagai hantu!"
Kesal karena jalannya dihalangi, Reza refleks mendorong dada Rian.
Anehnya, tangan Reza tidak menembus tubuh Rian seperti cerita hantu pada umumnya. Tangan Reza justru mendarat telak di dada bidang si hantu, membuat Rian terdorong ke belakang, kehilangan keseimbangan, dan Bukk!
Kepala Rian membentur tembok keramik toilet dengan keras.
"ADUH! JANGKRIK! SAKITTT!" Rian menjerit sambil memegangi bagian belakang kepalanya yang benjol. Ia terduduk di lantai, meringis kesakitan, dan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya yang hitam.
Reza melotot. Ia melihat tangannya sendiri, lalu melihat ke arah Rian yang masih sibuk mengusap kepalanya sambil sesenggukan.
"Lu... kok bisa disentuh? Terus kok bisa benjol?" tanya Reza heran. "Hantu apaan lu? Gak ada harga dirinya banget."
Rian mendongak, menatap Reza dengan tatapan tidak terima sambil sesenggukan. "Ya mana gue tahu! Sejak mati baru kali ini ada manusia yang berani menowel-nowel gue! Lagian lu dorongnya pakai emosi sih! Kulit gue kan sensitif!"
Melihat hantu yang seharusnya menyeramkan kini malah menangis tersedu-sedu di lantai toiletnya yang becek, rasa takut di diri Reza menguap sepenuhnya. Yang ada hanya rasa kasihan bercampur geli yang amat sangat.
Reza berjongkok di depan Rian, lalu menyodorkan selembar tisu kering. "Nih, lap dulu air mata lu. Malu-maluin leluhur lu aja."
Rian menerima tisu itu dengan cemberut, lalu meniup ingusnya dengan suara nyaring. Broot!
"Sekarang gini," kata Reza sambil berdiri kembali. "Listrik kamar gue mati. Lu bisa tolong nyalain gak pakai kekuatan gaib lu? Katanya hantu sakti."
Rian mendengus, lalu menjentikkan jarinya ke udara. Celek!
Seketika itu juga, lampu toilet menyala terang. Bukan cuma itu, suara mesin kulkas di kamar depan yang tadinya mati kini terdengar berdengung kembali. Token listrik yang tadinya sisa nol rupiah mendadak berubah angka menjadi 999.999 kWh di meteran luar.
Reza melongo. "Gila... lu bisa meretas token PLN?"
Rian langsung berdiri tegak, membusungkan dadanya dengan bangga, membiarkan jubah dekilnya berkibar tertiup angin entah dari mana. "Jelas. Panggil gue: Rian, sang hantu pembawa berkah. Mulai hari ini, gue mutusin buat numpang hidup di kosan lu."
Reza memijat pelipisnya yang mendadak pening. Ia tahu, hidupnya yang tenang sebagai mahasiswa kuper baru saja berakhir secara resmi malam ini.
BAB 1 - SELESAI
------------------------------