"Ibu... maafkan aku."
Husnan menatap wajah ibunya yang tertidur lelap di kursi rumah sakit. Wajah itu tampak begitu lelah. Semalaman Yuni tidak memejamkan mata demi menemani anaknya yang sakit.
Perlahan, Husnan mengeluarkan secarik kertas dari saku bajunya. Dengan tangan gemetar ia mulai menulis.
"Bu... maafkan aku. Aku pergi bukan karena tidak sayang kepada Ibu. Aku hanya tidak ingin menjadi beban lagi. Anggap saja Ibu tidak pernah punya anak sepertiku. Hasan harus tumbuh menjadi anak yang baik dan membahagiakan Ibu. Jangan menangis karena aku. Aku akan baik-baik saja."
Setelah melipat surat itu, Husnan menitipkannya kepada dokter.
"Dok, tolong berikan surat ini kepada ibu saya nanti."
Dokter mengangguk meski merasa heran.
Tanpa diketahui siapa pun, Husnan berjalan meninggalkan rumah sakit. Langkah kecilnya terasa berat, tetapi ia terus memaksakan diri. Di dalam hatinya hanya ada satu harapan, semoga setelah dirinya pergi, ibunya tidak lagi terbebani biaya hidup dan pengobatan.
Di sisi lain, Yuni terbangun ketika sinar matahari masuk melalui jendela. Ia segera mengajak Hasan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Husnan.
Namun, sesampainya di sana, ranjang itu telah kosong.
Dengan tangan gemetar, Yuni membuka surat yang diberikan dokter.
Air matanya langsung jatuh.
"Husnan... kenapa, Nak? Kenapa kamu pergi?" tangisnya pecah di lorong rumah sakit.
Ia berlari ke sana kemari memanggil nama putranya, berharap semua ini hanya mimpi.
"Husnan... pulanglah. Ibu tidak pernah menganggapmu beban."
Sayangnya, tidak ada jawaban.
Di tempat lain, Husnan berjalan seorang diri tanpa tujuan. Ia menahan tangis sambil terus mengingat wajah ibu dan adiknya.
Saat menyeberang jalan, sebuah mobil datang dari arah berlawanan. Klakson berbunyi keras.
Brak!
Tubuh kecil itu terpental ke pinggir jalan.
Pemilik mobil segera membawa Husnan kembali ke rumah sakit dan berjanji akan bertanggung jawab.
Tak seorang pun menyangka, kecelakaan itu justru menjadi awal takdir baru dalam hidup Husnan.
Sementara Yuni masih terus mencari putranya tanpa henti, Husnan perlahan membuka lembaran hidup yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.
Kadang, seseorang memilih pergi bukan karena berhenti mencintai keluarganya, tetapi karena terlalu mencintai mereka hingga rela mengorbankan dirinya sendiri.
Namun, pengorbanan yang lahir dari salah paham sering kali hanya meninggalkan penyesalan bagi orang-orang yang ditinggalkan.