BAB SATU
Yang Tak Pernah Dipanggil Pulang
Ia selalu penasaran bagaimana rasanya memiliki tempat yang disebut rumah.
Bukan gedung. Bukan kamar. Tapi sepasang lengan yang menunggumu setelah dunia melakukan yang terburuk padanya.
Orang-orang bercerita tentang orang tua mereka seolah itu adalah kenangan yang seharusnya dimiliki semua orang. Mereka tertawa tentang hukuman masa kecil, liburan keluarga, foto-foto lama, dan kehangatan dipanggil pulang untuk makan malam.
Alana Kirana Dewandari tidak punya satupun dari itu.
---
Nama itu ia pilih sendiri, pada malam ketika usianya genap tujuh belas tahun dan ia menyadari bahwa tidak ada seorang pun yang akan memberinya nama dengan penuh harapan seperti orang tua pada anaknya. Alana—yang ia temukan dalam buku puisi usang di perpustakaan sekolah, berarti "cahaya kejayaan" dalam bahasa Sanskerta. Kirana—seberkas sinar di kala senja. Dewandari—yang ia ambil dari nama seorang bangsawan wanita dalam legenda yang dibacakan Bu Retno di kelas.
Ia menggabungkannya, seperti merakit puzzle dari potongan-potongan yang tidak pernah ditujukan untuknya.
Ia diberi tahu bahwa ia pernah memiliki orang tua. Tapi tak seorang pun bisa mengatakan ke mana mereka pergi. Mereka tidak pernah dinyatakan meninggal, tapi tak ada pula yang mengatakan mereka masih hidup. Tak pernah ada makam untuk dikunjungi, maupun alamat untuk dicari. Hanya... keheningan.
Kadang Alana bertanya-tanya apakah mereka pernah mencarinya.
Atau apakah ia hanya dilupakan.
Panti asuhan tempatnya dibesarkan bernama Rumah Pelita Harapan, terletak di pinggiran kota yang tidak cukup kota untuk disebut modern, tapi tidak cukup desa untuk disebut sunyi. Bangunan tua dengan cat kusam dan halaman yang selalu lembab karena pohon mangga besar yang menaunginya. Alana tinggal di sana sejak masih bayi—itulah yang diceritakan para pengasuh. Mereka menemukannya di depan gerbang, terbungkus kain batik lusuh, dengan selembar kertas bertuliskan tanggal lahir dan satu kata: "Maaf."
Alana menyimpan kertas itu di bawah kasurnya selama bertahun-tahun. Kata itu menjadi yang pertama dan terakhir darinya.
Larasati Purnamasari adalah teman pertamanya di panti. Gadis itu datang setahun setelah Alana, dengan rambut keriting yang selalu diikat dua dan mata yang terlalu besar untuk wajahnya yang mungil. Mereka berbagi kamar yang sama, tempat tidur yang berderit, dan mimpi yang sama tentang seseorang yang akan datang menjemput mereka.
"Menurutmu orang tuaku seperti apa?" Laras pernah bertanya suatu malam, saat hujan mengguyur atap seng dan mereka berbisik di bawah selimut.
"Entahlah," jawab Alana. "Mungkin mereka baik."
"Kalau mereka baik, kenapa mereka meninggalkanku?"
Pertanyaan itu menggantung di udara lembab, dan Alana tidak punya jawaban. Ia masih tidak punya jawaban sampai sekarang.
Laras diadopsi ketika mereka berusia dua belas tahun. Sebuah keluarga dari Jakarta datang dengan mobil bagus dan senyum lebar. Laras menangis saat pergi, tapi Alana tahu itu bukan air mata kesedihan. Itu adalah air mata seseorang yang akhirnya memiliki sesuatu untuk ditinggalkan.
Alana tetap tinggal.
Tumbuh besar, rasa iri menjadi teman diamnya. Alana iri pada anak-anak yang mengeluh tentang ibu yang terlalu ketat atau ayah yang memalukan—karena setidaknya mereka punya seseorang untuk dikeluhkan. Ia membenci dirinya sendiri karena merasa iri, tapi ia tidak bisa berhenti bertanya mengapa semua orang tampaknya memiliki tempat untuk pulang, sementara ia tidak punya tempat sama sekali.
Di sekolah, Alana belajar menyembunyikan fakta bahwa ia dari panti asuhan. Bukan karena malu—tapi karena ia lelah dengan tatapan iba, pertanyaan yang tidak tahu harus dijawab bagaimana, dan bisikan-bisikan yang mengikuti ke mana pun ia pergi.
"Anak panti, ya?"
"Kasihan."
"Orang tuanya pasti..."
Alana tidak pernah tahu bagaimana menyelesaikan kalimat-kalimat itu.