Malam di sebuah kamar nomor empat selalu terasa lebih dingin dari biasanya. Kamar kos beratap seng itu menyimpan bau kayu lapuk dan kelembapan yang menusuk. Setiap pukul tiga pagi, tanpa pernah meleset satu menit pun, suara itu selalu datang. Bukan suara langkah kaki atau bisikan, melainkan bunyi ketukan berirama dari dalam lemari jati tua yang berdiri kaku di sudut ruangan.
Tuk. Tuk. Tuk.
Awalnya, Elina mengira itu hanya ulah tikus atau ekspansi kayu yang menyusut karena perubahan suhu. Namun, malam ini ketukan itu terasa berbeda. Lebih nyaring, bergetar, seolah ada buku-buku jari yang keras dan kering sedang mengetuk permukaan kayu tebal langsung dari dalam. Elina menarik selimutnya hingga ke dagu, matanya tak mampu beralih dari pintu lemari yang sedikit renggang, menyisakan celah hitam yang pekat.
Napas Elina tertahan saat ia melihat sepasang jari pucat dengan kuku-kuku hitam yang memanjang pelan-pelan keluar dari celah tersebut. Jari-jari itu mencengkeram pinggiran kayu, lalu perlahan menarik pintu lemari hingga terbuka lebar. Di dalam lemari yang seharusnya penuh dengan deretan gantungan bajunya, kini tak ada apa-apa selain kegelapan murni yang seolah menelan cahaya remang lampu kamar.
Suara ketukan itu berhenti total, berganti dengan helaan napas berat yang memburu dan basah.
Tubuh Elina mendadak kaku, diserap rasa dingin yang mengunci seluruh ototnya. Dari kegelapan lemari, muncul sesosok tubuh dengan leher yang terlipat secara tidak alami. Matanya membelalak putih tanpa pupil, dan mulutnya menganga lebar menampilkan deretan gigi serba runcing yang menghitam. Sosok itu tidak merayap di lantai, melainkan merangkak naik ke langit-langit kamar dengan gerakan patah-patah yang mengerikan, menyusuri sudut tembok menuju tepat di atas tempat tidur Elina.
Setetes cairan dingin dan berbau amis jatuh menimpa dahi Elina. Ia berusaha berteriak, namun tenggorokannya serasa tersumbat semen. Sosok di atasnya perlahan menurunkan kepala, memutar lehernya seratus delapan puluh derajat hingga wajahnya berjarak hanya beberapa sentimeter dari mata Elina. Bau busuk bangkai langsung memenuhi paru-parunya.
Saat bibir hitam sosok itu terkuak dan berbisik dingin, "Akhirnya kau menatapku," Elina baru menyadari kesalahan fatalnya. Ketukan setiap malam itu bukanlah usaha makhluk tersebut untuk keluar, melainkan pancingan agar Elina membalas tatapannya. Dan begitu tatapan itu terikat, kamar itu bukan lagi milik Elina.