Dahulu, keluargaku bahagia. Tidak ada konflik, tidak ada keributan, tidak ada kekurangan. Keluarga lengkap yang diisi oleh Ayah, Ibu, dan aku. Hanya aku. Sebelum adik-adikku lahir ke dunia ini. Namun, mereka melupakan satu hal. Silaturahmi keluarga. Jarang mereka ikut kumpul keluarga besar. Hingga aku bingung, teman-temanku punya sedangkan aku seperti tidak punya keluarga. Mungkin, mulai dari itu aku bertanya-tanya.
Kondisi keluargaku di usiaku yang sudah mmnginjak tujuh belas tahun, kini hancur lebur. Kami diusir dari kontrakan, rumah yang selama ini mengajari aku pelajaran penting selama bertahun-tahun. Ayahku yang sudah tua, sulit mendapat pekerjaan di kota yang padat ini. Ibuku yang khawatir menjadi kehilangan arah. Tiga anak terpisah. Satu yang masih bayi dibawa. Sedangkan satu yang masih Sekolah Dasar ada padaku.
"Apa maksud semua ini? Mengapa bisa hancur sedetail ini?! Bagaimana bisa aku melewatinya? Kapan ini akan berakhir?" Teriak hatiku.
"Semua karena kamu lalai, semua karena kamu tidak bisa memberikan mereka yang terbaik. Kamu selalu membuat mereka sedih. Kau adalah sepungut sampah tidak berguna!" Omel pikiranku.
Ya, aku adalah anak pertama. Aku adalah kakak yang harus menjaga adik-adikku kelak kami dewasa nanti. Namun, tak hanya itu. Aku juga harus merawat kedua orang tuaku apabila aku mampu. "Bisa." Kataku. Aku pasti bisa melawan sejuta kemustahilan dengan satu harapan pasti.
Kini, aku berdiri. Sendirian. Menopang tas besar di kedua pundakku. Tidak satu, tapi dua sekaligus. Tas berat dan mudah pecah. Jika aku tidak bisa membawanya dengan benar, barang di dalam tas itu bisa hancur berkeping-keping. Sebaliknya, isi tas itu bisa terjaga apabila aku bisa membawanya. Kesedihan hanya tempat untuk beristirahat sejenak dari perjalananku. Setelah itu, aku kembali berjalan dengann semangat. Menempuh perjalanan yang tiada arah.
Ibu, aku kesepian. Tapi, darisana aku belajar kekuatan hati.
Ayah, aku ketakutan. Tapi, darisana aku belajar tenang.
Adik-adikku, maafkan kakakmu. Karena kakakmu ini, masih suka memberi contoh yang kurang baik.
Guru-guruku, terimakasih atas ilmu darimu. Karena kini, aku memahami sedikit demi sedikit cara dunia berkerja.
Teman-teman, terimakasih kalian sudah mengenalku. Terimakasih sudah menerima aku di lingkungan kalian. Walaupun, aku hanya merusuh.
Aku jadi merindukan seseorang yang telah lama meninggalkanku. Setelah Beliau tiada, kehancuran menggeparkan satu keluarga.
Almarhumah Nenek.
Nenek, cucumu ini masih berusaha. Menjadi cucu yang baik. Menjadi penerus yang berhasil. Namun, cucumu tidak sanggup jika harus melawan segala keresahan. Cucumu ini merindukanmu. Tapi, kita tidak bisa bertemu.
Aku rindu ketika aku masih kecil. Nenek selalu memanjakanku. Aku merindukan masakan buatan Nenek yang lezat, harum, dan penuh rempah-rempah. Aku merindukan ketika Nenek bercanda denganku. Tertawa bersama melepas penat. Nenek, aku merindukan ketika aku dimanja. Aku merindukan ketika betapa sabarnya Nenek menghadapi kelakuan nakalku.
Kini, tak ada lagi yang mau membela cucumu. Mereka semua dengan mudah menindasku. Mereka semua perhitungan denganku. Apa aku ini salah jalan, Nek? Sehingga aku harus menghadapi semua ini sendirian.
Yang aku butuhkan hanya pelukan dari seorang Nenek. Tapi, tidak mungkin aku dapatkan lagi. Aku harus bisa memeluk diriku sendiri. Mencari kegiatan lain yang bisa menyibukkan diri. Melupakan amarah yang meluap ini.